G A R D A W I L W A T I K T A

Blog ini bertujuan sebagai wadah/sarana ilmu pengetahuan, sejarah, mitos, dan juga pencarian jejak-jejak peradaban peninggalan Kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Silahkan bagi yang ingin mengikuti komunitas ini kita bisa belajar bersama-sama, karena kami juga sangat minim pengetahuan, dan diharapkan kita bisa sharing berbagai informasi tentang sejarah yang ada di Nusantara ini...

Laman

4 Januari 2026

OBSERVASI JRAMBE


Observasi Jrambe 


Salam Nusantara 

Apakah kabar sobat Garda? Radite, minggu 4 Januari 2026 mengawali tahun 2026 ini kami dari Chanel tercinta ini melanjutkan video akhir tahun 2025 yang diunggah chanel Ekspedisi kota lama tentang Jejak Petirtaan dan Candi, Sobat Garda pada minggu sekitar jam 10 pagi sejumlah anggota komunitas Sendratari Kiyai Narotama yang berasal dari loring Brantas ikut dalam observasi titik titik peradaban didesa Jrambe, dari Rolak Songo inilah team Artefak Nusantara yang digawangi om Dewa Mega Angga, Mbah Godek, Mbah Kronet, istri dan anaknya, Mbah Wiro serta Adiknya Mbah Kronet meluncur ke rumah Mbah Sagi di Kauman  , disana sudah ditunggu Mbah Sagi dan istrinya, setelah makan sambil ngopi akhirnya Mbah Joyo dan Ibu Uti merapat, kemudian observasi dimulai untuk melengkapi observasi sebelumnya, titik pertama observasi adalah makam umum dusun Kauman, makam ini berada ditepi sebuah sungai, team Garda Wilwatika sempat mengunjungi makam ini tahun 2016 yang lalu, dimakam dusun ini terdapat bata bata kuno yang berukuran besar telah beralih fungsi menjadi Nisan atau sekedar ditaruh diatas Makam, memang kondisinya beda dengan tahun 2016 yang lalu, dimakam ini ada dua Makam yang dikeramatkan yaitu makam mbah Sumari dan makam Mbah Surgi , Mbah Joyo seorang warga setempat dan salah satu anggota komunitas budaya setempat mengatakan dahulu pernah ada semacam struktur bata kuno yang melingkari area yang kini sudah menjadi Makam dusun, terutama yang berada ditebing sungai, namun kondisinya sekarang sudah berubah dan struktur bata kuno tersebut sudah hilang atau tidak terlihat lagi. 

         Lokasi Makam dusun Kauman ini oleh    sebagian warga dijadikan tempat nyadran, terutama di kedua makam yang dikeramatkan tadi, tidak terdapat fragmen gerabah ataupun keramik asing di area makam ini, selanjutnya observasi bergerak ke makam yang sempat kami datangi akhir tahun 2025 yang lalu, dimakam ini ada beberapa makam sesepuh dan yang menarik ada batu Yoni dan 2 balok andhesit, ketiganya berada didalam ruangan yang ditutup pintu, wajar saja ketika team Garda tahun 2016 kesini tidak mengetahui nya karena saat itu digembok pintunya dan ternyata baru tahun 2021 warga setempat baru mengetahui kalau salah satu dari batu itu adalah sebuah Yoni setelah membalikkan batunya, demikian keterangan Mbah Joyo yang kembalikan batu yang ternyata Yoni tersebut, menurut Mbah Joyo juga ada arca Nandi disebelah Yoni itu namun tidak diketahui keberadaan nya. 
    Menurut keterangan Kepala Dusun Kauman dahulu diarea sepanjang sungai kecil disekitar Yoni banyak batu batu yang kemungkinan besar bernilai arkeologis namun dipergunakan untuk membangun jalan, pondasi dan lain lainnya, menurut keterangan Kepala Dusun saat itu daripada batu batu itu tidak bermanfaat ya dimanfaatkan kembali, demikian Mbah Joyo menceritakan. 
     Kemudian team bergerak ke Punden Mbah Kromo disebelah baratnya area Yoni, disini terdapat dua makam dan sebuah Lumpang yang berbentuk bulat, om Dewa Mega Angga dan team Sendratari Kiyai Narotama menelusuri pematang sawah di selatan Punden, jejak jejak gerabah dan keramik sangat jarang, justru yang berhasil didapatkan fragmen keramik Belanda, namun serpihan bata kuno tersebar merata di area ini, sesuai dengan catatan team Garda tahun 2016 , selanjutnya observasi bergerak menuju sebuah sumber didesa Sembersono, lokasinya berada di selatan dari Dusun Kauman, sumbersono ini kondisinya sudah dibangun, menurut catatan Belanda memang ada Sumber air di lokasi ini, namun catatan ini tidak terkait tinggalan Arkeologis. 

Demikian observasi hari ini yang ditutup dengan hujan deras, sehingga semua basah kuyup kembali ke rumah Mbah Sagi untuk makan lagi dan makan lagi, maturnuwun Mbah Sagi sekeluarga, 

Share:
Komunitas Pecinta Sejarah dan Budaya - GARDA WILWATIKTA Tado Singkalan - "Menapak Jejak, Mematri Semangat, Mengunggah dan Melestarikan Peradaban Nusantara"

Garda Wilwatikta

Labels