7 Februari 2021
Peradaban Sambung Rejo Part 2
13 Desember 2020
Kunjungan BPCB Jawa Timur didesa Seketi
25 Desember 2019
TEMUAN TERAKOTA PECAHAN MINIATUR CANDI DI SITUS GUO HINGGA SENDRATARI PERTAMA DI SIDOARJO
Jasmerah ! Jangan lupakan Sejarah !
16 Maret 2019
Selayang Pandang Jejak Peradaban Desa Seketi
Memang benar bila kita melihat secara teliti didalam lobang Guo tersebut disisi timur terdapat struktur bata yang mirip dinding yang berorientasi utara dan selatan demikian pula disisi barat namun dibagian ini terlihat miring mungkin terkena desakan akar pohon Kecacil yang ada , selain itu melihat ukuran bata kuno yang besar dan tebal dengan ukuran rata- rata 32.5 cm × 22.5 cm dengan ketebalan sampai 7 cm menunjukkan kalau bata-bata kuno ini diduga kuat berasal dari era Majapahit , ini menunjukkan kalau di desa Seketi ini terdapat jejak peradaban kuno seperti didesa Suwaluh , Watesari , Kemangsen dan Bakalan Wringinpitu .
1 Februari 2019
Paradigma Sejarah lokal
Pengertian daerah disini adalah lingkungan geografis tertentu yang sudut pandangnya bisa dipersempit atau diperluas karena batasan luasan dari area sejarah lokal tersebut sulit ditentukan.
7 Januari 2019
Sedikit Tentang Komunitas Garda Wilwatikta
Komunitas pecinta sejarah dan budaya Garda Wilwatikta Tado Singkalan adalah sebuah komunitas yang berdiri karena keprihatinan para penggiat dan pemerhati Sejarah budaya yang ada di Sidoarjo khususnya , adalah Agus Subandriyo seorang anggota komunitas Balasatya Wetan mengajak beberapa pemuda yang cinta akan sejarah Nusantara membentuk komunitas Garda Wilwatikta untuk bergerak menelusuri jejak-jejak sejarah disekitar kecamatan Balongbendo serta memberi pemahaman akan peradaban juga persebarannya .
Mereka adalah Eko Finda Jayanto , Abdul Aziz Samsudin dan Dicki Wahyudi , sejak akhir Agustus 2015 Garda Wilwatikta mulai menelusuri persawahan , Makam - Makam , Punden yang ada disekitar kecamatan Balongbendo hingga Tarik dan Krian , mulailah hari-hari dengan berbagai temuan , pecahan bata kuno , pecahan gerabah , keramik , sumur - sumur kuno hingga memberanikan diri melakukan observasi mandiri dengan melakukan sedikit penggalian di sebidang tanah milik seorang warga di Dukuh Pulolancing Kedung Sukodani untuk membuktikan dugaan adanya peradaban kuno yang terpendam di desa tersebut .
Untuk mengabadikan kegiatan mereka tersebut dibuatlah Blog , saluran You Tobe dan group Facebook yang memuat kegiatan dan temuan - temuan mereka , semua upaya tersebut bukanlah tujuan utama mereka karena sebenarnya tujuan utama mereka adalah tumbuhnya kesadaran seluruh elemen masyarakat untuk sadar , mencintai peninggalan- peninggalan sejarah budaya serta turut melestarikan nya .
Hingga suatu hari datanglah seorang pemuda aktivis sejarah dan budaya dari Surabaya memberikan support untuk mendorong Garda Wilwatikta untuk mencatat seluruh kegiatan nya dalam sebuah buku . Setelah menyakinkan pentingnya sebuah catatan yang berupa buku pada Agus Subandriyo terutama untuk kepentingan dimasa - masa depan akhirnya Noer Satriawan bisa tersenyum karena akhirnya Garda Wilwatikta membuat sebuah buku yang berisi catatan tentang kegiatan- kegiatan mereka , buku tersebut ditulis oleh Agus Subandriyo dengan editor nya Abdul Aziz Samsudin sekaligus desain Covernya , Setting oleh Burhan Fatahilah dan Konektor Edwin Mardianto dari Balasatya Wetan .
Karena ketiadaan dana untuk menerbitkan buku di penerbit , akhirnya dicetak beberapa buah untuk diberikan ke beberapa pihak sebagai wujud keberadaan Garda Wilwatikta sebagai salah satu komunitas pecinta sejarah dan budaya Nusantara , khusus nya di Sidoarjo . Alhamdulillah atas bantuan serta upaya seorang guru di Gresik yaitu Ibu Ismawita akhirnya buku Mengais Jejak Peradaban Bumi Kahuripan diterbitkan oleh Pihak Perpustakaan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan kini menjadi koleksi Perpustakaan di Surabaya .
Semoga ini adalah langkah awal untuk terus bergerak dan berkarya dimasa - masa mendatang yang bermanfaat bagi upaya pelestarian sejarah budaya .
Terima kasih .
1 Januari 2019
Tata Pemerintahan yang aneh dan legenda Pencarian Air Liur Naga di desa Suwaluh.
Ketika sore hari empat orang Pecinta dan pemerhati Sejarah mendatangi rumahnya Bapak Kades Suwaluh H. Mochammad Heru Sulthon yang berada ditepi jalan Raya Mojokerto Surabaya sebelah Utara , mereka adalah Sigit Hariadi, Burhan Fatahilah, Ikhwan Darmo dan Aris Kusbiyanto . Ketika itu menjelang Maghrib Abah Heru begitu nama Kades biasa disebut mempersilakan keempat tamunya , mereka pun masuk diruang tamu , Ikhwan Darmo salah seorang yang berusia paling matang memulai pembicaraan tentang kemungkinan izin dari Kades Suwaluh untuk pembukaan sebuah tempat yang diduga sebuah Situs peninggalan Purba yaitu Situs Pelawangan .
Setelah terjadi proses pembicaraan tentang latar belakang dan alasan mengapa Situs tersebut harus dibuka, Abah Heru pada intinya menyambut baik keinginan keempat Pecinta dan pemerhati Sejarah , namun Beliau akan mengkomunikasikan dengan pihak - pihak terkait dalam hal ini seperti para pemilik tanah dan perangkat Desa secara keseluruhan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan , pada kesempatan ini Sigit Hariadi sedikit menceritakan tentang kisah Situs Pelawangan dan beberapa kegiatan sebelum nya dengan yang dilakukan dengan sejumlah tokoh .
Sejak saat itu dilakukan pertemuan- pertemuan intensif baik itu di rumahnya Abah Heru atau di Balai desa Suwaluh , sekitar awal bulan Februari 2014 mereka amat inten melakukan pertemuan tersebut sampai akhirnya dicapai kesepakatan bahwa pembukaan Situs Pelawangan akan digunakan tanggal 14 Februari 2014 . Dari sering nya pertemuan dengan Kades maupun perangkat Desa lainnya ditemui keanehan - keanehan , misalnya dalam tata Pemerintahan desa Suwaluh terdapat dua dusun , yaitu dusun Pelawangan Utara ( Suwaluh Utara ) yang Kasun nya ibu Yuli dan dusun Pelawangan selatan ( Suwaluh Selatan ) dengan Kasun nya bapak Mulyono , dari sini masyarakat Suwaluh secara turun-temurun menyebut dua tempat yang lebat dengan pepohonan ditengah persawahan desa adalah Pelawangan , yang sebelah Utara disebut Pelawangan lor dan yang Selatan Pelawangan kidul . Menurut legenda setempat konon dikedua tempat ini dihuni Naga atau Ular raksasa , di Pelawangan lor menurut warga ada sebuah sumur yang terdiri dari susunan bata kuno melingkar disebut sumur Lanang sementara di Pelawangan kidul ada sumur yang berbentuk kotak disebut sumur Wadon , bisa disimpulkan dari bentuk kedua sumur tersebut mengisyaratkan kalau Naga yang menghuni Pelawangan lor adalah Naga laki- laki atau Lanang sementara di Pelawangan kidul adalah Naga perempuan atau Wadon .
Justru yang aneh kedua Kasun tersebut malah menjadi pamong di kedua tempat yang tidak berpenghuni alias hanya persawahan belaka ! Ketika ditanya tentang hal itu Bapak Mulyono tidak dapat menjawab nya karena kenyataannya kedua tempat itu tidak ada warga yang tinggal di sana demikian pula Ibu Yuli juga tidak bisa menjawab nya , lantas dengan nada bercanda Abah Heru berkata ," Berarti pak Mulyono punya warga demit ?". Mereka semua senyum - senyum dan merasa heran kenapa semua itu bisa terjadi .
Dari keterangan warga kalau bata- bata kuno di Pelawangan lor telah diambil warga untuk pondasi beberapa rumah, untuk Pelawangan kidul relatif masih utuh karena warga takut memasuki nya karena banyaknya cerita dan kejadian- kejadian menyeramkan di sana, terutama tentang mitos Naga , lantas kenapa di Pelawangan lor warga berani mengambil bata -bata kunonya ? Hal ini terjadi mungkin karena kesalahan penempatan Kasun nya ... Seharusnya di Pelawangan kidul Kasun nya perempuan bukan laki-laki demikian pula sebaliknya , demikian penjelasan Sigit Hariadi .
Pembukaan Situs Pelawangan diawali dengan Tumpengan pada hari Respati Kamis Kliwon 13 Februari 2014 di Balai Desa bersama warga dan di situs Pelawangan kidul , entah kebetulan atau tidak setelah seluruh anggota team keluar dari situs beberapa menit kemudian terdengar berita kalau gunung Kelud meletus mengeluarkan abu bahkan di desa Suwaluh malam itu juga , jadi sebagai pengingat kapan pembukaan Situs Pelawangan yang izin resmi nya memakai nama BALASATYA WETAN LAKON JAGAD ( yayasan Jagad Wetan ) adalah waktu gunung Kelud meletus yaitu 14 Februari 2014.
Setelah hampir tiga Bulan eskavasi telah sampai pada pembukaan tanah didepan kepala Sang Naga , pemuda dan warga mulai turun membantu proses tersebut , hingga akhirnya kisah yang sempat terlupakan kembali teringat yaitu dahulu kalau banyak spiritualis dari sekitar desa Suwaluh berlomba-lomba mencari ILER NOGO atau air liur Naga , bagaimana kisahnya?
Dahulu bila ada warga yang sakit keras dan sulit untuk disembuhkan maka mereka akan mencari air liur Naga , itu berdasarkan petunjuk dari para spiritualis yang prihatin karena banyak warga yang sakit , entah ada atau belum yang menemukan ILER NOGO tadi sampai sekarang belum ada yang tahu pasti .
Menurut legenda yang berkembang dulu terdapat patung Naga yang besar di Pelawangan kidul , dari mulut nya patung itu keluar air , mungkin dari sana lah legenda ILER NOGO itu berasal tetapi ada pula informasi lain kalau air yang dimaksudkan ILER NOGO itu berasal dari delapan mata air yang berbeda biasa disebut air yang berasal dari sumur Windu .
Menurut hasil uji test di laboratorium Petrokimia Gresik air dari sumur Wadon Pelawangan kidul PHnya cukup baik yaitu 7 , warnanya cukup bening , baunya tidak banger tetapi terlalu banyak mengandung zat besi , mungkin hal itu karena lama tidak dikuras dan dibersihkan .
Tentang air yang disebut ILER NOGO tadi kami berkesimpulan tidak jauh dari hasil laboratorium diatas bahkan mungkin jauh lebih baik dari pada air sumur Wadon karena berasal dari delapan sumber mata air yang berbeda , tentu kandungan - kandungan mineral nya lebih banyak dan lebih kaya nutrisi nya berguna bagi siapa saja yang meminum nya , termasuk kemungkinan bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti legenda diatas , tetapi semua itu perlu pengujian dan penelitian lebih lanjut ... Sehingga bisa dipertanggungjawabkan secara medis dan ilmiah ..
Juli 2014.
Terimakasih ...
Sumber Buku Mengais Jejak Bumi Kahuripan .
31 Desember 2018
Mencari Peradaban Kuno
Indonesia di masa lalu dikenal sebagai bangsa yang besar dan disegani oleh semua bangsa di didunia . Semua itu karena Nusantara pada masa itu telah maju diberbagai bidang kehidupan.
Dalam berbagai bidang , Nusantara telah memiliki keunggulan seperti di bidang pertanian , pelayaran , maupun arsitektur yang seni tinggi , seperti yang terlihat dari peninggalan - peninggalan berbagai periode kerajaan , seperti Candi Borobudur , Candi Prambanan , atau Candi- Candi yang elok di Jawa Timur .
Namun dari semua peninggalan yang telah dikemukakan diatas itu rasanya terlalu sedikit bila kita mau berpikir rasional tentang peradaban kita dahulu . Kalau candi nya saja semegah itu , mengapa tidak terpikirkan untuk mencari tentang teknologi yang digunakan pada peninggalan lainnya seperti teknologi tata kota , teknologi sistem irigasi nya? Kenapa hanya situs- situs yang ditemukan saja yang di bahas? Bukankah masuk akal bila masih banyak peninggalan lain yang belum ditemukan yang berada disekitar kita?
Karena bisa saja situs-situs yang belum diketemukan itu akan benar-benar hilang karena ketidaktahuan kita? Karena ketidakpedulian kita? Mungkin saja situs-situs tersebut masih terkubur dibawah permukaan tanah , karena berbagai sebab . Bisa saja situs-situs tersebut sekarang jadi lahan persawahan atau perkebunan , namun yang sangat disayangkan kalau situs-situs tersebut jadi lahan perusahaan atau perumahan , bukanlah sulit untuk mengungkap nya?
Bukankah yang rugi kita semua jika situs- situs peninggalan leluhur kita lenyap ? Bukan tidak mungkin dalam situs-situs tersebut tersimpan teknologi yang masih bisa dimanfaatkan di kehidupan bangsa kita sekarang ?
Untuk itulah diperluk Y6an kesadaran dari kita semua untuk menelusuri dan mencari jejak-jejak peradaban masa lalu untuk diselamatkan , dipelajari , dan dimanfaatkan untuk kehidupan masyarakat sekarang ini . Tulisan ini merupakan catatan kegiatan yang telah kami lakukan selama ini , tentu bukan bermaksud untuk menonjolkan diri kami tetapi semata-mata demi kecintaan kami pada Nusantara ini.
Apakah peradaban itu ? Peradaban adalah hasil cipta karya manusia yang meliputi beberapa aspek kehidupan manusia yang berhubungan dengan bagaimana cara hidup nya , bahasa nya , struktur dalam susunan masyarakat nya , seni budaya nya , kehidupan religius nya dan arsitektur nya.
Dalam kondisi seperti sekarang ini , sangat sulit sekali untuk mencari jejak- jejak peradaban kuno tersebut . Hal ini karena adanya peradaban yang lebih modern yang kebanyakan merusak jejak-jejak peradaban sebelum nya .
Namun jejak-jejak yang bersifat non fisik tetap lah tersisa di masyarakat , seperti dongeng , legenda , ataupun mitos yang ada . Walau tidak semua dongeng , legenda , dan mitos itu benar seluruhnya , namun dari sana lah kita bisa mengambil informasi yang masuk akal untuk kita telusuri . Setelah kita memilah - Milah dongeng , legenda , maupun mitos yang ada , kita lalu bergerak ke lapangan untuk mencari pembuktian fisik darinya .
Kita bisa mencari jejak-jejak fisik peradaban kuno dari dongeng , legenda , maupun mitos tersebut di tempat- tempat yang relatif aman dari sasaran pembangunan masa kini . Tempat - tempat tersebut biasanya adalah sawah , punden , pemakaman , dan bahkan tempat- tempat yang angker . Punden adalah sebuah tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat .
Kemudian jangan lupa untuk bertanya tentang segala informasi dari tempat yang akan kita telusuri kepada warga desa setempat , misalnya Tetua Dusun ataupun Juru Kunci ( Kuncen) . Dan jangan lupa kita selalu niatkan dalam hati kita bahwa kita bergerak semata-mata untuk menelusuri sejarah leluhur kita .
Salah satu jejak yang mudah kita kenali sebagai jejak peradaban kuno adalah adanya batu bata yang ukurannya jauh lebih besar dari ukuran bata sekarang . Batu bata kuno era Mojopahit biasanya berukuran 32.5 x 22.5 sentimeter namun ukuran yang lebih besar maupun lebih kecil juga ada , selain itu kekuatan bata kuno dibandingkan bata sekarang juga berbeda , bata kuno jauh lebih kuat dari bata sekarang .
Setelah tahu dan paham tentang ukuran batu bata kuno , maka kita dapat membedakan antara batu bata kuno dan batu bata zaman sekarang , walaupun bata- bata kuno tersebut tinggal pecahannya saja di suatu tempat yang kita datangi .
Jejak fisik peradaban kuno lainnya adalah benda-benda yang terbuat dari batu Andesit seperti Yoni , lingga , uang kuno atau nisan . Gerabah atau tembikar yang terbuat dari tanah liat , keramik Asing dari negara seberang seperti Tiongkok , demikianlah yang bisa kami tuliskan semoga bermanfaat .
Terimakasih ...
Selamat mencari .....
Sumber : Buku Mengais Jejak Peradaban Bumi Kahuripan .
4 September 2018
KIRAB AGUNG MOJOPAHIT WIWITAN
Maka dengan tema tersebut ditampilkanlah sebuah iring-iringan tentang kisah pembukaan Hutan Trik tersebut, mulai dari prajurit-prajurit yang membawa kapak, tombak, hingga pohon Mojo yang merupakan tema utamanya. Sebenarnya sebuah dramatikal tentang penamaan Mojopahit siap dilakukan oleh peserta karnaval dari Kedung Bocok ini tetapi karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan dramatikal tersebut tidak dapat dilakukan, padahal dengan dramatikal ini Desa Kedung Bocok hendak menampilkan pesan pada masyarakat yang melihat karnaval itu tentang adanya sejarah besar di Tarik yang mempengaruhi perjalanan sejarah bangsa ini.
Dalam iring-iringan ini terdapat Panji dan Pataka Mojopahit, sejumlah pusaka yang berada di depan kereta kencana kemudian pohon Mojo dan buah Mojo, sejumlah Prajurit Tartar yang ditodong Prajurit Mojopahit yang merupakan pesan kalau sebenarnya bangsa kita ini juga sangat tangguh sehingga bisa mengalahkan Pasukan Tartar.
Bila saja penulis boleh mengkisahkan walaupun dalam tampilan iring-iring karnaval Desa Kedung Bocok itu sederhana dan terkesan seadanya, tetapi itu menggambarkan betapa beratnya perjuangan pembukaan hutan Trik hingga berdirinya Mojopahit.
"Dalam iring-iringan itu ikut pula sejumlah Resi Utama, Sejumlah putri Kaputren, Tiga Bregodo pasukan berkuda yang sebelah kanan kudanya berwarna putih, sebelah kiri kereta kencana pasukan berkuda yang kudanya berwarna hitam dan yang berada di belakang kereta pasukan berkuda yang kudanya berwarna hitam... sungguh megah iring-iringan itu...
Demikianlah sebuah upaya dari Desa Kedung Bocok dalam memperkenalkan kembali Mojopahit kepada masyarakat Tarik.
11 Juni 2018
BERBAGAI MACAM KOIN KUNO DIALAS TRIK
Uang adalah alat tukar perdagangan dari masa ke masa yang telah ada sejak dahulu kala. Di Jawa selain koin lokal (Koin Gobog) juga ditemukan koin-koin asing dari berbagai masa, kebanyakan koin asing itu berasal dari Tiongkok.
Dari temuan koin kuno dan juga cerita warga setempat khususnya di Situs Alas Trik ini dapat diduga kalau dulunya tempat ini adalah tempat yang penting, kemungkinan ada hubungannya dengan pemukiman awal Mojopahit seperti yang telah dituliskan Serat Pararaton, Kidung Harsawijaya, Kidung Panji Wijayakrama maupun Prasasti Butak yang menceritakan pendirian Mojopahit di Alas Trik.



























