G A R D A W I L W A T I K T A

Blog ini bertujuan sebagai wadah/sarana ilmu pengetahuan, sejarah, mitos, dan juga pencarian jejak-jejak peradaban peninggalan Kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Silahkan bagi yang ingin mengikuti komunitas ini kita bisa belajar bersama-sama, karena kami juga sangat minim pengetahuan, dan diharapkan kita bisa sharing berbagai informasi tentang sejarah yang ada di Nusantara ini...

Laman

Tampilkan postingan dengan label Balongbendo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Balongbendo. Tampilkan semua postingan

11 Juli 2025

JEJAK PERADABAN DI SINGKALAN

   Secara administratif Dusun Singkalan terletak di Desa Singkalan Kecamatan Balongbendo Kabupaten Sidoarjo. Pertama kita akan mencoba untuk mencari makna dari nama Singkalan. Ada 2 versi, versi pertama menurut informasi yang berkembang sebenarnya nama singkalan berasal dari kata singkal, yang artinya alat pertanian yang terbuat dari besi yang biasanya ditarik oleh 2 ekor sapi atau kerbau. Nah, dari versi pertama tersebut muncul sebuah kesimpulan bahwa di tempat ini adalah tempat pertanian, dan sampai sekarang di Dusun Singkalan masih banyak lahan lahan pertanian. Versi yang kedua yang menyebutkan bahwa nama singkalan berasal dari kata sengkalan,
sengkalan bisa bermakna pecahan atau sesuatu yang memisah, tetapi bisa juga berasal dari kata sengkolo yang berarti halangan.

   Di sini kita akan bahas versi yang pertama, mengingat kemungkinan sejak dahulu kala Singkalan merupakan lahan pertanian yang amat subur, tentunya hanya sedikit jejak peradaban yang ada di Dusun ini.


   Dari informasi warga dan penelusuran kami, jejak peradaban tersebut hanya terdapat di sekitar pemakaman umum Dusun Singkalan. Di dalam pemakaman tersebut terdapat sebuah punden yang disebut warga sebagai Punden Krapyak. Terdapat sebuah makam di punden tersebut yang disebut sebagai Mbah Buyut Soro, di sebelah utara punden terdapat bata-bata kuno yang beralih fungsi menjadi nisan, juga sebelah timur yang posisinya agak menjorok ke timur, terdapat beberapa makam yang terdapat bata-bata kuno yang dijadikan nisan maupun pembatas makam.



   Menurut informasi dan penelusuran kami bahwa ada semacam pemukiman kecil di pemakaman Singkalan. Selain itu di sebelah utara dekat pesisir Sungai Mas ada sebuah makam kuno puthuk dan sebuah punden yang disebut Punden Gebang. Kemungkinan 2 tempat tersebut adalah tempat terdekat dari Sungai Mas (mungkin semacam tambatan kapal atau perahu). 

      Disebelah Timur makam Singkalan yaitu di tanah milik warga yang bernama Jumadi pernah digali tanahnya untuk dijual sebagai tanah uruk, penggalian dilakukan cukup dalam hingga mencapai kedalaman 4 meter, ketika menggali dikedalaman 4.5 meter ditemukan bata bata kuno yang berukuran besar, semakin digali makin terlihat jelas ada struktur pondasi yang berorientasi barat daya  , struktur pondasi yang ditemukan sejajar dengan perkiraan ukuran lebar pondasi 1 meter jarak antara struktur diperkirakan 8 meter dengan panjang belum diketahui karena penggalian hanya ditanah milik Pak Jumadi saja diperkirakan panjangnya struktur itu sangat panjang, mungkin saja ini adalah kanal menurut penuturan Pak Jumadi arah sepasang struktur pondasi ini mengarah ke barat daya yaitu ke arah Punden Doro yang ada di dusun Tado. 
       Penulis berspekulasi Struktur yang diduga Kanal ini mungkin berasal dan menyambung dari Dukuh Pulolancing desa Kedung Sukodani yang tahun 2015 pernah diobservasi Garda Wilwatikta ( lihat Observasi Dugaan Situs Dukuh), jika benar dugaan Struktur kanal ini mengarah ke Punden Doro di Tado bisa pula sambung sampai sungai Mangetan, tentu saja ini sekedar dugaan saja namun jika itu benar mungkin saja jauh sebelum Majapahit sudah ada peradaban besar dikawasan ini. 
    Menurut Seorang Sejarawan sekaligus Peneliti dari Artefak Nusantara yaitu mas Dewangga Mega dari Tuban dalam Podcast yang digelar di YouTube Garda Wilwatikta tentang I Tda Beliau menduga kemungkinan Singkal yang dimaksudkan adalah salah satu bentuk Jangkar Kapal atau Perahu, karena menurutnya Bentuk Jangkar itu bermacam macam, dan terbuat dari logam bahkan dari batu Andhesit, mungkin saja yang ditemukan di Singkalan itu adalah Jangkar Kapal yang dipergunakan untuk mengaduk tanah pertanian yang biasa disebut Singkal, dari sinilah nama Singkalan berasal. 
        

   Beberapa bulan yang lalu area makam puthuk digali sekitar kedalaman 30 cm tetapi belum menemukan struktur bangunan, diduga penggaliannya kurang dalam. Tanah-tanah tersebut diambil oleh truk untuk dijual sebagai tanah uruk.

   Hanya itulah yang bisa kami smapaikan dari Dusun Singkalan tersebut, mohon maaf bila banyak hal yang belum kami ketahui tentang jejak peradaban di Dusun ini, terimakasih...
Share:

1 Januari 2019

Tata Pemerintahan yang aneh dan legenda Pencarian Air Liur Naga di desa Suwaluh.

              Ketika sore hari empat orang Pecinta dan pemerhati Sejarah mendatangi rumahnya Bapak Kades Suwaluh H. Mochammad Heru Sulthon yang berada ditepi jalan Raya Mojokerto Surabaya sebelah Utara , mereka adalah Sigit Hariadi, Burhan Fatahilah, Ikhwan Darmo dan Aris Kusbiyanto . Ketika itu menjelang Maghrib Abah Heru begitu nama Kades biasa disebut mempersilakan keempat tamunya , mereka pun masuk diruang tamu , Ikhwan Darmo salah seorang yang berusia paling matang memulai pembicaraan tentang kemungkinan izin dari Kades Suwaluh untuk pembukaan sebuah tempat yang diduga sebuah Situs peninggalan Purba yaitu Situs Pelawangan .
         Setelah terjadi proses pembicaraan tentang latar belakang dan alasan mengapa Situs tersebut harus dibuka, Abah Heru pada intinya menyambut baik keinginan keempat Pecinta dan pemerhati Sejarah , namun Beliau akan mengkomunikasikan dengan pihak - pihak terkait dalam hal ini seperti para pemilik tanah dan perangkat Desa secara keseluruhan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan , pada kesempatan ini Sigit Hariadi sedikit menceritakan tentang kisah Situs Pelawangan dan beberapa kegiatan sebelum nya dengan yang dilakukan dengan sejumlah tokoh .
             Sejak saat itu dilakukan pertemuan- pertemuan intensif baik itu di rumahnya Abah Heru atau di Balai desa Suwaluh , sekitar awal bulan Februari 2014 mereka amat inten melakukan pertemuan tersebut sampai akhirnya dicapai kesepakatan bahwa pembukaan Situs Pelawangan akan digunakan tanggal 14 Februari 2014 . Dari sering nya pertemuan dengan Kades maupun perangkat Desa lainnya ditemui keanehan - keanehan , misalnya dalam tata Pemerintahan desa Suwaluh terdapat dua  dusun , yaitu dusun Pelawangan Utara ( Suwaluh Utara ) yang Kasun nya ibu Yuli dan dusun Pelawangan selatan ( Suwaluh Selatan ) dengan Kasun nya bapak Mulyono , dari sini masyarakat Suwaluh secara turun-temurun menyebut dua tempat yang lebat dengan pepohonan ditengah persawahan desa adalah Pelawangan , yang sebelah Utara disebut Pelawangan lor dan yang Selatan Pelawangan kidul . Menurut legenda setempat konon dikedua tempat ini dihuni Naga atau Ular raksasa , di Pelawangan lor menurut warga ada sebuah sumur yang terdiri dari susunan bata kuno melingkar disebut sumur Lanang sementara di Pelawangan kidul ada sumur yang berbentuk kotak disebut sumur Wadon , bisa disimpulkan dari bentuk kedua sumur tersebut mengisyaratkan kalau Naga yang menghuni Pelawangan lor adalah Naga laki- laki atau Lanang sementara di Pelawangan kidul adalah Naga perempuan atau Wadon .
         Justru yang aneh kedua Kasun tersebut malah menjadi pamong di kedua tempat yang tidak berpenghuni alias hanya persawahan belaka ! Ketika ditanya tentang hal itu Bapak Mulyono tidak dapat menjawab nya karena kenyataannya kedua tempat itu tidak ada warga yang tinggal di sana demikian pula Ibu Yuli juga tidak bisa menjawab nya , lantas dengan nada bercanda Abah Heru berkata ," Berarti pak Mulyono punya warga demit ?". Mereka semua senyum - senyum dan merasa heran kenapa semua itu bisa terjadi .
         Dari keterangan warga kalau bata- bata kuno di Pelawangan lor telah diambil warga untuk pondasi beberapa rumah, untuk Pelawangan kidul relatif masih utuh karena warga takut memasuki nya karena banyaknya cerita dan kejadian- kejadian menyeramkan di sana, terutama tentang mitos Naga , lantas kenapa di Pelawangan lor warga berani mengambil bata -bata kunonya ? Hal ini terjadi mungkin karena kesalahan penempatan Kasun nya ... Seharusnya di Pelawangan kidul Kasun nya perempuan bukan laki-laki demikian pula  sebaliknya , demikian penjelasan Sigit Hariadi .
           Pembukaan Situs Pelawangan diawali dengan Tumpengan pada hari Respati Kamis Kliwon 13 Februari 2014 di Balai Desa bersama warga dan di situs Pelawangan kidul , entah kebetulan atau tidak setelah seluruh anggota team keluar dari situs beberapa menit kemudian terdengar berita kalau gunung Kelud meletus mengeluarkan abu bahkan di desa Suwaluh malam itu juga , jadi sebagai pengingat kapan pembukaan Situs Pelawangan yang izin resmi nya memakai nama BALASATYA WETAN LAKON JAGAD ( yayasan Jagad Wetan ) adalah waktu gunung Kelud meletus yaitu 14 Februari 2014.
              Setelah hampir tiga Bulan eskavasi telah sampai pada pembukaan tanah didepan kepala Sang Naga , pemuda dan warga mulai turun membantu proses tersebut , hingga akhirnya kisah yang sempat terlupakan kembali teringat yaitu dahulu kalau banyak spiritualis dari sekitar desa Suwaluh berlomba-lomba mencari ILER NOGO atau air liur Naga , bagaimana kisahnya?
         Dahulu bila ada warga yang sakit keras dan sulit untuk disembuhkan maka mereka akan mencari air liur Naga , itu berdasarkan petunjuk dari para spiritualis yang prihatin karena banyak warga yang sakit , entah ada atau belum yang menemukan ILER NOGO tadi sampai sekarang belum ada yang tahu pasti .
        Menurut legenda yang berkembang dulu terdapat patung Naga yang besar di Pelawangan kidul , dari mulut nya patung itu keluar air , mungkin dari sana lah legenda ILER NOGO itu berasal tetapi ada pula informasi lain kalau air yang dimaksudkan ILER NOGO itu berasal dari delapan mata air yang berbeda biasa disebut air yang berasal dari sumur Windu .
        Menurut hasil uji test di laboratorium Petrokimia Gresik air dari sumur Wadon Pelawangan kidul PHnya cukup baik yaitu 7 , warnanya cukup bening , baunya tidak banger tetapi terlalu banyak mengandung zat besi , mungkin hal itu karena lama tidak dikuras dan dibersihkan .
        Tentang air yang disebut ILER NOGO tadi kami berkesimpulan tidak jauh dari hasil laboratorium diatas bahkan mungkin jauh lebih baik dari pada air sumur Wadon karena berasal dari delapan sumber mata air yang berbeda , tentu kandungan - kandungan mineral nya lebih banyak dan lebih kaya nutrisi nya berguna bagi siapa saja yang meminum nya , termasuk kemungkinan bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti legenda diatas , tetapi semua itu perlu pengujian dan penelitian lebih lanjut ... Sehingga bisa dipertanggungjawabkan secara medis dan ilmiah ..

Juli 2014.

Terimakasih ...

Sumber Buku Mengais Jejak Bumi Kahuripan .
               

Share:

31 Agustus 2018

Situs Watesari dalam khasanah Jejak Peradaban Kuno


     Jejak peradaban purba kembali ditemukan dikawasan Balongbendo, kali ini ditemukan di Desa Watesari tepatnya berada di punden Mbah Sukirman yang terletak di tengah lahan tebu. Temuan tersebut diawali dengan adanya kerja bhakti warga setempat di punden tersebut dengan tujuan membuat jalan ke punden, hal ini dilakukan karena selama ini jalannya tidak rata dan sulit dilewati sepeda motor.

   Ketika kerja bhakti dilakukan oleh warga dengan menggali tanah di timur makam mereka menemukan struktur pondasi bata yang membujur dari utara ke selatan demikian penuturan Suliyono seorang warga, sebelumnya juga ditemukan sebuah sumur kuno di barat makam.

     Atas temuan ini warga melaporkannya pada kepala desa Watesari Bapak Sukisno. Dan atas kesepakatan antara pemerintah desa dan warga, diadakan kembali kerja bhakti untuk memastikan sejauh mana temuan tersebut. Setelah melakukan kerja bhakti di punden Mbah Sukirman ditemukan beberapa artefak lainnya, seperti koin kuno asing, pecahan tembikar dan gerabah. Semua temuan itu untuk sementara ini dikumpulkan di salah satu sudut makam.

     Atas saran dari petinggi Siswahyono mereka menghubungi Laskar Nusantara untuk dimintai pendapat tentang temuan tersebut. Setelah diadakan beberapa pertemuan dengan Laskar Nusantara akhirnya Kepala Desa Watesari bapak Sukisno mengirim surat laporan atas temuan dugaan situs kepada dinas terkait di kabupaten Sidoarjo pada tanggal 23 Agustus 2018.

     Kemudian pada tanggal 25 Agustus 2018 hari Sabtu, pemerintah Desa Watesari mengundang media cetak, elektronik dan televisi untuk meliput temuan di punden Mbah Sukirman. Prof. Amien Widodo dari ITS Surabaya menyempatkan diri untuk hadir diacara tersebut sambil melakukan survey di beberapa titik dugaan situs di Desa Watesari.

     Menurut Pak Amien ini kemungkinan pihak ITS akan melakukan pengujian Geo-listrik dan Geo-radar bulan September mendatang untuk membantu melakukan penelusuran persebaran peradaban di Desa Watesari ini.


     Temuan di Desa Watesari ini bukanlah temuan tunggal baik di Desa Watesari sendiri ataupun di kawasan desa-desa sekitarnya. Di Desa Watesari sendiri setidaknya sudah diketahui 15 titik lebih terdapat sumur kuno yang rata-rata berbentuk bulat dan beberapa diantaranya masih terlihat dengan jelas.

     Disamping itu jejak peradaban juga terdapat di punden Mbah Waru, punden Krapyak dan di pemakaman Umum Watesari dan beberapa titik di Dusun Jatisari. Demikian pula beberapa artefak dari batu andesit juga ditemukan dari beberapa titik berupa umpak, balok andesit, lumpang dan lain sebagainya yang sebagian telah diamankan di Balai Desa Watesari.

     Desa Watesari terletak di sebelah timur Desa Suwaluh yang beberapa tahun yang silam diketahui terdapat beberapa situs disana, salah satunya adalah situs Pelawangan yang cakupannya cukup luas. Juga sebelah utara Desa Watesari terdapat Desa Jabaran yang juga ditemukan jejak peradaban disana. Demikian pula di sebelah timur terdapat Desa Seketi terdapat pula jejak peradabannya hingga ke Desa Tropodo Kecamatan Krian dimana disana tepatnya di Dusun Klagen terdapat Prasasti Kamalagian (prasasti era Airlangga). Desa Watesari juga dekat pula dengan Desa Kraton dan Desa Bakalan Wringinpitu, sehingga bila disimpulkan kemungkinan Desa Watesari termasuk dalam sebuah kawasan pemukiman padat kuno yang bisa saja itu adalah sebuah pusat keramaian atau kota dimasa lalu. Namun tentu saja hal itu baru dugaan awal saja yang perlu adanya penelitian dan pembuktian lebih lanjut.

     Demikianlah yang bisa kami tuliskan pada kesempatan ini, kurang lebihnya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Salam Nusantaraaa ...

Share:

23 Januari 2018

Senandung Malam Sang Peradaban


   Hujan rintik-rintik telah turun sejak petang, hawa dingin menyebar ke segala penjuru alam, angin lembut datang silih berganti seakan mengabarkan berganti-ganti zaman. Suasana di Balai Desa itu cukup ramai karena adanya sosialisasi sebuah kegiatan yang rutin digelar secara berkala di Negeri ini.
Share:

25 November 2017

Kenapa Banyak Bata Kuno di Makam-makam?


       Respati, Kamis Pahing November 2017. Setelah hampir 3 bulan lebih Komunitas Pecinta Sejarah dan Budaya Garda Wilwatikta akhirnya melakukan penelusuran Jejak Peradaban kembali, ya.. memang waktu dalam 3 bulan itu kita disibukkan dengan berbagai kegiatan lintas komunitas yang tergabung dalam 6 Komunitas di Sidoarjo yang bersama-sama bergotong-royong menggiatkan Pelestarian Sejarah dan Budaya.

Seperti biasa kami berangkat dari Tado sebelum jam 08.00 WIB menuju arah timur menyusuri jalan di tepian sungai Mangetan untuk menelusuri tempat-tempat yang belum sempat kami datangi. Memasuki tempat dimana Lumpang Buyut Tatu yang berada di Dusun Karang Wungu kami berbelok ke kiri memasuki jalanan yang berpaving, lalu berbelok ke kanan menyusuri jalan yang di samping kirinya ada persawahan. Tak jauh dari sana kami berhenti di sebuah Pemakaman Umum yang berada di kanan jalan.



Tanpa banyak kata kami bertiga segera berpencar mencari-cari keberadaan bata kuno di Pemakaman Dusun Karang Wungu itu. Memang tidak banyak yang kami temui, hanya ada beberapa saja bata kuno yang telah beralih fungsi menjadi Nisan. Kebetulan di pemakaman tersebut ada dua orang yang sedang membersihkan makam, salah satu diantaranya memberi info kalau bata-bata kuno di pemakaman ini hanya sedikit, tetapi menurut bapak yang usianya sekitar 60an ini dulu banyak bata kuno terutama di pemakaman kuno yang letaknya di barat pemakaman umum ini. Sementara itu Mas Eko Finda Jayanto bertanya pada bapak yang usianya lebih muda tentang bata kuno, bapak ini menjawab kalau dulu sekali di pemakaman ini khususnya di bagian timur, banyak sekali bata kunonya kalau melakukan penggalian. Dari dialog dengan kedua bapak tersebut dapat kami simpulkan kalau dulu di area pemakaman umum Karang Wungu dan sekitarnya ada bekas peradabannya.



       Dari Pemakaman Umum Karang Wungu ini, perjalanan kami lanjutkan ke arah timur. Di tengah persawahan kami melihat setidaknya ada tiga tempat yang ada pohonnya. Ketiga tempat itu kemungkinan ada punden di daerah Karang Wungu, kerena jalan harus melewati galengan yang baru dibuat oleh petani kami memutuskan untuk tidak masuk ke sana karena tidak enak kalau galengan yang baru dibuat itu rusak karena kami lewati.

Perjalananpun kami lanjutkan membelah dusun Plumpang dan Kedungsari lalu berbelok ke utara menuju arah pasar Surungan. Di tengah perjalanan tersebut kami berhenti karena penasaran ada sebuah gumukan di kiri jalan.


Akhirnya kami pun menuju gumukan tersebut mencari-cari kemungkinan adanya jejak seperti bata kuno atau pecahan gerabah, namun tidak kami temukan. Mungkin tertimbun di dalam tanah atau memang sudah hilang. Dari adanya akses jalan yang hendak dibangun, kemungkinan gumukan ini adalah sebuah punden desa.



Dari gumukan tadi kami menuju Pemakaman Umum desa Penambangan yang berada di utara Balai Desa Penambangan. Memasuki area pemmakaman, kami sudah disuguhi bata-bata kuno yang beralih fungsi menjadi Nisan atau bahkan menjadi alas jalan.



Dalam penelusuran kami di Pemakaman Umum Desa Penambangan ini kami menduga pernah ada sebuah pemukiman di sekitar tempat ini, kami juga berdialog dengan seorang warga yang sedang membersihkan makam tentang asal-muasal bata kuno yang banyak ditemukan disini. Menurut Bapak yang kebetulan kami temui itu, kalau ada warga yang meninggal dunia biasanya akan ada penggalian untuk liang kubur, nah dari penggalian itulah ditemukannya bata-bata kuno itu, yang kemudian dinaikan ke atas dan dibuat Nisan atau sekedar ditata di atasnya. Kebanyakan bata-bata tersebut ditemukan dalam keadaan tidak tertata. Sekitar dua tahun yang lalu Penulis juga pernah menelusuri pemakaman ini dan di sebelah timur pemakaman ini ditemukan sebuah lumpang yang terletak di luar rumah warga.

Setelah cukup membuat dokumentasi perjalanan kami lanjutkan menuju Jeruk Legi. Dalam Naditira Pradesa Amambangi disebut nama-nama pelabuhan sungai yang ada disungai Bengawan Solo dan Sungai Brantas, salah satunya adalah Jruk, Sarbha,Waringin Pitu, Trung. Dari tulisan yang pernah ditulis seorang peneliti dari Kediri yaitu Mas Munib tentang pergeseran aliran Sungai Brantas dan anak-anak sungainya menyebutkan bahwa kemungkinan ketiga pelabuhan yang disebutkan di atas ada di daerah Balongbendo yaitu Sarbha (Dusun Serbo - Bogem Pinggir), Waringin Pitu (Dusun WaringinPitu - Bakalan WringinPitu) dan Jruk (Desa Jeruk Legi).

Dugaan tempat pelabuhan penyeberangan tersebut ada di pemakaman Dusun Sudimoro Desa Jeruk Legi yang berada di sebelah barat sebuah Masjid, terletak diantara dua sungai yaitu Sungai Mas di utara dan anak Sungai Mangetan di sisi selatannya.

Dalam penelusuran kami di area pemakaman itu terdapat bata-bata kuno yang telah beralih fungsi menjadi Nisan atau sekedar ditata diatas makam, sementara di sebelah utara pemakaman itu terdapat aliran Sungai Mas yang mengalir dengan derasnya. Lembah sungai pun cukup lebar, menurut dugaan kami dulu di dekat pelabuhan penyeberangan ada sebuah pasar atau pemukiman yang bekas-bekasnya kini menjadi pemakaman.




       Selanjutnya kami terus menyusuri jalanan yang berada di tepi selatan Sungai Mangetan melewati Jrebeng, Bakalan, Dangsal, Tempel, Watugolong hingga ke selatan menuju Sidorono Bareng Krajan untuk menemui Senior kami yaitu Mas Agus Mulyono yang biasa kami sebut Mbah Mulo.


Dalam perbincangan hangat dengan Mbah Mulo kami ditunjukkan sebuah Makam atau petilasan yang ada di Bareng Krajan yaitu Makam Sentono Rejo yang konon menurut cerita masih ada hubungannya dengan Kadipaten Trung. Dalam perjalanan pulang kami sempatkan mampir kesana. Setelah mencari-cari akhirnya kami menemukan situs yang dimaksudkan.




Sebuah tempat di tengah-tengah pemukiman warga yang tingginya sekitar 2.5 meter dengan dikelilingi tembok bata tanpa lepo. Dibagian timur ada sebuah tangga kecil menuju pintu masuk di atas yang berpintu besi. Diantara anak tangga itu ada beberapa balok andesit yang ditata. Sebenarnya kami mau bertanya atau izin dulu pada warga untuk masuk tetapi tidak ada warga yang terlihat akhirnya kami naik dan mendokumentasikannya. Setelah pintu besi kami buka terdapat bangunan tembok, akhirnya kami memilih masuk lewat kanan. Di sana terdapat dua buah makam yang cukup panjang, diantara dua makam ada semacam lantai yang memisahkannya. Balok batu Andesit menjadi Nisan kedua Makam tersebut. Tentang siapa yang dimakamkan dan bagaimana sejarahnya, kami belum mengetahuinya. Demikianlah catatan ringkas perjalanan hari ini.
Salam Nusantara...
Share:

4 Juli 2017

Jejak Peradaban Ciro Kulon Part 2


   Pagi itu Anggoro 4 Juli 2017, sesuai dengan waktu yang telah disepakati bersama, Arek-arek Watesrowo yang dinahkodai mas Tri Kisnowo Hadi dari Dusun Watesrowo bersama komunitas Garda Wilwatikta bersiap melakukan sebuah observasi tentang dugaan adanya sumur kuno yang telah ditemukan oleh pak Sariali pada tanggal 29 Juni 2017 lalu. Pak Sariali menemukan beberapa bata kuno yang bentuknya melengkung ketika beliau hendak membuat sumuran untuk menyirami tanaman terong di lahan yang disewa mas Sumantri dari warga dusun Ciro kulon. Temuan bata melengkung tersebut kemudian disampaikannya kepada mas Sumantri.



bata lengkung khas sumur kuno
   Bertepatan saat itu mas Tri Kisnowo Hadi sedang berlebaran di Dusun Watesrowo, dan pada kesempatan itupun mas Sumantri menceritakan perihal temuan bata tersebut di sebuah warung kopi. Karena penasaran atas cerita mas Sumantri tersebut mas Tri mengajak mas Sumantri survei ke sawah yang dimaksud di malam itu juga, sekitar jam 2 pagi mereka bertiga menuju persawahan yang terkenal angker itu.

   Akhirnya mereka bertiga menuju tempat dimana sumuran itu dan berhasil mendapatkan ketiga bata kuno tersebut dan mendokumentasikannya. Kemudian saya salah seorang anggota komunitas Garda Wilwatikta pun mendatangi persawahan itu pada hari Jum’at 30 Juni 2017 dan bertemu dengan mas Sumantri, mas Tri serta beberapa orang pemuda lainnya.

   Pada kesempatan itu mas Tri dan mas Sumantri sepakat untuk meminta pak Singo -seorang petani yang kebetulan mengerjakan sawah di timur temuan itu- untuk menggali tanah yang kemungkinan ada sebuah sumur kunonya pada hari Selasa 4 Juni 2017.

galian sumuran pak Sariali di tengah sawah
   Saya (penulis) telah berada ditempat penggalian sekitar jam 06.00 WIB saat itu masih belum ada teman-teman dari Watesrowo. Tak lama kemudian pak Singo datang dari arah utara menuju ke tempat saya berada sambil memanggul sebuah cangkul dengan tangan kirinya membawa tas plastic. Lalu pak Singo segara menyapa saya dan menanyakan keberadaan mas Sumantri, saya jawab “mas Sumantri belum datang pak..”.

persiapan mbah Singo sebelum penggalian
   Lalu pak Singo menyiapkan ubo rampe untuk melakukan ritual sebelum melakukan penggalian dugaan sumur tersebut. Aroma khas pun segera merebak, tak lama kemudian beberapa orang pemuda Watesrowo pun datang termasuk mas Aziz dari Garda Wilwatikta. Setelah berjabat tangan dengan pak Singo mereka segera mengambil dokumentasi.

ritual dari mbah Singo
   Tidak lama kemudian Pak Singo mulai membaca mantra untuk ritual penggalian, setelah itu penggalianpun dilakukan. Kami semua ikut membantu pak Singo melakukan penggalian sampai mas Sumantri datang, ketika mas Sumantri datang beliau bilang kalau bukan sumuran ini yang digali tetapi yang sebelah selatan, jadinya kami semua senyum-senyum melihat kejadian itu akhirnya kamipun menuju ke tempat sumuran yang di selatan dan melakukan penggalian.

mulai penggalian

proses penggalian
   Pelan namun pasti bata lengkung mulai terlihat, pak Singo kami minta untuk berhati-hati karena khawatir cangkulnya akan mengenai batanya. Airpun disedot pakai mesin diesel, pelan-pelan air mulai surut namun karena kondisi tanah yang lengket dan berlumpur cukup menyulitkan proses penggalian. Struktur bata melengkung yang berupa sumur pun mulai terlihat sedikit demi sedikit.

menyedot genangan air dengan mesin diesel
   Penggalianpun terus dilakukan oleh pak Singo dengan menggunakan bawak, sementara kami membantu dengan mengangkat timba yang telah diisi tanah galian oleh pak Singo keatas, begitulah perlahan-lahan penggalian sudah sampai 50 centimeter dari bata paling atas. Pak Singo kami ajak untuk beristirahat dan minum air agar tidak kecapaian. Haripun makin siang, sinar matahari mulai terasa panas menyengat dikulit. Tak berapa lama kemudian mas Tri Kisnowo Hadi datang ke lokasi dengan membawa makanan dan air mineral.

Mbah Singo (kiri), Tri Kisnowo Hadi (kanan)
   Hari makin panas, waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB penggalianpun dilanjutkan setelah pak Singo selesai sarapan. Mas Tri terlibat dalam penggalian dengan membantu mengangkat tanah keatas, penggalian hampir mencapai 100 centimeter dari bata teratas, air tanah mulai merembes di sumur yang menyebabkan penggalian terganggu karena harus menguras terlebih dahulu. Dari tanah-tanah yang diangkat keatas terdapat pula bata lengkung yang utuh maupun yang sudah pecah, juga terdapat beberapa pecahan keramik. Kemungkinan bata-bata lengkung yang ada di dalam sumur tersebut adalah reruntuhan dari bata sumur bagian atas, sedangkan bata yang sudah pecah atau pecahan keramik bisa saja sengaja dilemparkan oleh anak-anak kecil masa itu. Menjelang pukul 11.00 WIB penggalian telah mencapai kedalaman 125 centimeter dari bata paling atas, akhirnya penggalianpun dicukupkan untuk hari ini.

penggalian dalam sumur
   Dari kronologi penggalian Sumur kuno ini kami bisa mencatat kalau ketebalan bata lengkung ini rata-rata 8 centimeter, semakin kebawah semakin tebal hingga mencapai 9 centimeter. Disamping bata-bata lengkung ada juga ditemukan pecahan bata kuno dengan ukuran 30 cm x 20 cm dan tebal 8 cm.

kedalaman sumur
   Begitulah observasi dan penggalian dugaan sumur kuno yang ditemukan di Dusun Ciro Kulon Desa Bakung Temenggungan Kecamatan Balongbendo Sidoarjo. Setelah penggalian selesai datanglah seorang wartawan dari “Sidoarjo Terkini” untuk meliput kegiatan hari ini. Temuan sumur kuno ini tentunya bukan temuan tunggal di wilayah ini, karena dari informasi warga setempat setidaknya ada satu sumur kuno lagi di pemukiman Ciro Kulon yang masih aktif sampai sekarang hanya kondisi sekarang ditutup sebuah papan dan di dalam rumah warga.

   Dari catatan kami yang pertama mengenai jejak peradaban Ciro Kulon yang lalu memang hanya mengulas jejak bata kuno yang ada di pemakaman umumnya saja, tetapi dengan adanya temuan baru ini tentu akan lebih memperkuat dugaan kami tentang adanya jejak pemukiman kuno di Dusun Ciro Kulon ini umumnya Desa Bakung Temenggungan. Kalaupun kami menyebutnya sebagai sumur Jenggala bukan karena apa-apa tetapi semata-mata karena wilayah Kabupaten Sidoarjo adalah bekas wilayah Jenggala atau Kahuripan, tentu itu bisa saja terlalu naif tetapi tentu saja itu perlu diluruskan oleh pihak-pihak yang berwenang dengan berbagai riset.

>>>baca catatan Ciro Kulon dan Ciro Wetan
Sumantri (kiri), Agus Subandriyo (kanan)

   Selanjutnya kami dari komunitas Garda Wilwatikta menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya pada mas Tri Kisnowo Hadi dan kawan-kawan dari Watesrowo, mas Sumantri, pak Singo dan seluruh pihak yang terkait. Tiada yang berat bila dipikul bersama-sama, tiada gading yang tak retak. maafkan bila ada tutur kata kami yang tidak pantas... Salam Nusantara..

Share:

12 Februari 2017

Menelusuri Keagungan Peradaban Masa Silam


Sanaiscara 11 Februari 2017



   Sebuah perjalanan menelusuri keagungan peradaban masa silam di wilayah Balongbendo - Krian (Sirapan, Watesari, Seketi, dan Wringinpitu). Adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi kita bila bisa meluangkan waktu diantara kesibukan kita untuk bersama-sama mencari simpul-simpul jejak peradaban kuno.

Share:

1 Desember 2016

Menguak Tabir Misteri Peradaban Dusun Pringgodani



   Dusun Pringgodani merupakan sebuah dusun yang berada di Desa Bakung Pringgodani Kecamatan Balongbendo Kabupaten Sidoarjo. Dalam catatan jejak peradaban yang sudah saya tulis di buku "Mengais Jejak Peradaban Bumi Kahuripan" telah sedikit saya sebutkan jejak-jejak peradaban kunonya, seperti banyaknya bata-bata kuno di pemakaman umum, persawahan maupun beberapa tempat yang dikeramatkan warga seperti punden Doro, Krapyak dan sebuah punden yang letaknya di sebelah selatan makam.

Share:

30 September 2016

PULOLANCING "Pemukiman Para Bujang dari Mancanegara" #Ekspedisi_Dukuh_2


   Dilihat dari maknanya Pulolancing adalah pulaunya para bujang, yang maksudnya bila kita mencoba menduga atau berhipotesa adalah tempat bermukimnya para pedagang dari mancanegara. Hal ini setelah mengkaji berbagai aspek dan lingkungan sekitar Dukuh khususnya dan Pulolancing pada umumnya. Secara umum Pulolancing terletak di sebelah timur sungai Mas dekat percabangan dengan sungai Marmoyo yang mengarah ke Dusun Pelabuhan Canggu Jetis yang telah diduga sebagai tempat pelabuhan Canggu dimasa silam.

peta sekitar Dukuh-Pulolancing
   Juga letaknya yang tidak terlalu jauh dari Dusun Serbo Bogempinggir yang kita duga sebagai pelabuhan Sarbha. Terlebih sekitar hampir setahun yang lalu komunitas pecinta sejarah dan budaya Garda Wilwatikta telah melakukan penggalian disebidang tanah milik warga di Dukuh, dan hasil observasi mereka telah disimpan di salah satu ruangan Balai Dusun setempat.


   Tampak ketua Balasatya Wetan beserta anggotanya mengklarifikasikan temuan artefak di Museum Mini Dukuh. Sebelumnya rombongan Balasatya Wetan ini telah mensurvei dukuh tempat observasi Garda Wilwatikta.






   Dalam kesempatan itu Balasatya Wetan diantar dua anggota Garda Wilwatikta yaitu mas Eko Jayanto (ketua) dan mas Aziz (sekretaris) untuk melihat 4 buah sumur kuno yang telah diketahui di Dukuh, ,juga menceritakan secara kronologis proses awalnya observasi sampai kisah-kisah mistis yang menyertainya.


Sumur kuno yang terdapat di Dukuh
lihat video Ekspedisi Dukuh #2

   Dalam kesempatan itu kami juga sowan kepada pemilik tanah observasi bapak Tri Wahyono juga bapak Kepala Dusun Pulolancing bapak Eko Wiyono, untuk bersilahturahim dan membicarakan kondisi terkini Dukuh mengingat kami Garda Wikwatikta telah melaporkan temuan-temuan itu kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya BPCB Jawa Timur di Trowulan pada Desember 2015 yang lalu. Setelah berdialog dengan bapak Eko Wiyono selaku kasunnya kita mendapati belum ada survei dari BPCB.


   Setelah melakukan survei di Dukuh maupun melihat artefak di Dukuh, komunitas Balasatya Wetan melalui ketuanya bapak Edwin Mardianto mengapresiasi secara positif dan terus mendukung aktifitas komunitas Garda Wilwatikta yang berpusat di Dusun Tado Desa Singkalan ini. Dan juga bapak Edwin Mardianto membuat sebuah kesimpulan bahwa dahulu kala diduga di Dukuh maupun Pulolancing umumnya adalah tempat bermukim para pedagang dari mancanegara seperti China, hal ini didasarkan dari tempatnya yang strategis dan temuan-temuan artefaknya seperti koin-koin asing, koin gobog, maupun keramik asing. Namun demikian dugaan sampai zaman dimana kawasan Dukuh maupun Pelabuhan Canggu dan Sarbha terus digunakan, karena melihat kondisi sungai Mas maupun sungai Marmoyo sekarang telah terjadi penyempitan dan pendangkalan.



   Menurut literatur tahun 1625 Masehi tentara Mataram menutup aliran sungai Marmoyo di daerah Gedeg - Mojokerto dengan bangkai manusia dan hewan dalam perang menaklukan daerah Brang Wetan yang dipimpin Surabaya saat itu, konon karena penutupan sungai Marmoyo tidak hanya membuat perlawanan Surabaya kalah tapi juga mematikan roda perekonomian dijalur sungai Marmoyo dan sungai Mas seperti Pelabuhan Canggu, Sarbha, Jruk yang tentu saja berdampak pada pemukiman pedagang di Dukuh.

   Konon ada kisah dari warga Dukuh kalau pernah ada wabah atau pagebluk yang memaksa penghuni Dukuh meninggalkan pemukimannya, bisa saja wabah itu berasal dari virus-virus penyakit yang ditimbulkan dari tumpukan bangkai manusia dan bangkai hewan dihulu sungai Marmoyo tadi. Sekedar menduganya saja, konon karena blokade atau penutupan sungai Marmoyo oleh tentara Mataram itu membuat Perlawanan Surabaya berhenti karena kurangnya pasokan bahan makanan, air bersih, dan terkena penyakit.

   Demikianlah kegiatan komunitas Balasatya Wetan dan Garda Wilwatikta di Dukuh Pulolancing desa Kedung Sukodani kecamatan Balongbendo Sidoarjo. Semoga saja akan ada respon positif baik dari warga setempat maupun pihak yang terkait, tak lupa kami menghaturkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas peran serta bapak kasun Pulolancing, seluruh anggota Balasatya yang hadir yang telah meluangkan waktunya mengunjungi Dukuh.

Maturnuwun, Salam Nusantara...
Share:
Komunitas Pecinta Sejarah dan Budaya - GARDA WILWATIKTA Tado Singkalan - "Menapak Jejak, Mematri Semangat, Mengunggah dan Melestarikan Peradaban Nusantara"

Garda Wilwatikta

Labels