G A R D A W I L W A T I K T A

Blog ini bertujuan sebagai wadah/sarana ilmu pengetahuan, sejarah, mitos, dan juga pencarian jejak-jejak peradaban peninggalan Kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Silahkan bagi yang ingin mengikuti komunitas ini kita bisa belajar bersama-sama, karena kami juga sangat minim pengetahuan, dan diharapkan kita bisa sharing berbagai informasi tentang sejarah yang ada di Nusantara ini...

Laman

Tampilkan postingan dengan label Sidoarjo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sidoarjo. Tampilkan semua postingan

1 Februari 2019

Paradigma Sejarah lokal


        Paradigma dalam disiplin intelektual adalah cara pandang orang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir( kognitif), bersikap( afektif), dan bertingkah laku( konitif).
     Paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi Konsep, nilai, dan praktik yang diterapkan dalam memandang realitas dalam sebuah komunitas yang sama, khususnya, dalam disiplin intelektual.
        Kata paradigma sendiri berasal dari abad pertengahan di Inggris yang merupakan kata serapan dari bahasa Latin yang Pada tahun 1483 Masehi yaitu paradigma yang berarti suatu atau pola, bahasa Yunani nya Paradeigma ( para+deiknunai) yang berarti untuk " membandingkan" bersebelahan ( para ) dan memperlihatkan ( deik ) sumber Wikipedia.
             Sementara itu dalam pengertian objektif Sejarah lokal adalah proses perkembangan keaktifan kemanusiaan di daerah tertentu.
       Pengertian daerah disini adalah lingkungan geografis tertentu yang sudut pandangnya bisa dipersempit atau diperluas karena batasan luasan dari area sejarah lokal tersebut sulit ditentukan.
        Pada era digital ini fungsi dan manfaatnya sejarah lokal sesungguhnya amat diperlukan baik dari sisi ketahanan sejarah budaya nya maupun manfaat ekonominya , walaupun belum diterapkan dengan sepenuhnya karena kurangnya konsep dan kemauan dalam menggelutinya .
        Sesungguhnya potensi manfaat Sejarah lokal di setiap desa ataupun kecamatan sangat melimpah hanya saja kurang ada perhatian dan kemauan untuk mengungkap ,meneliti , merekonstruksi, dan memanfaatkannya sebagai sumber pendapatan daerah .
     Contoh sederhana disebuah desa di kecamatan Tarik misalnya yaitu didesa KedungBocok pada 3 Februari 2018 yang lalu telah ditemukan struktur pondasi didekat pemakaman ,setelah mengalami berbagai proses walaupun belum ada penelitian resmi' dari pihak terkait namun diduga kuat tempat tersebut adalah titik nolnya Mojopahit ( sesuai hasil sidak BPCB Trowulan dan telaah Serat Pararaton ) , bila saja potensi sejarah lokal Desa KedungBocok ( termasuk desa - desa lainnya seperti Terung Wetan , Urangagung contoh yang ada di wilayah kabupaten Sidoarjo ) tersebut dikelola dengan baik tentunya akan menambah pendapatan desa tersebut , termasuk menjadi sumber mata pencaharian masyarakat setempat dengan cara dijadikan situs tersebut sebagai Wisata Desa , terlebih nilai situs desa KedungBocok sangat penting karena menyangkut asal mula Mojopahit di hutan Trik , belum lagi dari sisi yang lain akan memberikan kontribusi nya misalnya kuliner ataupun produk-produk  kerajinan setempat akan menjadi ciri khas tersendiri.


     Jadi belajar, mengungkapkan , melestarikan sejarah lokal bukan berarti kita harus menjadi kuno , menjadi Hindu atau Budha tidak karena tidak semua peninggalan sejarah itu kuno atau primitif karena justru dari artefak yang ditemukan akan terlihat keunggulan keunggulan nya yang bertahan ratusan tahun , dari sana dapat kita bayangkan betapa bagusnya kontruksi bangunannya , arsitekturnya , betapa bagus pengolahan bahan baku bangunannya dan lain sebagainya .
         Bahkan dari sejarah - sejarah lokal yang ada tersebut akan menjadi salah satu sumber sejarah bangsa kita ,terutama untuk melengkapi dan membandingkan dengan literatur yang telah ada , semua itu akan menjadi keilmuan di bidang sejarah,  ingat sejarah itu adalah sebuah peristiwa yang sudah selesai dan tidak akan mungkin berubah tetapi pengetahuan tentang sejarah akan selalu berubah-ubah sesuai dengan temuan - temuan baru atau berubahnya metode dalam memahami sejarah ...
Terimakasih .
Share:

1 Januari 2019

Tata Pemerintahan yang aneh dan legenda Pencarian Air Liur Naga di desa Suwaluh.

              Ketika sore hari empat orang Pecinta dan pemerhati Sejarah mendatangi rumahnya Bapak Kades Suwaluh H. Mochammad Heru Sulthon yang berada ditepi jalan Raya Mojokerto Surabaya sebelah Utara , mereka adalah Sigit Hariadi, Burhan Fatahilah, Ikhwan Darmo dan Aris Kusbiyanto . Ketika itu menjelang Maghrib Abah Heru begitu nama Kades biasa disebut mempersilakan keempat tamunya , mereka pun masuk diruang tamu , Ikhwan Darmo salah seorang yang berusia paling matang memulai pembicaraan tentang kemungkinan izin dari Kades Suwaluh untuk pembukaan sebuah tempat yang diduga sebuah Situs peninggalan Purba yaitu Situs Pelawangan .
         Setelah terjadi proses pembicaraan tentang latar belakang dan alasan mengapa Situs tersebut harus dibuka, Abah Heru pada intinya menyambut baik keinginan keempat Pecinta dan pemerhati Sejarah , namun Beliau akan mengkomunikasikan dengan pihak - pihak terkait dalam hal ini seperti para pemilik tanah dan perangkat Desa secara keseluruhan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan , pada kesempatan ini Sigit Hariadi sedikit menceritakan tentang kisah Situs Pelawangan dan beberapa kegiatan sebelum nya dengan yang dilakukan dengan sejumlah tokoh .
             Sejak saat itu dilakukan pertemuan- pertemuan intensif baik itu di rumahnya Abah Heru atau di Balai desa Suwaluh , sekitar awal bulan Februari 2014 mereka amat inten melakukan pertemuan tersebut sampai akhirnya dicapai kesepakatan bahwa pembukaan Situs Pelawangan akan digunakan tanggal 14 Februari 2014 . Dari sering nya pertemuan dengan Kades maupun perangkat Desa lainnya ditemui keanehan - keanehan , misalnya dalam tata Pemerintahan desa Suwaluh terdapat dua  dusun , yaitu dusun Pelawangan Utara ( Suwaluh Utara ) yang Kasun nya ibu Yuli dan dusun Pelawangan selatan ( Suwaluh Selatan ) dengan Kasun nya bapak Mulyono , dari sini masyarakat Suwaluh secara turun-temurun menyebut dua tempat yang lebat dengan pepohonan ditengah persawahan desa adalah Pelawangan , yang sebelah Utara disebut Pelawangan lor dan yang Selatan Pelawangan kidul . Menurut legenda setempat konon dikedua tempat ini dihuni Naga atau Ular raksasa , di Pelawangan lor menurut warga ada sebuah sumur yang terdiri dari susunan bata kuno melingkar disebut sumur Lanang sementara di Pelawangan kidul ada sumur yang berbentuk kotak disebut sumur Wadon , bisa disimpulkan dari bentuk kedua sumur tersebut mengisyaratkan kalau Naga yang menghuni Pelawangan lor adalah Naga laki- laki atau Lanang sementara di Pelawangan kidul adalah Naga perempuan atau Wadon .
         Justru yang aneh kedua Kasun tersebut malah menjadi pamong di kedua tempat yang tidak berpenghuni alias hanya persawahan belaka ! Ketika ditanya tentang hal itu Bapak Mulyono tidak dapat menjawab nya karena kenyataannya kedua tempat itu tidak ada warga yang tinggal di sana demikian pula Ibu Yuli juga tidak bisa menjawab nya , lantas dengan nada bercanda Abah Heru berkata ," Berarti pak Mulyono punya warga demit ?". Mereka semua senyum - senyum dan merasa heran kenapa semua itu bisa terjadi .
         Dari keterangan warga kalau bata- bata kuno di Pelawangan lor telah diambil warga untuk pondasi beberapa rumah, untuk Pelawangan kidul relatif masih utuh karena warga takut memasuki nya karena banyaknya cerita dan kejadian- kejadian menyeramkan di sana, terutama tentang mitos Naga , lantas kenapa di Pelawangan lor warga berani mengambil bata -bata kunonya ? Hal ini terjadi mungkin karena kesalahan penempatan Kasun nya ... Seharusnya di Pelawangan kidul Kasun nya perempuan bukan laki-laki demikian pula  sebaliknya , demikian penjelasan Sigit Hariadi .
           Pembukaan Situs Pelawangan diawali dengan Tumpengan pada hari Respati Kamis Kliwon 13 Februari 2014 di Balai Desa bersama warga dan di situs Pelawangan kidul , entah kebetulan atau tidak setelah seluruh anggota team keluar dari situs beberapa menit kemudian terdengar berita kalau gunung Kelud meletus mengeluarkan abu bahkan di desa Suwaluh malam itu juga , jadi sebagai pengingat kapan pembukaan Situs Pelawangan yang izin resmi nya memakai nama BALASATYA WETAN LAKON JAGAD ( yayasan Jagad Wetan ) adalah waktu gunung Kelud meletus yaitu 14 Februari 2014.
              Setelah hampir tiga Bulan eskavasi telah sampai pada pembukaan tanah didepan kepala Sang Naga , pemuda dan warga mulai turun membantu proses tersebut , hingga akhirnya kisah yang sempat terlupakan kembali teringat yaitu dahulu kalau banyak spiritualis dari sekitar desa Suwaluh berlomba-lomba mencari ILER NOGO atau air liur Naga , bagaimana kisahnya?
         Dahulu bila ada warga yang sakit keras dan sulit untuk disembuhkan maka mereka akan mencari air liur Naga , itu berdasarkan petunjuk dari para spiritualis yang prihatin karena banyak warga yang sakit , entah ada atau belum yang menemukan ILER NOGO tadi sampai sekarang belum ada yang tahu pasti .
        Menurut legenda yang berkembang dulu terdapat patung Naga yang besar di Pelawangan kidul , dari mulut nya patung itu keluar air , mungkin dari sana lah legenda ILER NOGO itu berasal tetapi ada pula informasi lain kalau air yang dimaksudkan ILER NOGO itu berasal dari delapan mata air yang berbeda biasa disebut air yang berasal dari sumur Windu .
        Menurut hasil uji test di laboratorium Petrokimia Gresik air dari sumur Wadon Pelawangan kidul PHnya cukup baik yaitu 7 , warnanya cukup bening , baunya tidak banger tetapi terlalu banyak mengandung zat besi , mungkin hal itu karena lama tidak dikuras dan dibersihkan .
        Tentang air yang disebut ILER NOGO tadi kami berkesimpulan tidak jauh dari hasil laboratorium diatas bahkan mungkin jauh lebih baik dari pada air sumur Wadon karena berasal dari delapan sumber mata air yang berbeda , tentu kandungan - kandungan mineral nya lebih banyak dan lebih kaya nutrisi nya berguna bagi siapa saja yang meminum nya , termasuk kemungkinan bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti legenda diatas , tetapi semua itu perlu pengujian dan penelitian lebih lanjut ... Sehingga bisa dipertanggungjawabkan secara medis dan ilmiah ..

Juli 2014.

Terimakasih ...

Sumber Buku Mengais Jejak Bumi Kahuripan .
               

Share:

31 Desember 2018

Mencari Peradaban Kuno

           Indonesia di masa lalu dikenal sebagai bangsa yang besar dan disegani oleh semua bangsa di didunia . Semua itu karena Nusantara pada masa itu telah maju diberbagai bidang kehidupan.
           Dalam berbagai bidang , Nusantara telah memiliki keunggulan seperti di bidang pertanian , pelayaran , maupun arsitektur yang seni tinggi , seperti yang terlihat dari peninggalan - peninggalan berbagai periode kerajaan , seperti Candi Borobudur , Candi Prambanan , atau Candi- Candi yang elok di Jawa Timur .
        Namun dari semua peninggalan yang  telah dikemukakan diatas itu rasanya terlalu sedikit bila kita mau berpikir rasional tentang peradaban kita dahulu . Kalau candi nya saja semegah itu , mengapa tidak terpikirkan  untuk mencari tentang teknologi yang digunakan pada peninggalan lainnya seperti teknologi tata kota , teknologi sistem irigasi nya? Kenapa hanya situs- situs yang ditemukan saja yang di bahas? Bukankah masuk akal bila masih banyak peninggalan lain yang belum ditemukan yang berada disekitar kita?
          Karena bisa saja situs-situs yang belum diketemukan itu akan benar-benar hilang karena ketidaktahuan kita? Karena ketidakpedulian kita? Mungkin saja situs-situs tersebut masih terkubur dibawah permukaan tanah , karena berbagai sebab . Bisa saja situs-situs tersebut sekarang jadi lahan persawahan atau perkebunan , namun yang sangat disayangkan kalau situs-situs tersebut jadi lahan perusahaan atau perumahan , bukanlah sulit untuk mengungkap nya?
           Bukankah yang rugi kita semua jika situs- situs peninggalan leluhur kita lenyap ? Bukan tidak mungkin dalam situs-situs tersebut tersimpan teknologi yang masih bisa dimanfaatkan di kehidupan bangsa kita sekarang ?
         Untuk itulah diperluk Y6an kesadaran dari kita semua untuk menelusuri dan mencari jejak-jejak peradaban masa lalu untuk diselamatkan , dipelajari , dan dimanfaatkan untuk kehidupan masyarakat sekarang ini . Tulisan ini merupakan catatan kegiatan yang telah kami lakukan selama ini , tentu bukan bermaksud untuk menonjolkan diri kami tetapi semata-mata demi kecintaan kami pada Nusantara ini.

        Apakah peradaban itu ? Peradaban adalah hasil cipta karya manusia yang meliputi beberapa aspek kehidupan manusia yang berhubungan dengan bagaimana cara hidup nya , bahasa nya , struktur dalam susunan masyarakat nya , seni budaya nya , kehidupan religius nya dan arsitektur nya.
       Dalam kondisi seperti sekarang ini , sangat sulit sekali untuk mencari jejak- jejak peradaban kuno tersebut . Hal ini karena adanya peradaban yang lebih modern yang kebanyakan merusak jejak-jejak peradaban sebelum nya .
        Namun jejak-jejak yang bersifat non fisik tetap lah tersisa di masyarakat , seperti dongeng , legenda , ataupun mitos yang ada . Walau tidak semua dongeng , legenda , dan mitos itu benar seluruhnya , namun dari sana lah kita bisa mengambil informasi yang masuk akal untuk kita telusuri . Setelah kita memilah - Milah dongeng , legenda , maupun mitos yang ada , kita lalu bergerak ke lapangan untuk mencari pembuktian fisik darinya .
      Kita bisa mencari jejak-jejak fisik peradaban kuno dari dongeng , legenda , maupun mitos tersebut di tempat- tempat yang relatif aman dari sasaran pembangunan masa kini . Tempat - tempat tersebut biasanya adalah sawah , punden , pemakaman , dan bahkan tempat- tempat yang angker . Punden adalah sebuah tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat .
       Kemudian jangan lupa untuk bertanya tentang segala informasi dari tempat yang akan kita telusuri kepada warga desa setempat , misalnya Tetua Dusun ataupun Juru Kunci ( Kuncen) . Dan jangan lupa kita selalu niatkan dalam hati kita bahwa kita bergerak semata-mata untuk menelusuri sejarah leluhur kita .
      Salah satu jejak yang mudah kita kenali sebagai jejak peradaban kuno adalah adanya batu bata yang ukurannya jauh lebih besar dari ukuran bata sekarang . Batu bata kuno era Mojopahit biasanya berukuran 32.5 x 22.5 sentimeter namun ukuran yang lebih besar maupun lebih kecil juga ada , selain itu kekuatan bata kuno dibandingkan bata sekarang juga berbeda , bata kuno jauh lebih kuat dari bata sekarang .
      Setelah tahu dan paham tentang ukuran batu bata kuno , maka kita dapat membedakan antara batu bata kuno dan batu bata zaman sekarang , walaupun bata- bata kuno tersebut tinggal pecahannya saja di suatu tempat yang kita datangi .
Jejak fisik peradaban kuno lainnya adalah benda-benda yang terbuat dari batu Andesit seperti Yoni , lingga , uang kuno atau nisan . Gerabah atau tembikar yang terbuat dari tanah liat , keramik Asing dari negara seberang seperti Tiongkok , demikianlah yang bisa kami tuliskan semoga bermanfaat .

Terimakasih ...


Selamat mencari .....

Sumber : Buku Mengais Jejak Peradaban Bumi Kahuripan .

Share:

4 September 2018

KIRAB AGUNG MOJOPAHIT WIWITAN


     Pada siang itu setelah seluruh persiapan selesai pada pukul 13.30 WIB Jumat 31 Agustus 2018 mereka para peserta karnaval Desa Kedung Bocok berangkat menuju koramil Tarik yang berada di utara kantor Kecamatan Tarik dengan menumpang beberapa mobil yang telah disiapkan. Pada karnaval kali ini Desa Kedung Bocok menampilkan tema Pembukaan Alas Trik sesuai dengan permintaan Kepala Desa Kedung Bocok H. M. Ali Ridho yang sedang menunaikan haji sehingga pelaksanaannya dilakukan Sekretaris Desa yaitu Ibu Endah.

     Dengan tema Pembukaan Alas Trik ini tentunya berbeda dengan desa lainnya yang mengikuti karnaval tahunan ini, karena disamping mengikuti karnaval kemerdekaan peserta karnaval dari Kedung Bocok ini juga menyampaikan sebuah pesan pada masyarakat untuk memperkenalkan dan melestarikan peninggalan bersejarah di Kecamatan Tarik ini khususnya yang berada di Desa Kedung Bocok yaitu sebuah situs Alas Trik yang merupakan situs cikal bakal kerajaan Mojopahit yang tersohor itu.

     Maka dengan tema tersebut ditampilkanlah sebuah iring-iringan tentang kisah pembukaan Hutan Trik tersebut, mulai dari prajurit-prajurit yang membawa kapak, tombak, hingga pohon Mojo yang merupakan tema utamanya. Sebenarnya sebuah dramatikal tentang penamaan Mojopahit siap dilakukan oleh peserta karnaval dari Kedung Bocok ini tetapi karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan dramatikal tersebut tidak dapat dilakukan, padahal dengan dramatikal ini Desa Kedung Bocok hendak menampilkan pesan pada masyarakat yang melihat karnaval itu tentang adanya sejarah besar di Tarik yang mempengaruhi perjalanan sejarah bangsa ini.

     Dalam iring-iringan ini terdapat Panji dan Pataka Mojopahit, sejumlah pusaka yang berada di depan kereta kencana kemudian pohon Mojo dan buah Mojo, sejumlah Prajurit Tartar yang ditodong Prajurit Mojopahit yang merupakan pesan kalau sebenarnya bangsa kita ini juga sangat tangguh sehingga bisa mengalahkan Pasukan Tartar.

     Bila saja penulis boleh mengkisahkan walaupun dalam tampilan iring-iring karnaval Desa Kedung Bocok itu sederhana dan terkesan seadanya, tetapi itu menggambarkan betapa beratnya perjuangan pembukaan hutan Trik hingga berdirinya Mojopahit.

     "Dalam iring-iringan itu ikut pula sejumlah Resi Utama, Sejumlah putri Kaputren, Tiga Bregodo pasukan berkuda yang sebelah kanan kudanya berwarna putih, sebelah kiri kereta kencana pasukan berkuda yang kudanya berwarna hitam dan yang berada di belakang kereta pasukan berkuda yang kudanya berwarna hitam... sungguh megah iring-iringan itu...

     Demikianlah sebuah upaya dari Desa Kedung Bocok dalam memperkenalkan kembali Mojopahit kepada masyarakat Tarik.


Share:

31 Agustus 2018

Situs Watesari dalam khasanah Jejak Peradaban Kuno


     Jejak peradaban purba kembali ditemukan dikawasan Balongbendo, kali ini ditemukan di Desa Watesari tepatnya berada di punden Mbah Sukirman yang terletak di tengah lahan tebu. Temuan tersebut diawali dengan adanya kerja bhakti warga setempat di punden tersebut dengan tujuan membuat jalan ke punden, hal ini dilakukan karena selama ini jalannya tidak rata dan sulit dilewati sepeda motor.

   Ketika kerja bhakti dilakukan oleh warga dengan menggali tanah di timur makam mereka menemukan struktur pondasi bata yang membujur dari utara ke selatan demikian penuturan Suliyono seorang warga, sebelumnya juga ditemukan sebuah sumur kuno di barat makam.

     Atas temuan ini warga melaporkannya pada kepala desa Watesari Bapak Sukisno. Dan atas kesepakatan antara pemerintah desa dan warga, diadakan kembali kerja bhakti untuk memastikan sejauh mana temuan tersebut. Setelah melakukan kerja bhakti di punden Mbah Sukirman ditemukan beberapa artefak lainnya, seperti koin kuno asing, pecahan tembikar dan gerabah. Semua temuan itu untuk sementara ini dikumpulkan di salah satu sudut makam.

     Atas saran dari petinggi Siswahyono mereka menghubungi Laskar Nusantara untuk dimintai pendapat tentang temuan tersebut. Setelah diadakan beberapa pertemuan dengan Laskar Nusantara akhirnya Kepala Desa Watesari bapak Sukisno mengirim surat laporan atas temuan dugaan situs kepada dinas terkait di kabupaten Sidoarjo pada tanggal 23 Agustus 2018.

     Kemudian pada tanggal 25 Agustus 2018 hari Sabtu, pemerintah Desa Watesari mengundang media cetak, elektronik dan televisi untuk meliput temuan di punden Mbah Sukirman. Prof. Amien Widodo dari ITS Surabaya menyempatkan diri untuk hadir diacara tersebut sambil melakukan survey di beberapa titik dugaan situs di Desa Watesari.

     Menurut Pak Amien ini kemungkinan pihak ITS akan melakukan pengujian Geo-listrik dan Geo-radar bulan September mendatang untuk membantu melakukan penelusuran persebaran peradaban di Desa Watesari ini.


     Temuan di Desa Watesari ini bukanlah temuan tunggal baik di Desa Watesari sendiri ataupun di kawasan desa-desa sekitarnya. Di Desa Watesari sendiri setidaknya sudah diketahui 15 titik lebih terdapat sumur kuno yang rata-rata berbentuk bulat dan beberapa diantaranya masih terlihat dengan jelas.

     Disamping itu jejak peradaban juga terdapat di punden Mbah Waru, punden Krapyak dan di pemakaman Umum Watesari dan beberapa titik di Dusun Jatisari. Demikian pula beberapa artefak dari batu andesit juga ditemukan dari beberapa titik berupa umpak, balok andesit, lumpang dan lain sebagainya yang sebagian telah diamankan di Balai Desa Watesari.

     Desa Watesari terletak di sebelah timur Desa Suwaluh yang beberapa tahun yang silam diketahui terdapat beberapa situs disana, salah satunya adalah situs Pelawangan yang cakupannya cukup luas. Juga sebelah utara Desa Watesari terdapat Desa Jabaran yang juga ditemukan jejak peradaban disana. Demikian pula di sebelah timur terdapat Desa Seketi terdapat pula jejak peradabannya hingga ke Desa Tropodo Kecamatan Krian dimana disana tepatnya di Dusun Klagen terdapat Prasasti Kamalagian (prasasti era Airlangga). Desa Watesari juga dekat pula dengan Desa Kraton dan Desa Bakalan Wringinpitu, sehingga bila disimpulkan kemungkinan Desa Watesari termasuk dalam sebuah kawasan pemukiman padat kuno yang bisa saja itu adalah sebuah pusat keramaian atau kota dimasa lalu. Namun tentu saja hal itu baru dugaan awal saja yang perlu adanya penelitian dan pembuktian lebih lanjut.

     Demikianlah yang bisa kami tuliskan pada kesempatan ini, kurang lebihnya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Salam Nusantaraaa ...

Share:

19 Juni 2018

Menguak Tabir Misteri Peradaban dari nama Tempat


     Dalam kehidupan sehari-hari kita pasti telah akrab dengan nama-nama Tempat disekitar lingkungan kita, seperti nama dusun, desa, kota, sungai dan lain-lain. Tentu saja kita selama ini tidak terlalu peduli akan nama-nama tersebut karena sepertinya itu hanya sekedar nama belaka. Ternyata tidak demikian, nama-nama tersebut bukanlah sekedar nama saja tetapi ada latar belakang dibalik penamaan tersebut, contohnya nama Kedung pada sebuah desa atau dusun, Kedung dalam arti bahasa Jawa adalah sebuah tempat yang dalam disebuah sungai, biasanya di sebelah sungai. Nah dari penamaan Kedung tersebut dapat disimpulkan kalau di dusun tersebut dulunya ada sebuah sungai yang memiliki kedung yang luas.
Share:

11 Juni 2018

BERBAGAI MACAM KOIN KUNO DIALAS TRIK



     Uang adalah alat tukar perdagangan dari masa ke masa yang telah ada sejak dahulu kala. Di Jawa selain koin lokal (Koin Gobog) juga ditemukan koin-koin asing dari berbagai masa, kebanyakan koin asing itu berasal dari Tiongkok.
     Koin Asing dari Tiongkok ini juga ditemukan di Situs Alas Trik tepatnya di sungai Klinter (Patusan) sejak bulan Agustus 2017 sampai Maret 2018 oleh Mukhammad Sultoni salah seorang anggota Paguyuban Satriyo Puser Mojopahit ketika sedang mencari Nyambik (Biawak) di sungai Klinter.


     Koin yang pertama ditemukan tepat sebelah barat Situs Alas Trik  -kini di bawah jembatan bambu yang membentang di atas sungai itu-.  Oleh Sultoni begitu panggilan akrabnya sekarang disimpan di rumahnya untuk dibersihkan. Setelah dibersihkan ternyata koin yang berbentuk bulat dan lubang kotak di tengah itu terlihat beraksara asing, kemungkinan beraksara Tiongkok.


     Oleh Sultoni temuan ini disampaikan pada dulur-dulur anggota 6 Komunitas yang telah berkolaborasi dalam upaya uri-uri sejarah dan budaya Sidoarjo dalam sebuah pertemuan di rumah bapak Hadi. Untuk sementara waktu temuan koin kuno itu disimpan oleh Sultoni.


     Temuan koin kuno berikutnya juga ditemukan lagi tidak jauh dari temuan pertama. Temuan kedua ini juga ditemukan Sultoni ketika membersihkan kedua tangannya setelah makan di gubug di barat makam Klinter (saat itu belum ditemukan Situs Alas Trik yang berupa Struktur pondasi yang memanjang tersebut) bulan Desember 2017.


     Berikutnya disusul temuan lagi bulan maret 2018, kali ini di sebelah utara makam Klinter yang masih di sungai Klinter juga. Hingga kini terkumpul sekitar 5 koin kuno yang sudah ditemukan.

     Dari temuan koin kuno yang kebanyakan koin asing tersebut memunculkan sebuah pertanyaan bagi kita, kenapa koin-koin asing khususnya koin Tiongkok beredar disini? Adakah sebuah kebijakan dari kerajaan-kerajaan Jawa pada masa lalu yang mengizinkan koin-koin tersebut berlaku di Jawa?

     Tentang temuan koin kuno tersebut ternyata menurut cerita warga setempat, dahulu di sebelah selatan pemakaman ketika ada penggalian makam ditemukan sebuah guci yang berisikan koin emas, tetapi karena takut temuan itu kembali ditimbun warga.


     Dari temuan koin kuno dan juga cerita warga setempat khususnya di Situs Alas Trik ini dapat diduga kalau dulunya tempat ini adalah tempat yang penting, kemungkinan ada hubungannya dengan pemukiman awal Mojopahit seperti yang telah dituliskan Serat Pararaton, Kidung Harsawijaya, Kidung Panji Wijayakrama maupun Prasasti Butak yang menceritakan pendirian Mojopahit di Alas Trik.

        Jum at 14 September 2018 koin - koin kuno kembali ditemukan warga Kedung Bocok ketika menggali tanah untuk makam , ketika itu Hari bersama beberapa orang warga sedang menggali tanah karena ada warga dusun Klinter yang meninggal dunia mereka menemukan puluhan koin kuno yang bertumpuk dikedalaman 100 Centimeter , oleh Hari koin - koin tersebut diserahkan kepada Agus Suyatno seorang warga yang peduli dengan peninggalan purbakala didesa Kedung Bocok .
        Agus Suyatno segera membersihkan koin - koin yang lengket dan masih bercampur dengan tanah , setelah beberapa koin dibersihkan terlihat tampilan koin tersebut seperti koin zaman Belanda yang salah satunya masih terbaca angka tahun 1867 namun tentu saja hal itu akan dipastikan dengan menanyakannya kepada ahlinya dalam hal ini ahli koin atau Numismatik , rencananya koin - koin temuan terbaru akan menjadi koleksi Museum Alas Trik.


Wallohu a'lam Bish-showab...
Share:

9 Juni 2018

Pecahan Terakota di Sungai Klinter


     Tidak lazim memang, sebuah sungai kecil atau warga menyebutnya Patusan di Dusun Klinter Kedung Bocok Kecamatan Tarik ini ditemukan banyak sekali artefak peninggalan purbakala, bahkan ketika menginjakan kaki di sungai itu terasa kita tidak menginjak tanah atau lumpur tetapi menginjak pecahan bata, gerabah, tembikar bahkan terakota.
Share:

20 Mei 2018

STRUKTUR BATA (di Bekas Kadaton ALAS TRIK)


     Temuan struktur bata kuno yang ditemukan oleh Mbah Paiman (73 tahun) warga Dusun Klinter Desa Kedung Bocok Kecamatan Tarik Sidoarjo pada hari Sabtu 3 Februari 2018 pada pukul 15.00 WIB, di sebelah barat pemakaman Klinter. Adalah salah satu penguat awal adanya sebuah pemukiman kuno di desa tersebut.

Share:

3 Mei 2018

MISTERI MPU RORO DIALAS TRIK bagian 4



     Setelah peristiwa pertempuran di luar benteng Kota Kahuripan itu, membuat Maharaja Airlangga murung dan bermuram durja. Dari hari ke hari hatinya semakin gundah melihat keadaan Kahuripan di masa depan yang dihantui perang saudara diantara putra-putranya, lebih-lebih putri tercintanya Sanggramawijaya Tunggadewi telah memutuskan menjadi Bikuni yang tentunya jauh dari kotaraja.

     Sementara Sanggramawijaya Tunggadewi berkelana mengunjungi tempat-tempat suci yang tersebar di bumi Jawa untuk memperoleh pencerahan jiwa. Maharaja Airlangga menuju pertapaan Mpu Barada di Ujung Galuh untuk membicarakan keadaan Kahuripan setelah Sang Nata turun tahta.


     Dengan hanya dikawal Patih Narotama saja Maharaja Airlangga menemui Mpu Barada di pesanggrahan Ujung Galuh yang terletak di pesisir Bengawan Gangga.


     "Ada apakah gerangan wahai Prabu Airlangga yang membuat andika mengunjungiku di sini?"


     "Mohon ampun bapa Mpu Barada, Saya gundah-gulana bapa... Samarawijaya dan Garasakan selalu bertikai memperebutkan tahta. Saya memohon petunjuk bapa dalam mengatasi keadaan ini bapa!"


     "Prabu Airlangga, memang kedua putramu itu akan selalu bertikai sampai kapanpun."


     "Lalu bagaimana solusinya bapa?"


     "Solusinya ada tetapi akan sangat melukaimu prabu! Karena segala perjuangan dan pengorbananmu dalam menyatukan dan membesarkan negeri ini akan terlihat sia-sia. Negeri peninggalan Medang yang andika warisi dari Prabu Dharmawangsa Tguh akan terpecah."


     "Itulah yang saya takutkan bapa, apakah setelah saya turun tahta nanti kedua putraku itu tidak terus bertikai?"


     "Patih Narotama bagaimana pendapatmu tentang keadaan ini?" Mpu Barada bertanya kepada patih Narotama.


     "Mohon ampun bapa Mpu, menurut hamba Kahuripan ini harus dipecah jadi dua untuk menghindari pertumpahan darah diantara kedua pangeran." Patih Narotama menjawab dengan berat hati.


     Suasana menjadi hening, Maharaja Airlangga tercenung dengan usulan pemecahan Kahuripan menjadi dua bagian untuk Samarawijaya dan Garasakan. Bagaimanapun dirinya selama bertahta hidupnya dipenuhi perjuangan dalam mempersatukan kerajaan yang terkoyak-koyak diserang musuh dari barat yaitu Kerajaan Sriwijaya. Setelah berhasil melepaskan diri dari Sriwijaya perjuangan tidak berhenti, peperangan demi peperangan dilalui demi memperkuat kerajaan Kahuripan hingga pusat pemerintahannya sering berpindah-pindah, dan kini dirinya harus menerima kenyataan kalau kerajaan ini harus dipecah.


     "Bapa Mpu Barada, demi menghindari pertumpahan darah diantara kedua putraku, demi menghindari kehancuran, saya dengan berat hati menyetujui pembagian kerajaan ini bapa." Maharaja Airlangga tidak dapat melanjutkan kata-katanya, air matanya berlinang.


     "Prabu Airlangga adalah Maharaja Jawadwipa ini. Kuatkanlah hati paduka! Yakinlah suatu hari nanti kerajaan ini akan bersatu lagi. Putrimu Sanggramawijaya Tunggadewi lah yang akan menuntun prosesnya Baginda. Yakinlah itu!" kata Mpu Barada dengan menepuk pundak Sang Raja itu.


     "Benarkah itu bapa?"


     "Begitulah petunjuk yang aku terima, andikapun bisa mendapatkan petunjuk setelah ini."

     Setelah beberapa bulan kemudian Maharaja Airlangga memutuskan untuk menutup salah satu aliran sungai yang mengalir ke bendungan Waringin Sapta di sebelah barat Trung dan dialihkan ke selatan menuju laut Jawa. Dan sungai inilah yang menjadi pembatas atau pembagi dua kerajaan kelak, Jenggala dan Kadhiri (Sungai Porong, dari sinilah Bengawan Gangga dirubah namanya menjadi Bengawan Berantas, yaitu bengawan yang memberantas peperangan).


     Mpu Barada ditunjuk Maharaja Airlangga dalam proyek pembagian kerajaan ini dengan ditandai dengan Penyiraman air kendi Mas sebagai awal pembangunannya. Lokasi penutupan salah satu aliran anak sungai tersebut ada di hutan para Resi di delta Bengawan Gangga.


     Sementara itu Sanggramawijaya Tunggadewi tengah bermeditasi di pertapaan Kapucangan di utara Megaluh (bekas Kerajaan Medang lama) untuk menapaki jejak perjuangan ayahandanya dalam mendirikan Kerajaan Kahuripan.


     Dalam salah satu meditasinya Sanggramawijaya Tunggadewi mendapatkan sebuah petunjuk bahwa dirinya kelak diakhir hidupnya akan bermukim di sebuah tempat yang tidak jauh dari Kotaraja Kahuripan untuk menunggu kesucian sebuah tempat suci sejak era lampau hingga masa Syailendra. Dan di tempat itulah dirinya bersama ketujuh orang Resi menunggu datangnya Satriyo Piningit yang kelak akan mempersatukan kembali kerajaan ayahandanya.

     Tentu saja petunjuk itu sangat aneh bagi Sanggramawijaya Tunggadewi, terutama tujuh orang Resi yang kelak akan tinggal bersamanya.

Bagaimanakah kisah selanjutnya?
Siapakah ketujuh orang Resi itu?

Bagaimanapula keadaan Kahuripan selanjutnya ?

Ikuti terus kisahnya yaa....


Share:

1 April 2018

MISTERI MPU RORO DIALAS TRIK bagian 3


     Pertempuran berkecamuk dengan ganasnya, kedua pasukan saling mengeluarkan segala kekuatannya, korbanpun mulai berjatuhan di kedua belah pihak.

Share:
Komunitas Pecinta Sejarah dan Budaya - GARDA WILWATIKTA Tado Singkalan - "Menapak Jejak, Mematri Semangat, Mengunggah dan Melestarikan Peradaban Nusantara"

Garda Wilwatikta

Labels