sengkalan bisa bermakna pecahan atau sesuatu yang memisah, tetapi bisa juga berasal dari kata sengkolo yang berarti halangan.
11 Juli 2025
JEJAK PERADABAN DI SINGKALAN
sengkalan bisa bermakna pecahan atau sesuatu yang memisah, tetapi bisa juga berasal dari kata sengkolo yang berarti halangan.
13 Desember 2020
Misteri Goa Jabaran
5 Maret 2020
SENTONO PROJO JEJAK PERADABAN KUNO
Punden Sentono Projo begitu warga dusun Sonosari menyebutnya, dusun Sonosari masuk wilayah desa Seketi Kecamatan Balongbendo Kabupaten Sidoarjo. Punden ini menurut penuturan Bapak Bambang Ketua RW setempat dulunya sangat wingit dengan lokasi dikelilingi rerimbunan bambu dan semak belukar yang lebat, cukup membuat nyali orang ciut untuk memasukinya.
Menurut penuturan Bapak Bambang beliau bersama Ustad Bari dan beberapa orang melakukan pembersihan di punden ini sehingga suasananya tidak sewingit dulu, Punden Sentono Projo ini terdapat sebuah pohon Kepuh yang cukup besar juga ada beberapa pohon lainnya, dibawah pohon Kepuh terdapat tumpukan pecahan bata kuno dengan ukuran besar, salah satunya berukuran 36 x 21 centimeter dengan ketebalan 7 sampai 9 centimeter.
Beberapa waktu yang lalu sebelum acara Festival Kampung Bambu digelar kami bersama Mas Ferry Aries Tya Sekretaris Desa Seketi sempat melakukan observasi kecil dibawah pohon Kepuh terutama dibawah akar - akarnya yang besar, dalam observasi tersebut Mochammad Azreil mencoba membersihkan tanah disela - sela akar pohon tersebut terlihat tumpukan bata kuno yang menyerupai struktur bangunan.
Mas Ferry segera mendokumentasikan struktur ini demikian pula kami, menurut dugaan awal kami dibawah pohon Kepuh tersebut ada sebuah struktur bangunan kuno, sebelumnya mas Ferry juga menemukan beberapa bata kuno yang dibentuk pola disalah satu sisinya .
Demi keamanan kami menutup kembali struktur bata dibawah akar tersebut sambil menunggu koordinasi pemerintah desa setempat tentang temuan di Punden Sentono Projo tersebut. Nama Sentono Projo sendiri bila diartikan berhubungan dengan nama elemen dalam tatanan kerajaan zaman dulu, bila dilihat dari lokasinya punden ini cukup berdekatan dengan titik - titik peradaban yang ada didesa lain seperti Watesari, Prambon, Suwaluh, Tropodo yang bisa dikatakan saling terkait satu dengan lainnya sehingga bisa disebut sebagai satu kawasan besar situs kuno yang tergelar sejak era Kahuripan.
Dari era Kahuripan dilanjutkan era Jenggala yang pusat pemerintahannya diduga kuat berada di kabupaten Sidoarjo terutama disekitar kecamatan Prambon, Krian , sebagian Tarik dan Balongbendo lalu bersambung hingga era Majapahit yang didirikan tak jauh dari desa Seketi yaitu di Alas Trik didesa Kedungbocok sekarang.
Kini sampel bata kuno dari Punden Sentono Projo disimpan di Etalase Artefak dibalai desa Seketi bersama artefak yang ditemukan di Situs Guo , semoga saja akan ada upaya serius dari pihak yang terkait dalam penyelamatan jejak peradaban di Punden Sentono Projo khususnya dan situs - situs lainnya.
31 Agustus 2018
Situs Watesari dalam khasanah Jejak Peradaban Kuno
9 Juni 2018
Pecahan Terakota di Sungai Klinter
Tidak lazim memang, sebuah sungai kecil atau warga menyebutnya Patusan di Dusun Klinter Kedung Bocok Kecamatan Tarik ini ditemukan banyak sekali artefak peninggalan purbakala, bahkan ketika menginjakan kaki di sungai itu terasa kita tidak menginjak tanah atau lumpur tetapi menginjak pecahan bata, gerabah, tembikar bahkan terakota.
20 Mei 2018
15 Maret 2018
Upaya Pembuktian Hipotesa melalui Uji Geo Listrik
18 Februari 2018
UMPAK YANG DIDUGA DARI ZAMAN AWAL MOJOPAHIT DISELAMATKAN

23 Januari 2018
25 November 2017
Kenapa Banyak Bata Kuno di Makam-makam?
Respati, Kamis Pahing November 2017. Setelah hampir 3 bulan lebih Komunitas Pecinta Sejarah dan Budaya Garda Wilwatikta akhirnya melakukan penelusuran Jejak Peradaban kembali, ya.. memang waktu dalam 3 bulan itu kita disibukkan dengan berbagai kegiatan lintas komunitas yang tergabung dalam 6 Komunitas di Sidoarjo yang bersama-sama bergotong-royong menggiatkan Pelestarian Sejarah dan Budaya.
Dari Pemakaman Umum Karang Wungu ini, perjalanan kami lanjutkan ke arah timur. Di tengah persawahan kami melihat setidaknya ada tiga tempat yang ada pohonnya. Ketiga tempat itu kemungkinan ada punden di daerah Karang Wungu, kerena jalan harus melewati galengan yang baru dibuat oleh petani kami memutuskan untuk tidak masuk ke sana karena tidak enak kalau galengan yang baru dibuat itu rusak karena kami lewati.
Selanjutnya kami terus menyusuri jalanan yang berada di tepi selatan Sungai Mangetan melewati Jrebeng, Bakalan, Dangsal, Tempel, Watugolong hingga ke selatan menuju Sidorono Bareng Krajan untuk menemui Senior kami yaitu Mas Agus Mulyono yang biasa kami sebut Mbah Mulo.
4 Juli 2017
Jejak Peradaban Ciro Kulon Part 2
![]() |
| bata lengkung khas sumur kuno |
![]() |
| galian sumuran pak Sariali di tengah sawah |
![]() |
| persiapan mbah Singo sebelum penggalian |
![]() |
| ritual dari mbah Singo |
![]() |
| mulai penggalian |
![]() |
| proses penggalian |
![]() |
| menyedot genangan air dengan mesin diesel |
![]() |
| Mbah Singo (kiri), Tri Kisnowo Hadi (kanan) |
![]() |
| penggalian dalam sumur |
![]() |
| kedalaman sumur |
![]() |
| Sumantri (kiri), Agus Subandriyo (kanan) |
Selanjutnya kami dari komunitas Garda Wilwatikta menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya pada mas Tri Kisnowo Hadi dan kawan-kawan dari Watesrowo, mas Sumantri, pak Singo dan seluruh pihak yang terkait. Tiada yang berat bila dipikul bersama-sama, tiada gading yang tak retak. maafkan bila ada tutur kata kami yang tidak pantas... Salam Nusantara..







































