G A R D A W I L W A T I K T A

Blog ini bertujuan sebagai wadah/sarana ilmu pengetahuan, sejarah, mitos, dan juga pencarian jejak-jejak peradaban peninggalan Kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Silahkan bagi yang ingin mengikuti komunitas ini kita bisa belajar bersama-sama, karena kami juga sangat minim pengetahuan, dan diharapkan kita bisa sharing berbagai informasi tentang sejarah yang ada di Nusantara ini...

Laman

Tampilkan postingan dengan label Pelestarian Sejarah dan Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pelestarian Sejarah dan Budaya. Tampilkan semua postingan

7 Februari 2021

Peradaban Sambung Rejo Part 2


          Upaya penyelamatan artefak artefak di makam Pagar Kidul kembali dilakukan, Selasa 1 Februari 2021 kami ( Mbah Mulo, Moch Azreil, Dedi Pramudya W, Mas Alik dan penulis  ) kembali menyisir makam Pagar Kidul untuk mengumpulkan artefak artefak yang minggu lalu kita identifikasi untuk dipindahkan ke tempat yang aman. 

         Setelah mengumpulkan artefak artefak tersebut Mbah Mulo bersama mas Alik menuju Toko galangan milik H. khusaeri untuk meminta izin membawa temuan ke rumah Beliau, untuk dijadikan satu dengan Fragmen Batu Andesit ber inskripsi, H. Khusaeri mengijinkan, akhirnya kami membawa Batu Berukir, Fragmen Batu Pilihan, Fragmen Keramik asing ke halaman rumah H. Khusaeri. 
         Pada kesempatan itu kami ditemui saudara H. Khusaeri yang ternyata adalah seorang Guru, kami disuguhi air mineral dan makanan oleh Beliau, ternyata Beliau sangat ramah dan suka sejarah, setelah membersihkan artefak dengan air , Mbah Mulo, Dedi dan Azreil menata disebelah Batu ber inskripsi, kemudian membuat sebuah dialog yang didokumentasi oleh Mas Alik dan Penulis. 
   
  Setelah bercengkerama sambil menikmati buah Nangka dan Kue yang disuguhkan kami mohon diri kepada saudara H. Khusaeri untuk menelusuri jejak peradaban di desa Kelopo Sepuluh masih ikut kecamatan Sukodono Kabupaten Sidoarjo. 


Agus Subandriyo, Penulis. 
     
Share:

13 Desember 2020

Kunjungan BPCB Jawa Timur didesa Seketi


      Siang itu 10 September 2020 setelah pulang dari Dinas Kebudayaan Jawa timur Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur bapak Zakaria Kasimin dan bapak Wicaksono Dwi Nugroho Arkeolog memenuhi janjinya untuk mampir didesa Seketi , sebelumnnya Pemerintah Desa Seketi memang berkunjung ke Situs Kumitir pada hari hari terakhir eskavasi untuk melihat proses eskavasi , disana mereka bertemu bapak Zakaria Kasimin ,bapak Wicaksono Dwi Nugroho ,bapak Andi Mochammad Said , Camat Jatirejo dan yang lain . 


       Saat itulah bapak Fery Aries Tya memaparkan keadaan dan potensi sejarah budaya desa Seketi kepada bapak- bapak pimpinan BPCB Jawa Timur, bapak Zakaria tertarik dengan pemaparan itu dan berjanji akan mampir ke Seketi sepulang dari Dinas Kebudayaan Jawa Timur di Surabaya  . Lihat Video disini https://youtu.be/J_U9utzCd1M

       Sekitar pukul 13.45 WIB mobil bapak Zakaria tiba di balai desa Seketi disambut dengan ramah tamah oleh Pj Kepala Desa Seketi bapak Anang , bapak Fery Aries Tya , sejumlah perangkat desa , BPD dan tokoh masyarakat di Resto Sejahtera yang ada disebelah pendopo . Penulis  sendiri hadir pukul 14.30 WIiB karena baru pulang kerja , bapak Fery menunjukkan temuan fragmen miniatur Candi kepada bapak Zakaria dan bapak Wicaksono yang ditemukan dari Situs Guo Mbah Prabu Joko , setelah makan Rujak Ulek bersama , pemerintah desa Seketi mengajak bapak Zakaria dan bapak Wicaksono menuju situs Sentono Projo , sebelumnya bapak Zakaria meminta penulis untuk menghubungi mas Agus Mulyono dari Terung Wetan untuk datang karena bapak Zakaria selaku Kepala BPCB Jawa Timur ingin mendengar langsung apa dan bagaimana Situs Terung dari mas Agus Mulyono , penulispun menghubunginya dan mas Agus Mulyono berjanji akan datang ke Seketi .  



          Sekitar pukul 15.30 WIB rombongan tiba di Situs Sentono Projo untuk melihat potensi Tinggalan Cagar Budaya disana , bapak Fery dan penulis mencoba menjelaskan tentang struktur bata yang berada dibawah akar pohon Kepuh , saat itu mas Agus Mulyono ( Mbah Mulo ) dan mas Candra telah tiba disana , penulis meminta pada mas Candra untuk menjelaskan bagaimana kondisi Situs Sentono Projo sebelumnnya kepada bapak Wicaksono dan bapak Zakaria , menurut Candra Gondrong dulunya struktur bata terlihat jelas disekitar bawah pohon Kepuh itu ,bentuknya berundak namun sebagian memang sudah rusak , itu keadaan sebelum keadaan yang seperti sekarang  . Menurut pendapat bapak Wicak selaku Arkeolog biasanya  kalau ada struktur terhimpit akar pohon maka kebanyakan struktur itu akan rusak , namun bisa saja eskavasi dilakukan untuk mengetahui potensi cagar budayanya .  Ketika rombongan hendak menuju Situs Guo bapak Zakaria meminta Mbah Mulo untuk ikut dengannya dalam mobil ,karena Beliau ingin mendengar perihal situs Terung dari Mbah Mulo . Lihat Videonya ArkeoVlog disini https://youtu.be/EYslYiXoaOo


          Rombongan tiba di Situs Guo dan Makam Prabu Joko , penulis mencoba menunjukkan struktur bata yang disebut Guo itu , namun karena Mbah Mulo yang  pernah masuk kedalamnya maka gantian Mbah Mulo yang memaparkannya kepada Bapak Zakaria yang begitu antusias mendengar penjelasan Mbah Mulo . 


         Menurut bapak Zakaria bisa saja dilakukan penyingkapan tanah disisi selatan situs Guo untuk mengetahui sejauh mana arah struktur bata ini mengarah apalagi temuan fragmen Terakota minniatur Candi ttersebut ditemukan disisi selatan ketika pembangunan pondasi Musolah , bapak Pj Kepala Desa dan bapak Fery Aries Tya berharap semoga ditahun 2021 mendatang pihak Pemerintah Desa dan DisBudPora Sidoarjo bisa menganggarkan dana buat eskavasi . Lihat videonya disini https://youtu.be/20MVi3DzCWg

        Sekitar pukul 17.00 WIB rombongan BPCB meninggalkan desa Seketi , semoga akan ada upaya upaya lanjutan untuk mengungkap misteri peraadaban yang ada di Situs Sentono Projo dan Situs Guo khususnya dan desa Seketi Umumnya , Terimakasih ...




Agus Subandriyo , Penulis
Share:

25 Desember 2019

TEMUAN TERAKOTA PECAHAN MINIATUR CANDI DI SITUS GUO HINGGA SENDRATARI PERTAMA DI SIDOARJO


                  Minggu akhir dibulan September 2019 kami dari Putra Kedhaton Mojopahit dan Garda Wilwatikta sering berada didesa Seketi karena pihak desa Seketi merencanakan sebuah acara besar yang akan digelar bulan November mendatang , keberadaan kami untuk memberi masukan tentang berbagai hal demi kesuksesan acara tersebut walau beberapa kali sebelumnya kami sudah ke beberapa titik didesa ini untuk melakukan penelusuran jejak peradaban .

             Minggu itu tanggal 21 September 2019 kami berbincang-bincang dengan kepala desa , sekretaris desa dengan beberapa orang perangkat desa di Caffe Seketi yang berada di balai desa , Bapak H. Seger Sutrisno kades Seketi terlihat sangat antusias dengan kehadiran kami yang membantu mengangkat dan mengungkap kembali Budaya dan sejarah desa . Bahkan saat itu bapak Seger Sutrisno ingin mengajak kami sowan ke sebuah tempat didekat Petirtaan Jolotundo namun karena malam telah larut akhirnya Beliau mengajak kami ke Situs Guo dan Makam Mbah Prabu Joko , menurut kades Beliau melihat adanya Candi didekat Situs Guo sejak dahulu , kamipun meninggalkan balai desa menuju Situs Guo dengan mengendarai motor .

       Sesampai di lokasi seperti biasa penulis berkeliling disekitar situs terutama disisi selatan yang baru saja dibangun pondasi , Dedik Klagen , Mochamad Zuhri ikut berkelilingi diseputar bekas urukan tanah demikian pula Mbah Hadi , tak lama kemudian Dedik Klagen menemukan sebuah pecahan Terakota dan diperlihatkan kepada penulis , yang ternyata pecahan itu adalah sebuah pecahan Terakota dari sebuah miniatur bangunan Candi .


            Kami semuanya segera mencari - cari dan menemukan lagi beberapa pecahan Terakota lagi yang semakin memperkuat dugaan kalau itu adalah pecahan miniatur dari sebuah Candi atau setidak- tidaknya gapura Paduraksa .
          Penulis pun segera berkata pada bapak Seger Sutrisno , " Pak Lurah bapat tadi bilang kalau menurut penglihatan bapak ditempat ini terlihat beberapa candi , itu bisa saja benar karena yang kita temukan malam ini adalah pecahan Terakota Candi , ini dugaan kuatnya adalah miniatur candi yang sering terlihat itu pak ".
      Mendengar perkataan penulis bapak Seger Sutrisno berkaca - kaca serta terbata - bata menjawab , " Alhamdulilah mas berarti benar apa yang saya lihat bahwa di sekitar makam Mbah Prabu Joko ini ada candinya ".

       Kemudian segera Bapak Seger Sutrisno mengambil foto dan video atas temuan ini bahkan Beliau dengan terbata - bata bersuara pada rekaman video tersebut , temuanpun semakin banyak sehingga memaksa pak Sekdes Fery untuk memanggil anak- anak karangtaruna untuk membantu membawa temuan penting ini di balai desa Seketi sambil mewanti - wanti mereka untuk tidak memosting dulu temuan ini ke media sosial demi keamanan . Dokumentasi Video lihat disini 
https://youtu.be/iHL27BtuPsU .

           Setelah itu kami semua duduk diatas tikar yang telah digelar untuk berdoa karena telah diberikan salah satu bukti penting kalau dahulu kala pernah ada peradaban besar di desa Seketi .


           Tidak lama setelah peristiwa itu pihak desa Seketi menyampaikan kepada kami komunitas yang ada di Situs Alas Trik Kedungbocok Tarik Sidoarjo akan menggelar acara kirab budaya besar - besaran seperti yang pernah diadakan dikedung bocok namun diadakan ditengah - tengah festival Kampung Bambu , saat itu penulis menjanjikan akan mengajak seseorang yang biasa menangani acara kirab budaya untuk membantu desa Seketi menggelar acara .
Lihat disini video Sarasehan Budaya https://youtu.be/qWpkSwo0gFU .

            Adalah Ahmad Mambo begitu namanya akrab dipanggil , seorang seniman penggiat budaya dari Gedeg Mojokerto yang sudah malang melintang di Mojokerto , Jombang dan daerah lain sukses menggelar berbagai macam acara budaya seperti kirab dan sendratari . Akhirnya Mambopun datang ke rumah penulis untuk kemudian datang ke desa Seketi menemui Sekdes mas Fery bersama mas Abdul Rohman bayan Seketi membahas acara yang akan digelar didesa Seketi .

           Selanjutnya Mambo , Taurus , Pardy serta teman - temannya dengan sabar dan telaten melatih ibu - ibu PKK , pemuda - pemudi serta tak ketinggalan RT RW setempat untuk bermain sendratari yang rencananya akan digelar selain acara kirab , sebuah keinginan besar untuk mengangkat cerita legenda desa Seketi yaitu Legenda Prabu Joko .
        Tentu saja banyak tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan acara - acara tersebut , mulai dari sulitnya mengumpulkan orang untuk mau diajak berlatih sendratari sebanyak itu lebih - lebih mereka bukanlah penari , jadi sangatlah susah untuk mewujudkannya namun karena ketekunan , kesabaran serta kemauan kuat dari ibu - ibu PKK , pemuda - pemudi setempat juga dukungan total pemerintah desa Seketi akhirnya Sendratari itu bisa digelar . Lihat disini video kirab budaya Suryaning Mojopahit 
https://youtu.be/KAOQaXB81Xg .


          7 dan 9 November 2019 Rangkaian Acara Festival Kampung Bambu Seketi sukses digelar , baik acara UKM desa yang menampilkan produk - produk andalan Seketi maupun acara Budaya nya seperti Sarasehan Budaya , Pameran Benda Cagar Budaya , Pameran Pusaka ,Kirab budaya Suryaning Mojopahit dan Acara puncak Sendratari Legenda Prabu Joko .


        Penulis menyaksikan sendiri dalam kirab budaya yang dimulai dari Sentono Projo itu dibuka sendiri oleh bupati Sidoarjo  yang dihadiri berbagai komunitas seperti Mojopahit Lelono , Save Trowulan , Relawan Putra - Putri Mojopahit , Putra Kedhaton , Garda Wilwatikta , Lipan , Gerbang Kertosusilo , Sanggar Bhagaskara dan lain - lain juga acara puncaknya yaitu Sendratari Legenda Prabu Joko yang sukses digelar warga Seketi , terlihat setelah pementasan para pemain , kades beserta jajarannya termasuk Mambo , Taurus menangis haru , mereka semua tidak menyangka akan bisa menggelar acara sebesar ini bahkan ini adalah acara pertama di Sidoarjo , sebuah desa mampu menggelar sendratari kolosal ! Lihat disini video Sendratari Legenda Prabu Joko https://youtu.be/FqS9GuUyZTM.

        Selamat untuk desa Seketi , selamat melestarikan Budaya dan Sejarah !
Jasmerah ! Jangan lupakan Sejarah !

       Terimakasih

Agus Subandriyo , Penulis .
       
Share:

16 Maret 2019

Selayang Pandang Jejak Peradaban Desa Seketi


                Pada hari itu Ki Moctar Ali menghadap ke kotaraja Mojopahit di Antawulan untuk meminta izin dari Prabu Majapahit memenuhi perintah gurunya menyebarkan agama Islam di wilayah Majapahit .
              Baginda Prabu setelah mendengar penuturan Ki Moctar Ali tentang keinginannya melaksanakan perintah Sunan Ampel segera memberikan izin dan restunya bahkan Beliau memerintahkan beberapa orang punggawanya untuk menyertai Ki Moctar Ali menuju arah timur yaitu Alas Trik tempat dimana Majapahit didirikan , Ki Moctar Ali menuju arah timur Alas Trik disana menemukan bekas bangunan kuno yang berupa lorong kuno didekat pohon Kecacil yang terkenal angker dan wingit .


       Oleh Ki Moctar bekas lorong tersebut dipergunakan sebagai tempat bertafakur mendekatkan diri pada Tuhan karena sebelumnya Beliau bermimpi didatangi Sunan Ampel gurunya untuk mendapatkan petunjuk dalam melaksanakan tugasnya mensyiarkan agama Islam , begitulah sedikit illustrasi yang bisa penulis nukilkan dari Sejarah Situs Guo dan Makam Prabu Joko  yang tertulis di Website Desa Seketi .
         
          Memang benar bila kita melihat secara teliti didalam lobang Guo tersebut disisi timur terdapat struktur bata yang mirip dinding yang berorientasi utara dan selatan demikian pula disisi barat namun dibagian ini terlihat miring mungkin terkena desakan akar pohon Kecacil yang ada , selain itu melihat ukuran bata kuno yang besar dan tebal dengan ukuran rata- rata 32.5 cm × 22.5 cm dengan ketebalan sampai 7 cm menunjukkan kalau bata-bata kuno ini diduga kuat berasal dari era Majapahit , ini menunjukkan kalau di desa Seketi ini terdapat jejak peradaban kuno seperti didesa Suwaluh , Watesari , Kemangsen dan Bakalan Wringinpitu .
          Lebih- lebih ditimur desa Seketi tepatnya didusun Klagen desa Tropodo masuk kecamatan Krian terdapat Temuan Prasasti kuno era Kahuripan yaitu Prasasti Kamalagyan yang isinya menceritakan pembangunan sebuah Dawuhan atau bendungan Waringin Sapta karena adanya banjir besar yang merusak pertanian dan pemukiman penduduk saat itu , tentu saja ini bisa menjadi sebuah dugaan kalau didesa Seketi  juga bagian dari peradaban Kahuripan tersebut , setidak- tidaknya era  Majapahit .


        Pemerintah desa Seketi dibawah koordinasi Bapak H. Seger Purwanto , Sekretaris Desa Bapak  Fery Ariestyanto , Bapak Samsul Hadi dan Bapak Abdul Rochman sejak tahun 2013 berupaya merawat dan melestarikan peninggalan tersebut dengan membebaskan lahan , membuat jalan masuk , membuat pagar dan sejumlah fasilitas yang lain di Situs Guo dan Makam Prabu Joko ini termasuk berupaya menelusuri sejarah asal- usul desa Seketi seperti yang tertulis di Website desa Seketi .
        Upaya melaporkan Situs Guo juga sudah dilakukan oleh Pemerintah desa Seketi ke Dinas terkait di kabupaten Sidoarjo yang akan diteruskan ke Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur , namun belum ada tindak lanjutnya .
       Beberapa hari yang lalu Kami dari komunitas yang bergerak di Situs Alas Trik mengunjungi Situs Guo untuk bersilahturahim dengan warga dan Pemerintah desa Seketi untuk sharing tentang berbagai hal terkait situs , beberapa hari setelahnya beberapa teman dari komunitas Keris juga merapat disitus yang dipimpin mas Aris Siswanto diterima dengan hangat oleh Kades H. Seger Purwanto demikian pula perangkat desa yang lain seperti Pak Fery mas Agung .
        Ada beberapa versi yang ada tentang peradaban yang ada didesa Seketi yang intinya berawal dari masa Kahuripan dilanjutkan era Majapahit , menurut versi dari mas Aris Siswanto setelah era Kahuripan berakhir tempat tersebut dijadikan semacam pendharmaan seorang Patih awal Majapahit yang bernama Prajapati dan ada sebuah versi lain lagi .
       Menurut keterangan bapak Sudiyo putra dari Ibu Sadiyah Almarhum selaku juru kunci ketika masih hidup ada sebuah sumur kuno diselatan Situs Guo , kini diluar pagar dan ada sebuah struktur bata ditempat lain namun masih satu garis bisa ditarik dari situs Guo , demikian sejumlah warga menceritakan ada temuan bata bata kuno besar disungai maupun persawahan .
          Dari keterangan diatas dapat disimpulkan kalau situs Guo ini bukan situs tunggal , ada rentetannya disekitarnya  , demikianlah sejumlah upaya terus dilakukan oleh warga dan pemerintah desa Seketi untuk mengetahui bagaimana sebenarnya sejarah desanya dengan mengundang Jawa pos untuk meliput Situs Guo dan Makam Prabu Joko agar mendapat respon dari pihak terkait .
      Semoga akan ada respon dari pihak terkait ...
Terimakasih
Agus Subandriyo , Penulis.
Share:

1 Februari 2019

Paradigma Sejarah lokal


        Paradigma dalam disiplin intelektual adalah cara pandang orang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir( kognitif), bersikap( afektif), dan bertingkah laku( konitif).
     Paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi Konsep, nilai, dan praktik yang diterapkan dalam memandang realitas dalam sebuah komunitas yang sama, khususnya, dalam disiplin intelektual.
        Kata paradigma sendiri berasal dari abad pertengahan di Inggris yang merupakan kata serapan dari bahasa Latin yang Pada tahun 1483 Masehi yaitu paradigma yang berarti suatu atau pola, bahasa Yunani nya Paradeigma ( para+deiknunai) yang berarti untuk " membandingkan" bersebelahan ( para ) dan memperlihatkan ( deik ) sumber Wikipedia.
             Sementara itu dalam pengertian objektif Sejarah lokal adalah proses perkembangan keaktifan kemanusiaan di daerah tertentu.
       Pengertian daerah disini adalah lingkungan geografis tertentu yang sudut pandangnya bisa dipersempit atau diperluas karena batasan luasan dari area sejarah lokal tersebut sulit ditentukan.
        Pada era digital ini fungsi dan manfaatnya sejarah lokal sesungguhnya amat diperlukan baik dari sisi ketahanan sejarah budaya nya maupun manfaat ekonominya , walaupun belum diterapkan dengan sepenuhnya karena kurangnya konsep dan kemauan dalam menggelutinya .
        Sesungguhnya potensi manfaat Sejarah lokal di setiap desa ataupun kecamatan sangat melimpah hanya saja kurang ada perhatian dan kemauan untuk mengungkap ,meneliti , merekonstruksi, dan memanfaatkannya sebagai sumber pendapatan daerah .
     Contoh sederhana disebuah desa di kecamatan Tarik misalnya yaitu didesa KedungBocok pada 3 Februari 2018 yang lalu telah ditemukan struktur pondasi didekat pemakaman ,setelah mengalami berbagai proses walaupun belum ada penelitian resmi' dari pihak terkait namun diduga kuat tempat tersebut adalah titik nolnya Mojopahit ( sesuai hasil sidak BPCB Trowulan dan telaah Serat Pararaton ) , bila saja potensi sejarah lokal Desa KedungBocok ( termasuk desa - desa lainnya seperti Terung Wetan , Urangagung contoh yang ada di wilayah kabupaten Sidoarjo ) tersebut dikelola dengan baik tentunya akan menambah pendapatan desa tersebut , termasuk menjadi sumber mata pencaharian masyarakat setempat dengan cara dijadikan situs tersebut sebagai Wisata Desa , terlebih nilai situs desa KedungBocok sangat penting karena menyangkut asal mula Mojopahit di hutan Trik , belum lagi dari sisi yang lain akan memberikan kontribusi nya misalnya kuliner ataupun produk-produk  kerajinan setempat akan menjadi ciri khas tersendiri.


     Jadi belajar, mengungkapkan , melestarikan sejarah lokal bukan berarti kita harus menjadi kuno , menjadi Hindu atau Budha tidak karena tidak semua peninggalan sejarah itu kuno atau primitif karena justru dari artefak yang ditemukan akan terlihat keunggulan keunggulan nya yang bertahan ratusan tahun , dari sana dapat kita bayangkan betapa bagusnya kontruksi bangunannya , arsitekturnya , betapa bagus pengolahan bahan baku bangunannya dan lain sebagainya .
         Bahkan dari sejarah - sejarah lokal yang ada tersebut akan menjadi salah satu sumber sejarah bangsa kita ,terutama untuk melengkapi dan membandingkan dengan literatur yang telah ada , semua itu akan menjadi keilmuan di bidang sejarah,  ingat sejarah itu adalah sebuah peristiwa yang sudah selesai dan tidak akan mungkin berubah tetapi pengetahuan tentang sejarah akan selalu berubah-ubah sesuai dengan temuan - temuan baru atau berubahnya metode dalam memahami sejarah ...
Terimakasih .
Share:

7 Januari 2019

Sedikit Tentang Komunitas Garda Wilwatikta

       Komunitas pecinta sejarah dan budaya Garda Wilwatikta Tado Singkalan adalah sebuah komunitas yang berdiri karena keprihatinan para penggiat dan pemerhati Sejarah budaya yang ada di Sidoarjo khususnya , adalah Agus Subandriyo seorang anggota komunitas Balasatya Wetan mengajak beberapa pemuda yang cinta akan sejarah Nusantara membentuk komunitas Garda Wilwatikta untuk bergerak menelusuri jejak-jejak sejarah disekitar kecamatan Balongbendo serta memberi pemahaman akan peradaban juga persebarannya .
         
         Mereka adalah Eko Finda Jayanto , Abdul Aziz Samsudin dan Dicki Wahyudi , sejak akhir Agustus 2015 Garda Wilwatikta mulai menelusuri persawahan , Makam - Makam , Punden yang ada disekitar kecamatan Balongbendo hingga Tarik dan Krian ,  mulailah hari-hari dengan berbagai temuan , pecahan bata kuno , pecahan gerabah , keramik , sumur - sumur kuno hingga memberanikan diri melakukan observasi mandiri dengan melakukan sedikit penggalian di sebidang tanah milik seorang warga di Dukuh Pulolancing Kedung Sukodani untuk membuktikan dugaan adanya peradaban kuno yang terpendam di desa tersebut .
          
              Untuk mengabadikan kegiatan mereka tersebut dibuatlah Blog , saluran You Tobe dan group Facebook yang memuat kegiatan dan temuan - temuan mereka , semua upaya tersebut bukanlah tujuan utama mereka karena sebenarnya tujuan utama mereka adalah tumbuhnya kesadaran seluruh elemen masyarakat untuk sadar , mencintai peninggalan- peninggalan sejarah budaya serta turut melestarikan nya .

             Hingga suatu hari datanglah seorang pemuda aktivis sejarah dan budaya dari Surabaya memberikan support untuk mendorong Garda Wilwatikta untuk mencatat seluruh kegiatan nya dalam sebuah buku . Setelah menyakinkan pentingnya sebuah catatan yang berupa buku pada Agus Subandriyo terutama untuk kepentingan dimasa - masa depan akhirnya Noer Satriawan bisa tersenyum karena akhirnya Garda Wilwatikta membuat sebuah buku yang berisi catatan tentang kegiatan- kegiatan mereka , buku tersebut ditulis oleh Agus Subandriyo dengan editor nya Abdul Aziz Samsudin sekaligus desain Covernya , Setting oleh Burhan Fatahilah dan Konektor Edwin Mardianto dari Balasatya Wetan .
 
       Karena ketiadaan dana untuk menerbitkan buku di penerbit , akhirnya dicetak beberapa buah untuk diberikan ke beberapa pihak sebagai wujud keberadaan Garda Wilwatikta sebagai salah satu komunitas pecinta sejarah dan budaya Nusantara , khusus nya di Sidoarjo .   Alhamdulillah atas bantuan serta upaya seorang guru di Gresik yaitu Ibu Ismawita akhirnya buku Mengais Jejak Peradaban Bumi Kahuripan diterbitkan oleh Pihak Perpustakaan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan kini menjadi koleksi Perpustakaan di Surabaya .

       Semoga ini adalah langkah awal untuk terus bergerak dan berkarya dimasa - masa mendatang yang bermanfaat bagi upaya pelestarian sejarah budaya .

   Terima kasih .

Share:

1 Januari 2019

Tata Pemerintahan yang aneh dan legenda Pencarian Air Liur Naga di desa Suwaluh.

              Ketika sore hari empat orang Pecinta dan pemerhati Sejarah mendatangi rumahnya Bapak Kades Suwaluh H. Mochammad Heru Sulthon yang berada ditepi jalan Raya Mojokerto Surabaya sebelah Utara , mereka adalah Sigit Hariadi, Burhan Fatahilah, Ikhwan Darmo dan Aris Kusbiyanto . Ketika itu menjelang Maghrib Abah Heru begitu nama Kades biasa disebut mempersilakan keempat tamunya , mereka pun masuk diruang tamu , Ikhwan Darmo salah seorang yang berusia paling matang memulai pembicaraan tentang kemungkinan izin dari Kades Suwaluh untuk pembukaan sebuah tempat yang diduga sebuah Situs peninggalan Purba yaitu Situs Pelawangan .
         Setelah terjadi proses pembicaraan tentang latar belakang dan alasan mengapa Situs tersebut harus dibuka, Abah Heru pada intinya menyambut baik keinginan keempat Pecinta dan pemerhati Sejarah , namun Beliau akan mengkomunikasikan dengan pihak - pihak terkait dalam hal ini seperti para pemilik tanah dan perangkat Desa secara keseluruhan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan , pada kesempatan ini Sigit Hariadi sedikit menceritakan tentang kisah Situs Pelawangan dan beberapa kegiatan sebelum nya dengan yang dilakukan dengan sejumlah tokoh .
             Sejak saat itu dilakukan pertemuan- pertemuan intensif baik itu di rumahnya Abah Heru atau di Balai desa Suwaluh , sekitar awal bulan Februari 2014 mereka amat inten melakukan pertemuan tersebut sampai akhirnya dicapai kesepakatan bahwa pembukaan Situs Pelawangan akan digunakan tanggal 14 Februari 2014 . Dari sering nya pertemuan dengan Kades maupun perangkat Desa lainnya ditemui keanehan - keanehan , misalnya dalam tata Pemerintahan desa Suwaluh terdapat dua  dusun , yaitu dusun Pelawangan Utara ( Suwaluh Utara ) yang Kasun nya ibu Yuli dan dusun Pelawangan selatan ( Suwaluh Selatan ) dengan Kasun nya bapak Mulyono , dari sini masyarakat Suwaluh secara turun-temurun menyebut dua tempat yang lebat dengan pepohonan ditengah persawahan desa adalah Pelawangan , yang sebelah Utara disebut Pelawangan lor dan yang Selatan Pelawangan kidul . Menurut legenda setempat konon dikedua tempat ini dihuni Naga atau Ular raksasa , di Pelawangan lor menurut warga ada sebuah sumur yang terdiri dari susunan bata kuno melingkar disebut sumur Lanang sementara di Pelawangan kidul ada sumur yang berbentuk kotak disebut sumur Wadon , bisa disimpulkan dari bentuk kedua sumur tersebut mengisyaratkan kalau Naga yang menghuni Pelawangan lor adalah Naga laki- laki atau Lanang sementara di Pelawangan kidul adalah Naga perempuan atau Wadon .
         Justru yang aneh kedua Kasun tersebut malah menjadi pamong di kedua tempat yang tidak berpenghuni alias hanya persawahan belaka ! Ketika ditanya tentang hal itu Bapak Mulyono tidak dapat menjawab nya karena kenyataannya kedua tempat itu tidak ada warga yang tinggal di sana demikian pula Ibu Yuli juga tidak bisa menjawab nya , lantas dengan nada bercanda Abah Heru berkata ," Berarti pak Mulyono punya warga demit ?". Mereka semua senyum - senyum dan merasa heran kenapa semua itu bisa terjadi .
         Dari keterangan warga kalau bata- bata kuno di Pelawangan lor telah diambil warga untuk pondasi beberapa rumah, untuk Pelawangan kidul relatif masih utuh karena warga takut memasuki nya karena banyaknya cerita dan kejadian- kejadian menyeramkan di sana, terutama tentang mitos Naga , lantas kenapa di Pelawangan lor warga berani mengambil bata -bata kunonya ? Hal ini terjadi mungkin karena kesalahan penempatan Kasun nya ... Seharusnya di Pelawangan kidul Kasun nya perempuan bukan laki-laki demikian pula  sebaliknya , demikian penjelasan Sigit Hariadi .
           Pembukaan Situs Pelawangan diawali dengan Tumpengan pada hari Respati Kamis Kliwon 13 Februari 2014 di Balai Desa bersama warga dan di situs Pelawangan kidul , entah kebetulan atau tidak setelah seluruh anggota team keluar dari situs beberapa menit kemudian terdengar berita kalau gunung Kelud meletus mengeluarkan abu bahkan di desa Suwaluh malam itu juga , jadi sebagai pengingat kapan pembukaan Situs Pelawangan yang izin resmi nya memakai nama BALASATYA WETAN LAKON JAGAD ( yayasan Jagad Wetan ) adalah waktu gunung Kelud meletus yaitu 14 Februari 2014.
              Setelah hampir tiga Bulan eskavasi telah sampai pada pembukaan tanah didepan kepala Sang Naga , pemuda dan warga mulai turun membantu proses tersebut , hingga akhirnya kisah yang sempat terlupakan kembali teringat yaitu dahulu kalau banyak spiritualis dari sekitar desa Suwaluh berlomba-lomba mencari ILER NOGO atau air liur Naga , bagaimana kisahnya?
         Dahulu bila ada warga yang sakit keras dan sulit untuk disembuhkan maka mereka akan mencari air liur Naga , itu berdasarkan petunjuk dari para spiritualis yang prihatin karena banyak warga yang sakit , entah ada atau belum yang menemukan ILER NOGO tadi sampai sekarang belum ada yang tahu pasti .
        Menurut legenda yang berkembang dulu terdapat patung Naga yang besar di Pelawangan kidul , dari mulut nya patung itu keluar air , mungkin dari sana lah legenda ILER NOGO itu berasal tetapi ada pula informasi lain kalau air yang dimaksudkan ILER NOGO itu berasal dari delapan mata air yang berbeda biasa disebut air yang berasal dari sumur Windu .
        Menurut hasil uji test di laboratorium Petrokimia Gresik air dari sumur Wadon Pelawangan kidul PHnya cukup baik yaitu 7 , warnanya cukup bening , baunya tidak banger tetapi terlalu banyak mengandung zat besi , mungkin hal itu karena lama tidak dikuras dan dibersihkan .
        Tentang air yang disebut ILER NOGO tadi kami berkesimpulan tidak jauh dari hasil laboratorium diatas bahkan mungkin jauh lebih baik dari pada air sumur Wadon karena berasal dari delapan sumber mata air yang berbeda , tentu kandungan - kandungan mineral nya lebih banyak dan lebih kaya nutrisi nya berguna bagi siapa saja yang meminum nya , termasuk kemungkinan bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti legenda diatas , tetapi semua itu perlu pengujian dan penelitian lebih lanjut ... Sehingga bisa dipertanggungjawabkan secara medis dan ilmiah ..

Juli 2014.

Terimakasih ...

Sumber Buku Mengais Jejak Bumi Kahuripan .
               

Share:

31 Desember 2018

Mencari Peradaban Kuno

           Indonesia di masa lalu dikenal sebagai bangsa yang besar dan disegani oleh semua bangsa di didunia . Semua itu karena Nusantara pada masa itu telah maju diberbagai bidang kehidupan.
           Dalam berbagai bidang , Nusantara telah memiliki keunggulan seperti di bidang pertanian , pelayaran , maupun arsitektur yang seni tinggi , seperti yang terlihat dari peninggalan - peninggalan berbagai periode kerajaan , seperti Candi Borobudur , Candi Prambanan , atau Candi- Candi yang elok di Jawa Timur .
        Namun dari semua peninggalan yang  telah dikemukakan diatas itu rasanya terlalu sedikit bila kita mau berpikir rasional tentang peradaban kita dahulu . Kalau candi nya saja semegah itu , mengapa tidak terpikirkan  untuk mencari tentang teknologi yang digunakan pada peninggalan lainnya seperti teknologi tata kota , teknologi sistem irigasi nya? Kenapa hanya situs- situs yang ditemukan saja yang di bahas? Bukankah masuk akal bila masih banyak peninggalan lain yang belum ditemukan yang berada disekitar kita?
          Karena bisa saja situs-situs yang belum diketemukan itu akan benar-benar hilang karena ketidaktahuan kita? Karena ketidakpedulian kita? Mungkin saja situs-situs tersebut masih terkubur dibawah permukaan tanah , karena berbagai sebab . Bisa saja situs-situs tersebut sekarang jadi lahan persawahan atau perkebunan , namun yang sangat disayangkan kalau situs-situs tersebut jadi lahan perusahaan atau perumahan , bukanlah sulit untuk mengungkap nya?
           Bukankah yang rugi kita semua jika situs- situs peninggalan leluhur kita lenyap ? Bukan tidak mungkin dalam situs-situs tersebut tersimpan teknologi yang masih bisa dimanfaatkan di kehidupan bangsa kita sekarang ?
         Untuk itulah diperluk Y6an kesadaran dari kita semua untuk menelusuri dan mencari jejak-jejak peradaban masa lalu untuk diselamatkan , dipelajari , dan dimanfaatkan untuk kehidupan masyarakat sekarang ini . Tulisan ini merupakan catatan kegiatan yang telah kami lakukan selama ini , tentu bukan bermaksud untuk menonjolkan diri kami tetapi semata-mata demi kecintaan kami pada Nusantara ini.

        Apakah peradaban itu ? Peradaban adalah hasil cipta karya manusia yang meliputi beberapa aspek kehidupan manusia yang berhubungan dengan bagaimana cara hidup nya , bahasa nya , struktur dalam susunan masyarakat nya , seni budaya nya , kehidupan religius nya dan arsitektur nya.
       Dalam kondisi seperti sekarang ini , sangat sulit sekali untuk mencari jejak- jejak peradaban kuno tersebut . Hal ini karena adanya peradaban yang lebih modern yang kebanyakan merusak jejak-jejak peradaban sebelum nya .
        Namun jejak-jejak yang bersifat non fisik tetap lah tersisa di masyarakat , seperti dongeng , legenda , ataupun mitos yang ada . Walau tidak semua dongeng , legenda , dan mitos itu benar seluruhnya , namun dari sana lah kita bisa mengambil informasi yang masuk akal untuk kita telusuri . Setelah kita memilah - Milah dongeng , legenda , maupun mitos yang ada , kita lalu bergerak ke lapangan untuk mencari pembuktian fisik darinya .
      Kita bisa mencari jejak-jejak fisik peradaban kuno dari dongeng , legenda , maupun mitos tersebut di tempat- tempat yang relatif aman dari sasaran pembangunan masa kini . Tempat - tempat tersebut biasanya adalah sawah , punden , pemakaman , dan bahkan tempat- tempat yang angker . Punden adalah sebuah tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat .
       Kemudian jangan lupa untuk bertanya tentang segala informasi dari tempat yang akan kita telusuri kepada warga desa setempat , misalnya Tetua Dusun ataupun Juru Kunci ( Kuncen) . Dan jangan lupa kita selalu niatkan dalam hati kita bahwa kita bergerak semata-mata untuk menelusuri sejarah leluhur kita .
      Salah satu jejak yang mudah kita kenali sebagai jejak peradaban kuno adalah adanya batu bata yang ukurannya jauh lebih besar dari ukuran bata sekarang . Batu bata kuno era Mojopahit biasanya berukuran 32.5 x 22.5 sentimeter namun ukuran yang lebih besar maupun lebih kecil juga ada , selain itu kekuatan bata kuno dibandingkan bata sekarang juga berbeda , bata kuno jauh lebih kuat dari bata sekarang .
      Setelah tahu dan paham tentang ukuran batu bata kuno , maka kita dapat membedakan antara batu bata kuno dan batu bata zaman sekarang , walaupun bata- bata kuno tersebut tinggal pecahannya saja di suatu tempat yang kita datangi .
Jejak fisik peradaban kuno lainnya adalah benda-benda yang terbuat dari batu Andesit seperti Yoni , lingga , uang kuno atau nisan . Gerabah atau tembikar yang terbuat dari tanah liat , keramik Asing dari negara seberang seperti Tiongkok , demikianlah yang bisa kami tuliskan semoga bermanfaat .

Terimakasih ...


Selamat mencari .....

Sumber : Buku Mengais Jejak Peradaban Bumi Kahuripan .

Share:

4 September 2018

KIRAB AGUNG MOJOPAHIT WIWITAN


     Pada siang itu setelah seluruh persiapan selesai pada pukul 13.30 WIB Jumat 31 Agustus 2018 mereka para peserta karnaval Desa Kedung Bocok berangkat menuju koramil Tarik yang berada di utara kantor Kecamatan Tarik dengan menumpang beberapa mobil yang telah disiapkan. Pada karnaval kali ini Desa Kedung Bocok menampilkan tema Pembukaan Alas Trik sesuai dengan permintaan Kepala Desa Kedung Bocok H. M. Ali Ridho yang sedang menunaikan haji sehingga pelaksanaannya dilakukan Sekretaris Desa yaitu Ibu Endah.

     Dengan tema Pembukaan Alas Trik ini tentunya berbeda dengan desa lainnya yang mengikuti karnaval tahunan ini, karena disamping mengikuti karnaval kemerdekaan peserta karnaval dari Kedung Bocok ini juga menyampaikan sebuah pesan pada masyarakat untuk memperkenalkan dan melestarikan peninggalan bersejarah di Kecamatan Tarik ini khususnya yang berada di Desa Kedung Bocok yaitu sebuah situs Alas Trik yang merupakan situs cikal bakal kerajaan Mojopahit yang tersohor itu.

     Maka dengan tema tersebut ditampilkanlah sebuah iring-iringan tentang kisah pembukaan Hutan Trik tersebut, mulai dari prajurit-prajurit yang membawa kapak, tombak, hingga pohon Mojo yang merupakan tema utamanya. Sebenarnya sebuah dramatikal tentang penamaan Mojopahit siap dilakukan oleh peserta karnaval dari Kedung Bocok ini tetapi karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan dramatikal tersebut tidak dapat dilakukan, padahal dengan dramatikal ini Desa Kedung Bocok hendak menampilkan pesan pada masyarakat yang melihat karnaval itu tentang adanya sejarah besar di Tarik yang mempengaruhi perjalanan sejarah bangsa ini.

     Dalam iring-iringan ini terdapat Panji dan Pataka Mojopahit, sejumlah pusaka yang berada di depan kereta kencana kemudian pohon Mojo dan buah Mojo, sejumlah Prajurit Tartar yang ditodong Prajurit Mojopahit yang merupakan pesan kalau sebenarnya bangsa kita ini juga sangat tangguh sehingga bisa mengalahkan Pasukan Tartar.

     Bila saja penulis boleh mengkisahkan walaupun dalam tampilan iring-iring karnaval Desa Kedung Bocok itu sederhana dan terkesan seadanya, tetapi itu menggambarkan betapa beratnya perjuangan pembukaan hutan Trik hingga berdirinya Mojopahit.

     "Dalam iring-iringan itu ikut pula sejumlah Resi Utama, Sejumlah putri Kaputren, Tiga Bregodo pasukan berkuda yang sebelah kanan kudanya berwarna putih, sebelah kiri kereta kencana pasukan berkuda yang kudanya berwarna hitam dan yang berada di belakang kereta pasukan berkuda yang kudanya berwarna hitam... sungguh megah iring-iringan itu...

     Demikianlah sebuah upaya dari Desa Kedung Bocok dalam memperkenalkan kembali Mojopahit kepada masyarakat Tarik.


Share:

11 Juni 2018

BERBAGAI MACAM KOIN KUNO DIALAS TRIK



     Uang adalah alat tukar perdagangan dari masa ke masa yang telah ada sejak dahulu kala. Di Jawa selain koin lokal (Koin Gobog) juga ditemukan koin-koin asing dari berbagai masa, kebanyakan koin asing itu berasal dari Tiongkok.
     Koin Asing dari Tiongkok ini juga ditemukan di Situs Alas Trik tepatnya di sungai Klinter (Patusan) sejak bulan Agustus 2017 sampai Maret 2018 oleh Mukhammad Sultoni salah seorang anggota Paguyuban Satriyo Puser Mojopahit ketika sedang mencari Nyambik (Biawak) di sungai Klinter.


     Koin yang pertama ditemukan tepat sebelah barat Situs Alas Trik  -kini di bawah jembatan bambu yang membentang di atas sungai itu-.  Oleh Sultoni begitu panggilan akrabnya sekarang disimpan di rumahnya untuk dibersihkan. Setelah dibersihkan ternyata koin yang berbentuk bulat dan lubang kotak di tengah itu terlihat beraksara asing, kemungkinan beraksara Tiongkok.


     Oleh Sultoni temuan ini disampaikan pada dulur-dulur anggota 6 Komunitas yang telah berkolaborasi dalam upaya uri-uri sejarah dan budaya Sidoarjo dalam sebuah pertemuan di rumah bapak Hadi. Untuk sementara waktu temuan koin kuno itu disimpan oleh Sultoni.


     Temuan koin kuno berikutnya juga ditemukan lagi tidak jauh dari temuan pertama. Temuan kedua ini juga ditemukan Sultoni ketika membersihkan kedua tangannya setelah makan di gubug di barat makam Klinter (saat itu belum ditemukan Situs Alas Trik yang berupa Struktur pondasi yang memanjang tersebut) bulan Desember 2017.


     Berikutnya disusul temuan lagi bulan maret 2018, kali ini di sebelah utara makam Klinter yang masih di sungai Klinter juga. Hingga kini terkumpul sekitar 5 koin kuno yang sudah ditemukan.

     Dari temuan koin kuno yang kebanyakan koin asing tersebut memunculkan sebuah pertanyaan bagi kita, kenapa koin-koin asing khususnya koin Tiongkok beredar disini? Adakah sebuah kebijakan dari kerajaan-kerajaan Jawa pada masa lalu yang mengizinkan koin-koin tersebut berlaku di Jawa?

     Tentang temuan koin kuno tersebut ternyata menurut cerita warga setempat, dahulu di sebelah selatan pemakaman ketika ada penggalian makam ditemukan sebuah guci yang berisikan koin emas, tetapi karena takut temuan itu kembali ditimbun warga.


     Dari temuan koin kuno dan juga cerita warga setempat khususnya di Situs Alas Trik ini dapat diduga kalau dulunya tempat ini adalah tempat yang penting, kemungkinan ada hubungannya dengan pemukiman awal Mojopahit seperti yang telah dituliskan Serat Pararaton, Kidung Harsawijaya, Kidung Panji Wijayakrama maupun Prasasti Butak yang menceritakan pendirian Mojopahit di Alas Trik.

        Jum at 14 September 2018 koin - koin kuno kembali ditemukan warga Kedung Bocok ketika menggali tanah untuk makam , ketika itu Hari bersama beberapa orang warga sedang menggali tanah karena ada warga dusun Klinter yang meninggal dunia mereka menemukan puluhan koin kuno yang bertumpuk dikedalaman 100 Centimeter , oleh Hari koin - koin tersebut diserahkan kepada Agus Suyatno seorang warga yang peduli dengan peninggalan purbakala didesa Kedung Bocok .
        Agus Suyatno segera membersihkan koin - koin yang lengket dan masih bercampur dengan tanah , setelah beberapa koin dibersihkan terlihat tampilan koin tersebut seperti koin zaman Belanda yang salah satunya masih terbaca angka tahun 1867 namun tentu saja hal itu akan dipastikan dengan menanyakannya kepada ahlinya dalam hal ini ahli koin atau Numismatik , rencananya koin - koin temuan terbaru akan menjadi koleksi Museum Alas Trik.


Wallohu a'lam Bish-showab...
Share:
Komunitas Pecinta Sejarah dan Budaya - GARDA WILWATIKTA Tado Singkalan - "Menapak Jejak, Mematri Semangat, Mengunggah dan Melestarikan Peradaban Nusantara"

Garda Wilwatikta

Labels