Tampilkan postingan dengan label LuarSidoarjo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LuarSidoarjo. Tampilkan semua postingan
21 Mei 2017
Misteri Lumpang di Makam Mbah Derpo
Lumpang adalah sebagai salah satu peralatan dalam dapur yang
biasanya terbuat dari batu. Dalam era klasik lumpang ini sangat dominan di pawon (Dapur). Fungsi lumpang adalah
untuk menumbuk padi atau bahan makanan yang lain, sementara untuk menumbuknya
diperlukan sebuah benda yang memanjang yang biasanya disebut Alu. Alu ini bisa
terbuat dari kayu atau dari batu, tergantung kegunaan dari lumpang tersebut
untuk menumbuk apa, kalau untuk menumbuk padi biasanya alunya terbuat dari kayu.
16 Mei 2017
Perjalanan Sore
Adalah
kisah dari Dusun Semengko, tentang leluhur yang pertama kali melakukan babat
alas di Dusun Semengko. Nama beliau adalah Mbah Kaulan begitu warga Semengko
menyebutkannya, di suatu tempat di tepi jalan desa ada sebuah sumur yang konon
airnya tiada pernah surut walaupun diambil semua orang di Dusun Semengko,
22 Februari 2017
Jejak Peradaban Agung Bhumi Medang "Mbah Pande Gong"
Soma Legi, 20 Februari
2017
.
Menurut berbagai sumber dalam literatur sejarah kerajaan Medang itu awalnya berpusat di Jawa Tengah yang telah mendirikan berbagai macam peninggalan peradaban yang sangat tinggi nilainya, seperti Prambanan, Candi Sewu, bahkan Candi Borobudur konon juga dibangun pada masa Medang atau Mataram ini.
Seiring
berlalunya waktu, berbagai peristiwa dan sebab akhirnya Mpu Sindok memindahkan
pusat kerajaan yang pernah berjaya itu ke Jawa Timur. Menurut dugaan para ahli
sejarah pusat pemerintahan Medang sempat ada di Tembelang Jombang namun kemungkinan
pernah berpindah-pindah.
Adalah
sebuah tempat di tengah persawahan yang ditumbuhi beberapa pohon yang cukup
rimbun dengan nuansa wingit. Menurut informasi dari Nur Wikayat seorang warga
Jombang, tempat itu disebut warga setempat sebagai Punden Mbah Pande Gong. Hal
itu juga penulis kroscekan dengan keterangan seorang warga setempat yang
berjualan es degan di tepi jalan dekat punden tersebut.
Saat itu penulis bersama mas Aziz Samsudin mendengarkan cerita warga tersebut sambil minum es degan yang segar. Menurut cerita orang-orang dahulu, kalau ada warga yang mempunyai hajat -ingin nanggap wayang kulit atau sekedar campursari- yang tentunya membutuhkan seperangkat gamelan, maka warga Nggarutan akan suguh sesaji atau tumpengan di punden tersebut, setelah itu maka seperangkat gamelan akan datang di rumah warga yang punya hajatan tersebut. Begitulah kisah dari warga penjual es degan itu, benar tidaknya cerita itu tentu saja warga tersebut juga tidak tahu.
Saat itu penulis bersama mas Aziz Samsudin mendengarkan cerita warga tersebut sambil minum es degan yang segar. Menurut cerita orang-orang dahulu, kalau ada warga yang mempunyai hajat -ingin nanggap wayang kulit atau sekedar campursari- yang tentunya membutuhkan seperangkat gamelan, maka warga Nggarutan akan suguh sesaji atau tumpengan di punden tersebut, setelah itu maka seperangkat gamelan akan datang di rumah warga yang punya hajatan tersebut. Begitulah kisah dari warga penjual es degan itu, benar tidaknya cerita itu tentu saja warga tersebut juga tidak tahu.
Setelah
mendengar cerita itu kami berdua menuju punden Mbah Pande Gong dengan berjalan
kaki, karena tidak ada akses jalan masuk ke sana sementara motor kami titipkan
pada penjual es degan tadi. Kami menyeberangi saluran air kemudian melewati
tepi sungai lalu melewati pematang sawah menuju lokasi.
Di pematang sawah kami mendapati pecahan bata kuno tercecer diantara padi yang menguning. Dengan hati-hati kami mulai masuk area Punden tersebut karena rumput cukup lebat dan kami khawatir jika ada ular disana, setelah berdoa dan menyapa kami masuk.
Di pematang sawah kami mendapati pecahan bata kuno tercecer diantara padi yang menguning. Dengan hati-hati kami mulai masuk area Punden tersebut karena rumput cukup lebat dan kami khawatir jika ada ular disana, setelah berdoa dan menyapa kami masuk.
Punden
Mbah Pande Gong ini kira-kira berukuran 30 x 50 meter. Terdapat sebuah makam
disini, mungkin inilah yang dimaksud makam Mbah Pande Gong, disebut begitu
karena diwaktu-waktu tertentu dari punden ini terdengar suara Gong salah satu
alat dari gamelan. Terdapat pecahan bata kuno yang dikumpulkan di bawah
beberapa pohon, ada juga beberapa yang masih utuh terlihat disana, ada beberapa
takir yang berisi daun-daun seperti yang biasa dibuat sajen di beberapa tempat.
Selanjutnya kami berdua menuju sebuah tangga yang disusun dari bata-bata kuno menuju tempat yang tinggi, disana tampak bata-bata kuno disusun seperti pelataran, kemungkinan ini tempat untuk warga berkenduri. Di tempat ini dikelilingi beberapa pohon yang di bawahnya terdapat rumput cukup lebat.
Selanjutnya kami berdua menuju sebuah tangga yang disusun dari bata-bata kuno menuju tempat yang tinggi, disana tampak bata-bata kuno disusun seperti pelataran, kemungkinan ini tempat untuk warga berkenduri. Di tempat ini dikelilingi beberapa pohon yang di bawahnya terdapat rumput cukup lebat.
Menurut
dugaan kami bagian inti sebuah bangunan yang kemungkinan ada di bawah tanah di punden
ini adalah disini, melihat dari pecahan-pecahan yang tersebar kemungkinan
bangunan disini ada sebuah altar tetapi tentu saja itu hanya sebatas dugaan
kami saja.
Ukuran bata kuno disini panjangnya 32 x 22 centimeter dengan tebal 7 sampai 8 centimeter. Kemungkinan berasal dari era Mojopahit atau bahkan bisa dari era Medang Mpu Sindok mengingat jejak Medang juga ada di wilayah Jombang ini.
Penulis
juga sempat mengontak mas Nurwikayat untuk bisa bersama-sama menelusuri situs
ini, namun karena suatu hal dan sempitnya waktu akhirnya kami belum bisa
bertemu di punden Mbah Pande Gong ini.
Dalam
penelusuran kali ini kami semakin yakin akan banyaknya situs-situs yang berasal
dari berbagai zaman itu luas merata di semua tempat di pulau Jawa ini. Sungguh
itu merupakan bukti keberadaan peradaban Agung Nusantara dari zaman ke zaman
yang seharusnya dipelajari, ditelusuri dan diambil hikmahnya bagi kehidupan
dimasa kini.
Setelah
puas menelusuri punden Mbah Pande Gong kami memutuskan untuk kembali pulang, di
tengah perjalanan kami menyempatkan untuk mampir ke Trowulan tepatnya di situs
Sumur Upas dan Candi Kedaton.
Demikianlah
penelusuran jejak peradaban hari ini, Terimakasih atas informasi dari mas
Nurwikayat dan mohon maaf atas segala kekurangan dari catatan yang seadanya ini,
Terimakasih…
18 Oktober 2016
SEKILAS DI TLATAH LAMONG
Budha 12 Oktober
2016, Team Garda Wilwatikta Tado Singkalan berangkat dari basecamp sekitar jam
07.45 WIB.
10 Agustus 2016
6 Juni 2016
KUNJUNGAN DI LUKREJO
Raditya
29 Mei 2016, Team GARDA WILWATIKTA berkesempatan mengunjungi Desa Lukrejo yang
berada di Kecamatan Kalitengah Lamongan.
Tak banyak yang kami ketahui tentang Desa Lukrejo atau biasa disebut warga dengan sebutan desa Ngeluk kecuali dari buku “Jatidiri Gajah Mada dan peranan Umat Islam Majapahit” yang ditulis oleh mas SofyanSunaryo Al Jawi yang leluhurnya berasal dari Lukrejo. Kami tidak memabahas tentang peradaban yang ada di sini karena telah dibahas dalam bukunya mas Sofyan diatas, kehadiran kami di sini semata-mata ingin bersilaturahim dengan pemuda-pemuda Lukrejo yang tergabung dalam SATYAH TLATAH LAMONG, yaitu sebuah komunitas pecinta Sejarah dan Budaya yang kebetulan pusatnya ada di Lukrejo.
Tak banyak yang kami ketahui tentang Desa Lukrejo atau biasa disebut warga dengan sebutan desa Ngeluk kecuali dari buku “Jatidiri Gajah Mada dan peranan Umat Islam Majapahit” yang ditulis oleh mas SofyanSunaryo Al Jawi yang leluhurnya berasal dari Lukrejo. Kami tidak memabahas tentang peradaban yang ada di sini karena telah dibahas dalam bukunya mas Sofyan diatas, kehadiran kami di sini semata-mata ingin bersilaturahim dengan pemuda-pemuda Lukrejo yang tergabung dalam SATYAH TLATAH LAMONG, yaitu sebuah komunitas pecinta Sejarah dan Budaya yang kebetulan pusatnya ada di Lukrejo.
Kami
berdua (Penulis dan mas Eko Finda Jayanto ketua Garda Wilwatikta) berangkat dari Singkalan sekitar pukul 08.00 WIB.
Dengan melalui jalur Dawar Blandong – Balong Panggang berbelok ke barat menuju
Mantup, dari Mantup kami mengikuti jalan menuju Kota Lamongan, sekitar pukul
09.00 WIB kami memasuki Kota Lamongan dan beristirahat sejenak di depan Masjid
Agung Lamongan yang berada di dekat Alun-alun.
Dari sana kami mencari informasi arah jalan menuju desa Lukrejo. Setelah beberapa kali bertanya akhirnya kami berada di jalur yang benar menuju tujuan kami yaitu Desa Lukrejo. Sekitar pukul 09.45 WIB kami akhirnya mencapai pintu masuk Desa Lukrejo. Penulis segera mengirim SMS kepada salah seorang pemuda Lukrejo untuk mengabarkan kehadiran kami, tak lama kemudian mas Lukman datang menjemput kami.
Dari sana kami mencari informasi arah jalan menuju desa Lukrejo. Setelah beberapa kali bertanya akhirnya kami berada di jalur yang benar menuju tujuan kami yaitu Desa Lukrejo. Sekitar pukul 09.45 WIB kami akhirnya mencapai pintu masuk Desa Lukrejo. Penulis segera mengirim SMS kepada salah seorang pemuda Lukrejo untuk mengabarkan kehadiran kami, tak lama kemudian mas Lukman datang menjemput kami.
Kami
berdua segera mengikuti mas Lukman menuju rumah Pak Suwanto salah seorang warga
Lukrejo, di sana kami diterima dengan hangat oleh mereka. Setelah beberapa saat
terlibat perbincangan yang hangat kami pun minta diantarkan sowan ke rumah Pak
Kades Lukrejo, namun Beliau sedang tidak berada di rumah, begitu juga saat ke rumah
Bapak Kartam mantan kades juga Beliau tidak berada di rumah.
Akhirnya kami beritiga menuju Makam Mbah Piluk, di sana pak Suwanto dan para pemuda sudah berada di sana. Kami kembali berbincang-bincang tentang situs yang ada di Desa Lukrejo ini termasuk berbagi macam kisahnya. Di sini para pemuda menyimpan pecahan artefaknya.
Akhirnya kami beritiga menuju Makam Mbah Piluk, di sana pak Suwanto dan para pemuda sudah berada di sana. Kami kembali berbincang-bincang tentang situs yang ada di Desa Lukrejo ini termasuk berbagi macam kisahnya. Di sini para pemuda menyimpan pecahan artefaknya.
Kami pun
masuk ke dalam area makam Mbah Piluk atau yang nama lengkapnya Ki Lukman Hakim.
Tentang siapa beliau, telah dikupas dalam Buku Jatidiri Gajah Mada oleh mas
Sofyan Sunaryo Al Jawi, namun versi tentang siapakah Mbah Piluk itu sendiri ada
beberapa macam versinya, demikian yang kami dengar dari Pak Suwanto dan
beberapa warga lainnya. Sayangnya Makam Mbah Piluk sudah direnovasi lebih modern
sehingga sulit mencari kekunoannya. Menurut informasi dari warga di area Makam ini
dulu banyak struktur bata kuno yang kini telah tertutup oleh bangunan Makam, juga
temuan-temuan Kerangka Manusia yang ditemukan ketika hendak membangun Pendopo
Makam kemudian kerangka-kerangka tersebut dipendam kembali, kini ada di bawah
lantai keramik pendopo.
Setelah
itu kami diajak para pemuda menuju sebuah tempat di belakang Balai Desa Lukrejo
yang kini menjadi tambak, menurut warga di tempat itulah dulu pernah ditemukan
uang kepeng gobog dalam sebuah Guci dan baju besi yang konon milik leluhur desa
ini. Mungkin baju besi ini seperti yang dimaksudkan mas Sofyan Sunaryo tentang
tujuh buah baju besi milik pengikut Ki Lukman Hakim yang konon baju besi
tersebut adalah baju besi tentara Mongol yang dirampas Prajurit Mojopahit
ketika awal-awal Mojopahit berdiri (konon baju-baju besi tersebut dipakai
kesatuan pengawal Raja yaitu Bhayangkara). Tentara Mongol merampas Baju besi
tersebut dari Kerajaan Abbasiyah yang pusatnya berada di kota Baghdad.
Setelah
itu kami menuju situs Mbok Rondo Kuning (Situs Roboto) yang berada di tengah tambak,
di tengah rerimbunan rumput gajah atau disebut warga sebagai Embet. Karena
teremdam air kami tidak bisa mendekat ke situs ini. Banyak versi yang beredar tentang
situs ini, ada yang bilang ini janda Cina, ada yang bilang seorang janda
pendatang dari luar daerah yang kemudian tinggal di sana.
Di sekitar
situs Mbok Rondo Kuning terdapat juga bata-bata kuno yang ditemukan baik yang
masih utuh maupun yang sudah pecah, demikian pula pecahan gerabah lainnya. Ketika
kami kembali menuju ke motor kami secara tidak sengaja putra bapak Kartam
mantan kades Lukrejo sedang lewat kemudian mas Lukman Hakim memanggil beliau
kemudian mas Lukman Hakim memperkenalkan kami kepada putra bapak Kartam
tersebut yang ternyata bernama bapak Didik. Setelah berdialog sebentar bapak
Didik mengajak kami menuju makam desa Cluring, “Mumpung berada di Ngelukrejo monggo melihat sebuah tulisan yang ada di
sebuah pohon yang menurut informasi tetua desa Cluring tulisan yang tidak bisa
dibaca itu telah ada sejak mereka masih kecil.“ Begitu ajak bapak Didik
kepada kami. Kami pun segera mengikuti beliau menuju makam Desa Cluring.
Sesampainya
di makam Cluring tersebut kami segera memasuki tengah area pemakaman yang ada
pohon besarnya, di situlah ada semacam aksara yang diukir di pohon ( ternyata tulisan tersebut bukan termasuk tinggalan arkeologi ).
Setelah
memberi penjelasan tentang kegiatan yang pernah beliau lakukan bersama mas
Sofyan Sunaryo beberapa tahun yang lalu di Desa Lukrejo dan sekitarnya, bapak
Didik sebenarnya ingin mengajak kami ke sebuah tempat dimana ada sebuah
inskripsi huruf kuno di sebuah nisan namun karena waktu kami yang terbatas
akhirnya kami mohon diri untuk segera kembali ke Sidoarjo.
Ada
beberapa poin yang kami dapatkan dalam kunjungan kali ini, yaitu belum adanya
kesadaran dari pihak pemerintah desa maupun dari masyarakat akan pentingnya
pelestarian benda-benda bersejarah yang ada di sekitar kita. Adanya keengganan
pemerintah desa memberi tempat untuk menyimpan benda-benda bersejarah yang
ditemukan di Desa tersebut. Kedua adanya kesengajaan dari beberapa oknum
pelestarian sejarah yang kurang memperhatikan keberadaan benda-benda bersejarah
yang pernah ditemukan, contoh adanya oknum yang tidak mau mengembalikan
benda-benda bersejarah ke tempat asalnya.
Semoga ada guna dan manfaatnya dari kunjungan Team
GARDA WILWATIKTA kali ini terima kasih…
Salam Nusantara…
Lihat Video disini













































