Tampilkan postingan dengan label Situs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Situs. Tampilkan semua postingan
31 Agustus 2018
Situs Watesari dalam khasanah Jejak Peradaban Kuno
Admin21.03Balongbendo, Jejak Peradaban, Krian, Mojopahit, Observasi, Sidoarjo, Situs, Temuan, Watesari
Tidak ada komentar
Jejak peradaban purba kembali ditemukan dikawasan Balongbendo, kali ini ditemukan di Desa Watesari tepatnya berada di punden Mbah Sukirman yang terletak di tengah lahan tebu. Temuan tersebut diawali dengan adanya kerja bhakti warga setempat di punden tersebut dengan tujuan membuat jalan ke punden, hal ini dilakukan karena selama ini jalannya tidak rata dan sulit dilewati sepeda motor.
Ketika kerja bhakti dilakukan oleh warga dengan menggali tanah di timur makam mereka menemukan struktur pondasi bata yang membujur dari utara ke selatan demikian penuturan Suliyono seorang warga, sebelumnya juga ditemukan sebuah sumur kuno di barat makam.
Atas temuan ini warga melaporkannya pada kepala desa Watesari Bapak Sukisno. Dan atas kesepakatan antara pemerintah desa dan warga, diadakan kembali kerja bhakti untuk memastikan sejauh mana temuan tersebut. Setelah melakukan kerja bhakti di punden Mbah Sukirman ditemukan beberapa artefak lainnya, seperti koin kuno asing, pecahan tembikar dan gerabah. Semua temuan itu untuk sementara ini dikumpulkan di salah satu sudut makam.
Atas saran dari petinggi Siswahyono mereka menghubungi Laskar Nusantara untuk dimintai pendapat tentang temuan tersebut. Setelah diadakan beberapa pertemuan dengan Laskar Nusantara akhirnya Kepala Desa Watesari bapak Sukisno mengirim surat laporan atas temuan dugaan situs kepada dinas terkait di kabupaten Sidoarjo pada tanggal 23 Agustus 2018.
Kemudian pada tanggal 25 Agustus 2018 hari Sabtu, pemerintah Desa Watesari mengundang media cetak, elektronik dan televisi untuk meliput temuan di punden Mbah Sukirman. Prof. Amien Widodo dari ITS Surabaya menyempatkan diri untuk hadir diacara tersebut sambil melakukan survey di beberapa titik dugaan situs di Desa Watesari.
Menurut Pak Amien ini kemungkinan pihak ITS akan melakukan pengujian Geo-listrik dan Geo-radar bulan September mendatang untuk membantu melakukan penelusuran persebaran peradaban di Desa Watesari ini.
Temuan di Desa Watesari ini bukanlah temuan tunggal baik di Desa Watesari sendiri ataupun di kawasan desa-desa sekitarnya. Di Desa Watesari sendiri setidaknya sudah diketahui 15 titik lebih terdapat sumur kuno yang rata-rata berbentuk bulat dan beberapa diantaranya masih terlihat dengan jelas.
Disamping itu jejak peradaban juga terdapat di punden Mbah Waru, punden Krapyak dan di pemakaman Umum Watesari dan beberapa titik di Dusun Jatisari. Demikian pula beberapa artefak dari batu andesit juga ditemukan dari beberapa titik berupa umpak, balok andesit, lumpang dan lain sebagainya yang sebagian telah diamankan di Balai Desa Watesari.
Desa Watesari terletak di sebelah timur Desa Suwaluh yang beberapa tahun yang silam diketahui terdapat beberapa situs disana, salah satunya adalah situs Pelawangan yang cakupannya cukup luas. Juga sebelah utara Desa Watesari terdapat Desa Jabaran yang juga ditemukan jejak peradaban disana. Demikian pula di sebelah timur terdapat Desa Seketi terdapat pula jejak peradabannya hingga ke Desa Tropodo Kecamatan Krian dimana disana tepatnya di Dusun Klagen terdapat Prasasti Kamalagian (prasasti era Airlangga). Desa Watesari juga dekat pula dengan Desa Kraton dan Desa Bakalan Wringinpitu, sehingga bila disimpulkan kemungkinan Desa Watesari termasuk dalam sebuah kawasan pemukiman padat kuno yang bisa saja itu adalah sebuah pusat keramaian atau kota dimasa lalu. Namun tentu saja hal itu baru dugaan awal saja yang perlu adanya penelitian dan pembuktian lebih lanjut.
Demikianlah yang bisa kami tuliskan pada kesempatan ini, kurang lebihnya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Salam Nusantaraaa ...
15 Maret 2018
Upaya Pembuktian Hipotesa melalui Uji Geo Listrik
Admin16.46Jejak Peradaban, Kahuripan, Krian, Mojopahit, MojopahitWiwitan, Observasi, Sidoarjo, Situs, Tarik
Tidak ada komentar
Setelah
berbagai proses dilalui akhirnya pada tanggal 9 - 12 Maret 2018 dilakukan Uji GeoListrik oleh Mahasiswa jurusan Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember di dua
tempat, yaitu di Situs Kadipaten Trung (Terung Wetan Kecamatan Krian) dan Situs
Alas Trik (Kedung Bocok Kecamatan Tarik).
18 Februari 2018
UMPAK YANG DIDUGA DARI ZAMAN AWAL MOJOPAHIT DISELAMATKAN
Admin21.23Jejak Peradaban, KedungBocok, Pelestarian Sejarah dan Budaya, Sidoarjo, Situs, Tarik
Tidak ada komentar

Minggu 18 Februari 2018 sekitar pukul 13.30 WIB dilakukan penyelamatan sebuah artefak berupa Umpak -yang berukuran 70 cm x 70 cm dan tinggi 30 cm- oleh Pemerintah Desa Kedung Bocok yang dipimpin langsung oleh kepala desanya yaitu H. Moh. Ali Ridho, Karang Taruna dan didukung 6 Komunitas Sidoarjo.
7 Februari 2018
SELAYANG PANDANG SITUS ALAS TRIK

Tepat pukul 15.00 WIB Sabtu 3 Februari 2018 Situs Alas Trik ditemukan oleh seorang warga Dusun Klinter yang bernama bapak Paiman. Seperti yang diberitakan berbagai media masa baik cetak maupun televisi serta media online yang ada.
25 September 2017
Sambung Rasa Antara 6 Komunitas Dengan BPCB Jawa Timur
Senin 18 September 2017 pukul 10.00 WIB, adalah waktu yang telah disediakan oleh Bapak Kepala Kasi PP kepada 6 Komunitas Pecinta Sejarah dan Budaya dari Kabupaten Sidoarjo untuk mengadakan pertemuan atau istilah lainnya adalah Sambung Rasa
antara 6 Komunitas tersebut dengan Istansi Pemerintah dalam ini adalah Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur tentang berbagai hal seputar temuan-temuan Situs Purbakala dan permasalahannya dalam pelestariannya, terutama yang berada dalam wilayah Kabupaten Sidoarjo.
Sebelumnya 6 Komunitas Pecinta
Sejarah dan Budaya telah hampir 3 bulan bersama-sama menyatukan persepsi,
visi dan misi mereka dalam menyikapi berbagai hal tentang
kurang terpeliharanya temuan-temuan situs yang ada di Kabupaten Sidoarjo baik
itu kurang respeknya pemerintah daerah setempat maupun masyarakat umumnya. Setelah
menjalani serangkai kegiatan penelusuran Jejak-jejak Peradaban dan serangkaian
diskusi panjang akhirnya dicapai sebuah kesepakatan bersama untuk mengirim
surat ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur untuk meminta waktu
untuk sekedar beraudensi pada tanggal 28 Agustus 2017 yang lalu. Setelah
sebelumnya juga bertemu dengan beberapa orang arkeolog dari Puslit Arkenas
Jakarta yang sedang melakukan riset di situs Grogol, Beliau adalah Ibu Watty
Yusman, Bapak Edy, Ibu Titi dan Ibu Tri Wahyuni.
6 Komunitas yang terdiri dari
Balasatya Wetan, Lakon Jagad, Garda Wilwatikta, Satriyo Puser Mojopahit,Paguyuban Sendang Agung dan
Pimcab Sidoarjo Perhimpunan Pergerakan Indonesia akhirnya diterima oleh Bapak
Kepala Kasi PP Drs. Edhi Widodo M. Si. Beserta staffnya yaitu
Bapak Nugroho Harjo Lukito SS., Bapak Sudaryanto, Bapak Kuswanto SS. M.Hum. Dan
Bapak Muhammad Ichwan SS. MA. di
ruangan presentasi
sekitar pukul 10.15 WIB.
Kamipun masuk ruangan yang
disediakan, dan acarapun dibuka oleh
Bapak Kepala Kasi PP Drs. Edhi Widodo dengan menyampaikan ucapan selamat datang
kepada semua perwakilan 6 Komunitas yang hadir sambil menanyakan maksud dan
tujuan kedatangan 6 Komunitas dari Sidoarjo ini.
Bapak Tri Kisnowo Hadi sebagai juru bicara 6 komunitas Sidoarjo ini segera
memulai prolognya tentang latar belakang tujuan 6 Komunitas bertemu dengan
Kepala Kasi PP dan staff yang intinya adanya sebuah keprihatinan yang mendalam
dari elemen masyarakat pecinta sejarah Sidoarjo tentang pelestarian Situs-situs
di Sidoarjo yang sepertinya tidak direspon secara baik oleh pemerintah daerah
maupun masyarakat sehingga terjadi pembiaran terhadap situs-situs yang relatif
baru ditemukan seperti Situs Alas Trik ,Situs Terung, Situs Pelawangan, Situs Urangagung dan juga hendak melaporkan Temuan situs
di tepi Sungai Porong Desa Leminggir Kecamatan Mojosari Kabupaten Mojokerto.
Selain Bapak Tri Kisnowo Hadi dari
Pimcab Perhimpunan Pergerakan Indonesia, Bapak Khudori Al Wakid dari Satriyo Puser Mojopahit juga menambahkan tentang
keprihatinan masyarakat Tarik khususnya, karena ada semacam pertanyaan dari masyarakat tentang
bagaimana sebenarnya Sejarah Tarik tersebut. Sebab dalam sebuah literatur sejarah yaitu Pararaton
menyebutkan kalau di daerah
yang disebut ALASE WONG TRIK adalah tempat berdirinya Mojopahit terlebih dahulu. Sekitar
tahun 1986-1995 pernah ada beberapa kali penelitian di kawasan Medowo dan Klinter yang merupakan wilayah dari
Tarik yang hingga kini belum ada kajian resmi tentang penelitian tersebut. Bapak Drs. Edhi Widodo segera merespon dengan
menyebutkan bahwa sesuai UU Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya kewenangan
yang dipunyai BPCB, serta kewenangan-kewenangan yang sebenarnya kini berada
pada istansi pemerintah yang ada pada pemerintah Kabupaten maupun kota secara
jelas. Dan juga
Pak Edhi Widodo menyebutkan berbagai macam kesulitan yang dialami BPCB terkait
dengan minimnya anggaran tentang hal itu. Jadi dalam menjalani fungsinya menanggapi laporan
masyarakat tentang adanya temuan situs pihaknya memakai skala prioritas,
artinya tindakan terdapat temuan situs-situs tersebut
terlebih dahulu akan disurvei
oleh BPCB apakah situs tersebut masuk dalam prioritas utama atau dibawahnya.
Selanjutnya Pak Edhi Widodo
mempersilahkan adanya pelaporan situs di tepi Sungai Porong yang disampaikan oleh Bapak Agus
Subandriyo dari Komunitas Garda Wilwatikta. Dalam kesempatan ini Bapak Agus Subandriyo
menjelaskan secara ringkas adanya
temuan situs yang berupa 6 sumur kuno yang terbuat dari bata kuno yang bentuknya bundar. Struktur pondasi yang masih tertanam di
tebing utara sungai porong dengan panjang struktur lebih
dari 15 meter. Diduga struktur bata
itu masih terpendam utuh di bawah tanah yang kini ditanami jagung dan singkong.
Kemudian reruntuhan bata yang
berserakan di sepanjang tepi
sungai lebih dari 15 meter,
pecahan tembikar, gerabah,
keramik, batu pipisan, serpihan tulang dan koin kuno yang diduga koin Cina.
Selain itu Bapak Agus Subandriyo juga
meminta adanya respon dari BPCB Jawa Timur atas temuan tersebut karena rawan
sekali terjadi kerusakan pada situs tersebut termasuk meminta dokumen tentang
hasil Riset Balai Arkeologi Jogjakarta antara tahun 1986–1995. Selanjutnya
Bapak Agus Mulyono dari Komunitas Lakon Jagad juga menceritakan tentang proses penemuan
Situs Terung dari awal hingga kini termasuk adanya upaya eskavasi dari BPCB tahun
2015 yang dipimpin Bapak Nugroho Harjo Lukito sekaligus menanyakan hasil dari
eskavasi tersebut.
Menanggapi hal tersebut Bapak Edhi Widodo kembali
memperjelas kemampuan dan kewenangan yang dimiliki BPCB yang tentunya selain
anggarannya terbatas juga tidak bisa berbuat tanpa ada kejelasan dari tanah yang
ada situsnya tersebut. Karena BPCB tidak diizinkan melakukan tindakan lebih, misalnya pemugaran sebuah situs sebelum status tanahnya itu resmi menjadi tanah milik
negara.
Bapak Tri Kisnowo Hadi juga menanyakan tentang kenapa 6 Komunitas ini melaporkan langsung temuan situs kepada BPCB karena bila
melaporkan temuan situs ke pihak Dispora yang ada di Pemerintah Kabupaten maka
pihak Dispora berdalih kalau hal itu menjadi wewenang BPCB,
jadi ada semacam pelemparan tanggungjawab antara Pemerintah Kabupaten/Kota dengan BPCB padahal
dalam UU nomor 11 tahun 2010 telah jelas disebutkan tugas dan wewenangnya pada
Bab VIII pasal 95 dan 96,
dengan adanya kejadian semacam itu Bapak Edhi Widodo
menganjurkan untuk mendorong pada instansi terkait di pemerintah Kabupaten/Kota untuk
menjalankan fungsi dan wewenangnya sesuai UU nomor 11 tentang Cagar Budaya
khususnya pasal 95 dan 96. Tentunya
bisa melalui pendekatan politik melalui komisi-komisi DPRD yang mengurusinya.
Selanjutnya Bapak Nugroho Harjo Lukito yang menanggapi
pertanyaan dari Bapak Agus Mulyono tentang hasil Eskavasi BPCB di Terung tahun
2015. Secara lugas Pak Nugroho ini menyebutkan tentu saja 3
hari eskavasi di situs Terung belum bisa menjawab tentang apa itu Terung
apalagi periodesasi, karena
memang waktunya tidak cukup untuk itu, lagi-lagi
kendalanya dari anggaran yang terbatas. Tetapi Pak Nugroho memberikan jalan keluar untuk
mempercepat langkah-langkah penanganannya melalui kerjasama dengan pemerintah daerah setempat. Tentunya ada mekanisme yang tersendiri terutama tentang
anggaran kegiatan tersebut. Secara tersirat Pak Nugroho menyatakan kalau temuan
situs Terung yang kedalamannya di atas 2 meter, dengan ada 3 lapisan tanah yang berbeda bisa saja situs
tersebut lebih Tua dari Mojopahit, bisa zaman Kediri atau lebih lama lagi.
Selanjutnya Bapak Sudaryanto
menanggapi penyataan Bapak Khudori tentang pemanfaatan situs dengan kegiatan
yang bermuatan budaya lokal seperti yang ada di daerah Puri,
sebuah tempat situs yang hingga kini tetap dimanfaatkan dengan kegiatan-kegiatan budaya. Kemudian belum meratanya staff ahli yang seharusnya ada
di setiap Kabupten dan
kota juga menyulitkan kegiatan pelestarian, untuk itulah Bapak
Kusawanto meminta kepada 6 komunitas ini untuk mendorong pihak
pemerintah Kabupaten kota untuk menunjukkan staff ahlinya agar lebih memudahkan
penanganan pelestarian di daerah-daerah, karena di berapa daerah seperti Malang dan Kediri telah mempunyai
Staff Ahli yang mengurusi keberadaan situs-situs di wilayahnya, sehingga kalau ada penemuan situs baru proses
penanganannya akan lebih cepat. Juga tentang peran pentingnya komunitas-komunitas pecinta sejarah dan budaya tentu
akan membantu proses penanganan situs-situs, baik itu yang sudah ada maupun yang baru ditemukan. Pak Sudaryanto menyebutkan kalau komunitas-komunitas
yang ada di Lamongan bahkan telah melakukan sebuah eskavasi bersama pihak
pemerintah Kabupaten Lamongan, mereka bahakan meminta anggaran pada pemerintah
daerah setempat untuk bersama-sama melakukan Eskavasi pada sebuah situs, karena kurangnya tenaga ahli dari eskavasi ini
mereka meminta bantuan kepada BPCB Jawa Timur untuk mengirimkan tenaga-tenaga
arkeolog untuk memandu kegiatan tersebut. Dengan adanya peristiwa tersebut Pak Sudaryanto
mengharapkan agar komunitas-komunitas lain khususnya dari Sidoarjo bisa berbuat seperti itu.
Selanjutnya Bapak Muhammad Ichwan
menambahkan pengalaman-pengalamannya bertugas di berbagai tempat di Jawa Timur sebagai Staff ahli yang
tentunya bekerjasama dengan berbagai komunitas di daerah-daerah, seperti Madiun dan Ponorogo. Bapak
Ichwan ini menjanjikan membantu mendapatkan copy dari jurnal yang dikeluarkan
Balai Arkeologi Jogjakarta tentang Riset di Medowo seperti yang ditanyakan
Bapak Agus Subandriyo pada kesempatannya tadi.
Waktupun makin siang, Bapak Kepala Kasi PP Edhi Widodo dalam penutupannya
menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya atas kunjungan 5 Komunitas
Pecinta Sejarah dan Budaya Sidoarjo ini. Dan mengharapkan apa yang dibahas dalam pertemuan tadi
benar-benar bermanfaat bagi pelestarian di Jawa Timur khususnya di wilayah
Sidoarjo yang kaya akan peninggalan bersejarah serta meminta maaf yang
sebesar-besarnya atas penyambutan di kantor BPCB Jawa Timur. Sebelum menutup kalimatnya Bapak Edhi meminta pada
perwakilan Komunitas yang hadir untuk menambahkan atau menyampaikan sesuatu.
Bapak Khudori Al Wakid menyampaikan harapannya agar pihak BPCB Jawa Timur terus
terbuka dan senang hati membimbing komunitas-komunitas Pecinta Sejarah dan Budaya Sidoarjo ini agar
pelestarian Situs-situs Sejarah yang sudah maupun yang akan ditemukan nanti
akan mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat, juga agar peninggalan-peninggalan leluhur kita bisa dilestarikan dan bisa dimanfaatkan untuk
kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara. Akhirnya acara Sambung Rasa 6 Komunitas Pecinta Sejarah
dan Budaya Sidoarjo dengan BCPB Jawa Timur resmi ditutup pada pukul 12.30 WIB. Semoga
kegiatan yang positif ini akan terus berlangsung dan meningkat tingkatnya dari
waktu ke waktu. Amiiiin…
Selanjutnya kegiatan diisi dengan foto-foto bersama di
depan ruangan
Perpustakaan, disertai
dialog-dialog hangat antara mereka yang intinya tidak jauh dari pelestarian situs dan bagaimana mekanismenya. Dialogpun
makin akrab diselingi minum kopi di warung belakang kantor BPCB ini. Diakhir
acara ternyata 5 komunitas yang hadir tersebut ditraktir oleh Bapak Nugroho
Harjo Lukito karena kami dilarang membayar kopi pada warung tersebut,
terimakasih Pak…
Semoga kemesraan ini terus berjalan... Terimakasih…
4 Juli 2017
Jejak Peradaban Ciro Kulon Part 2
Admin10.44BakungTemenggungan, Balongbendo, Jejak Peradaban, Kahuripan, Mojopahit, Observasi, Situs, Sumokembangsri
Pagi itu Anggoro 4 Juli 2017, sesuai dengan waktu yang telah
disepakati bersama, Arek-arek
Watesrowo yang dinahkodai mas Tri Kisnowo Hadi dari Dusun Watesrowo bersama
komunitas Garda Wilwatikta bersiap melakukan sebuah observasi tentang dugaan
adanya sumur kuno yang telah ditemukan oleh pak Sariali pada tanggal 29 Juni
2017 lalu. Pak Sariali menemukan beberapa bata kuno yang bentuknya melengkung
ketika beliau hendak membuat sumuran untuk menyirami tanaman terong di lahan
yang disewa mas Sumantri dari warga dusun Ciro kulon. Temuan bata melengkung
tersebut kemudian disampaikannya kepada mas Sumantri.
![]() |
| bata lengkung khas sumur kuno |
Bertepatan saat itu mas Tri Kisnowo Hadi sedang berlebaran di
Dusun Watesrowo, dan pada kesempatan itupun mas Sumantri menceritakan perihal temuan
bata tersebut di sebuah warung kopi. Karena penasaran atas cerita mas Sumantri
tersebut mas Tri mengajak mas Sumantri survei ke sawah yang dimaksud di malam
itu juga, sekitar jam 2 pagi mereka bertiga menuju persawahan yang terkenal
angker itu.
Akhirnya mereka bertiga menuju tempat dimana sumuran itu dan
berhasil mendapatkan ketiga bata kuno tersebut dan mendokumentasikannya. Kemudian
saya salah seorang anggota komunitas Garda Wilwatikta pun mendatangi persawahan
itu pada hari Jum’at 30 Juni 2017 dan bertemu dengan mas Sumantri, mas Tri
serta beberapa orang pemuda lainnya.
Pada kesempatan itu mas Tri dan mas Sumantri sepakat untuk
meminta pak Singo -seorang petani yang
kebetulan mengerjakan sawah di timur temuan itu- untuk menggali tanah yang
kemungkinan ada sebuah sumur kunonya pada hari Selasa 4 Juni 2017.
![]() |
| galian sumuran pak Sariali di tengah sawah |
Saya (penulis) telah berada ditempat penggalian sekitar jam
06.00 WIB saat itu masih belum ada teman-teman dari Watesrowo. Tak lama
kemudian pak Singo datang dari arah utara menuju ke tempat saya berada sambil
memanggul sebuah cangkul dengan tangan kirinya membawa tas plastic. Lalu pak
Singo segara menyapa saya dan menanyakan keberadaan mas Sumantri, saya jawab “mas Sumantri belum datang pak..”.
![]() |
| persiapan mbah Singo sebelum penggalian |
Lalu pak Singo menyiapkan ubo rampe untuk melakukan ritual sebelum melakukan penggalian dugaan
sumur tersebut. Aroma khas pun segera merebak, tak lama kemudian beberapa orang
pemuda Watesrowo pun datang termasuk mas Aziz dari Garda Wilwatikta. Setelah
berjabat tangan dengan pak Singo mereka segera mengambil dokumentasi.
![]() |
| ritual dari mbah Singo |
Tidak lama kemudian Pak Singo mulai membaca mantra untuk
ritual penggalian, setelah itu penggalianpun dilakukan. Kami semua ikut membantu pak Singo melakukan penggalian
sampai mas Sumantri datang, ketika mas Sumantri datang beliau bilang kalau
bukan sumuran ini yang digali tetapi yang sebelah selatan, jadinya kami semua
senyum-senyum melihat kejadian itu akhirnya kamipun menuju ke tempat sumuran
yang di selatan dan melakukan penggalian.
![]() |
| mulai penggalian |
![]() |
| proses penggalian |
Pelan namun pasti bata lengkung mulai terlihat, pak Singo
kami minta untuk berhati-hati karena khawatir cangkulnya akan mengenai batanya.
Airpun disedot pakai mesin diesel, pelan-pelan air mulai surut namun karena
kondisi tanah yang lengket dan berlumpur cukup menyulitkan proses penggalian. Struktur
bata melengkung yang berupa sumur pun mulai terlihat sedikit demi sedikit.
![]() |
| menyedot genangan air dengan mesin diesel |
Penggalianpun terus dilakukan oleh pak Singo dengan
menggunakan bawak, sementara kami membantu dengan mengangkat timba yang telah diisi
tanah galian oleh pak Singo keatas, begitulah perlahan-lahan penggalian sudah
sampai 50 centimeter dari bata paling atas. Pak Singo kami ajak untuk
beristirahat dan minum air agar tidak kecapaian. Haripun makin siang, sinar
matahari mulai terasa panas menyengat dikulit. Tak berapa lama kemudian mas Tri
Kisnowo Hadi datang ke lokasi dengan membawa makanan dan air mineral.
![]() |
| Mbah Singo (kiri), Tri Kisnowo Hadi (kanan) |
Hari makin panas, waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB
penggalianpun dilanjutkan setelah pak Singo selesai sarapan. Mas Tri terlibat
dalam penggalian dengan membantu mengangkat tanah keatas, penggalian hampir
mencapai 100 centimeter dari bata teratas, air tanah mulai merembes di sumur
yang menyebabkan penggalian terganggu karena harus menguras terlebih dahulu. Dari
tanah-tanah yang diangkat keatas terdapat pula bata lengkung yang utuh maupun
yang sudah pecah, juga terdapat beberapa pecahan keramik. Kemungkinan bata-bata
lengkung yang ada di dalam sumur tersebut adalah reruntuhan dari bata sumur
bagian atas, sedangkan bata yang sudah pecah atau pecahan keramik bisa saja
sengaja dilemparkan oleh anak-anak kecil masa itu. Menjelang pukul 11.00 WIB
penggalian telah mencapai kedalaman 125 centimeter dari bata paling atas, akhirnya
penggalianpun dicukupkan untuk hari ini.
![]() |
| penggalian dalam sumur |
Dari kronologi penggalian Sumur kuno ini kami bisa mencatat
kalau ketebalan bata lengkung ini rata-rata 8 centimeter, semakin kebawah
semakin tebal hingga mencapai 9 centimeter. Disamping bata-bata lengkung ada
juga ditemukan pecahan bata kuno dengan ukuran 30 cm x 20 cm dan tebal 8 cm.
![]() |
| kedalaman sumur |
Begitulah observasi dan penggalian dugaan sumur kuno yang
ditemukan di Dusun Ciro Kulon Desa Bakung Temenggungan Kecamatan Balongbendo
Sidoarjo. Setelah penggalian selesai datanglah seorang wartawan dari “Sidoarjo Terkini” untuk meliput
kegiatan hari ini. Temuan sumur kuno ini tentunya bukan temuan tunggal di
wilayah ini, karena dari informasi warga setempat setidaknya ada satu sumur
kuno lagi di pemukiman Ciro Kulon yang masih aktif sampai sekarang hanya
kondisi sekarang ditutup sebuah papan dan di dalam rumah warga.
Dari catatan
kami yang pertama mengenai jejak peradaban Ciro Kulon yang lalu memang hanya
mengulas jejak bata kuno yang ada di pemakaman umumnya saja, tetapi dengan adanya
temuan baru ini tentu akan lebih memperkuat dugaan kami tentang adanya jejak
pemukiman kuno di Dusun Ciro Kulon ini umumnya Desa Bakung Temenggungan. Kalaupun
kami menyebutnya sebagai sumur Jenggala bukan karena apa-apa tetapi semata-mata
karena wilayah Kabupaten Sidoarjo adalah bekas wilayah Jenggala atau Kahuripan,
tentu itu bisa saja terlalu naif tetapi tentu saja itu perlu diluruskan oleh
pihak-pihak yang berwenang dengan berbagai riset.
>>>baca catatan Ciro Kulon dan Ciro Wetan
![]() |
| Sumantri (kiri), Agus Subandriyo (kanan) |
Lihat Video Penggalian Sumur Kuno
Selanjutnya kami dari komunitas Garda Wilwatikta menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya pada mas Tri Kisnowo Hadi dan kawan-kawan dari Watesrowo, mas Sumantri, pak Singo dan seluruh pihak yang terkait. Tiada yang berat bila dipikul bersama-sama, tiada gading yang tak retak. maafkan bila ada tutur kata kami yang tidak pantas... Salam Nusantara..
21 Mei 2017
Misteri Lumpang di Makam Mbah Derpo
Lumpang adalah sebagai salah satu peralatan dalam dapur yang
biasanya terbuat dari batu. Dalam era klasik lumpang ini sangat dominan di pawon (Dapur). Fungsi lumpang adalah
untuk menumbuk padi atau bahan makanan yang lain, sementara untuk menumbuknya
diperlukan sebuah benda yang memanjang yang biasanya disebut Alu. Alu ini bisa
terbuat dari kayu atau dari batu, tergantung kegunaan dari lumpang tersebut
untuk menumbuk apa, kalau untuk menumbuk padi biasanya alunya terbuat dari kayu.
19 Februari 2017
Kadipaten Terung (antara dokumen sejarah dan peninggalan arkeologisnya)
Trung disebutkan dalam naskah Pararaton yang mengkisahkan pelarian Dyah Sanggramawijaya menantu Prabu Kertanegara setelah peristiwa penyerbuan Prabu Jayakatwang dari Glang-Glang yang bukan saja menewaskan Maharaja Singhasari tersebut tetapi juga meruntuhkan kerajaan besar Singhasari yang telah berani menantang Khan yang Agung dengan melukai utusannya, juga telah melebarkan sayapnya ke beberapa negeri seberang lautan.
9 Februari 2017
Jejak Candi Andesit di Tengah Persawahan
Respati
Kliwon 9 Februari 2017
Sesuai
rencana pagi itu sekitar pukul 09.30 WIB penulis bersama mas Aziz berangkat
dari base camp menuju suatu tempat di daerah Bangsal – Mojokerto.








































