G A R D A W I L W A T I K T A

Blog ini bertujuan sebagai wadah/sarana ilmu pengetahuan, sejarah, mitos, dan juga pencarian jejak-jejak peradaban peninggalan Kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Silahkan bagi yang ingin mengikuti komunitas ini kita bisa belajar bersama-sama, karena kami juga sangat minim pengetahuan, dan diharapkan kita bisa sharing berbagai informasi tentang sejarah yang ada di Nusantara ini...

Laman

Tampilkan postingan dengan label Observasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Observasi. Tampilkan semua postingan

5 Maret 2019

SITUS PURBAKALA DIMATA MAHASISWA SEJARAH

                Situs - situs peninggalan bersejarah merupakan kaca benggala untuk belajar dari masa Silam , tanpa mengetahui siapa sebenarnya diri kita , para pendahulu kita hidup dimasa Silam sulit rasanya kita bertindak dimasa kini agar tidak terperosok dimasa depan .

                      Dalam penulisan sejarah tentu ada tahapan dan urutannya secara detail terlebih bagi para penulisnya , tanggal 25 Februari 2019 yang lalu 6 orang mahasiswa sejarah Universitas Negeri Surabaya mengadakan observasi dan pengumpulan informasi tentang berbagai hal tentang Situs yang ada di Dusun Klinter , Desa KedungBocok Tarik Sidoarjo .
   
                       Kedatangan 6 Mahasiswa tersebut disambut oleh sejumlah anggota komunitas di balai desa KedungBocok pukul 15.00 WIB yang dipimpin Umarjiono , Prasetyo, Azriel , Agus Suyatno , Azriel,  bapak Hadi dan Muhaqi .

                         Wawancara segera dilakukan oleh mahasiswa dengan meminta keterangan dari Umarjiono , Prasetyo dan bapak Hadi tentang kronologi penemuan Struktur pondasi dan artefak-artefak lainnya , termasuk alasan kenapa situs yang ditemukan tersebut dinamakan Situs Alas Trik , tak lama kemudian kepada Desa KedungBocok datang dan mempersilahkan kami semua masuk diruangannya .

              Kami semua masuk diruangannya kepala desa KedungBocok yang berAC baru tersebut , Ubed panggilan akrab salah seorang mahasiswa menyampaikan keinginannya pada H. M. Ali. Ridho tentang tugas dari kampusnya untuk melakukan observasi dan pencarian informasi tentang Alas Trik .
  
                 Abah Ridho sangat menyambut positif atas tujuan mahasiswa ini , Beliau mempersilahkan mahasiswa melakukan kegiatannya dan berterima kasih kepada semua upaya memperkenal situs yang ada di desanya agar dikenal dan diakui .
                
           Selanjutnya observasi dilakukan di Situs dan sekitarnya , dengan mewancarai penulis tentang persebaran Jejak di lokasi ,dilanjutkan oleh Prasetyo , Umarjiono dan bapak Hadi , sementara Azriel mengambil dokumentasi kegiatan tersebut .

               Setelah dari situs mahasiswa juga melihat sejumlah artefak dimuseum Darurat untuk menambah bukti penguat adanya situs Alas Trik termasuk keterangan dari BPCB Trowulan yang arsipnya ada di pemerintah desa KedungBocok .

         Sekian.

Agus Subandriyo , penulis.        

Share:

31 Agustus 2018

Situs Watesari dalam khasanah Jejak Peradaban Kuno


     Jejak peradaban purba kembali ditemukan dikawasan Balongbendo, kali ini ditemukan di Desa Watesari tepatnya berada di punden Mbah Sukirman yang terletak di tengah lahan tebu. Temuan tersebut diawali dengan adanya kerja bhakti warga setempat di punden tersebut dengan tujuan membuat jalan ke punden, hal ini dilakukan karena selama ini jalannya tidak rata dan sulit dilewati sepeda motor.

   Ketika kerja bhakti dilakukan oleh warga dengan menggali tanah di timur makam mereka menemukan struktur pondasi bata yang membujur dari utara ke selatan demikian penuturan Suliyono seorang warga, sebelumnya juga ditemukan sebuah sumur kuno di barat makam.

     Atas temuan ini warga melaporkannya pada kepala desa Watesari Bapak Sukisno. Dan atas kesepakatan antara pemerintah desa dan warga, diadakan kembali kerja bhakti untuk memastikan sejauh mana temuan tersebut. Setelah melakukan kerja bhakti di punden Mbah Sukirman ditemukan beberapa artefak lainnya, seperti koin kuno asing, pecahan tembikar dan gerabah. Semua temuan itu untuk sementara ini dikumpulkan di salah satu sudut makam.

     Atas saran dari petinggi Siswahyono mereka menghubungi Laskar Nusantara untuk dimintai pendapat tentang temuan tersebut. Setelah diadakan beberapa pertemuan dengan Laskar Nusantara akhirnya Kepala Desa Watesari bapak Sukisno mengirim surat laporan atas temuan dugaan situs kepada dinas terkait di kabupaten Sidoarjo pada tanggal 23 Agustus 2018.

     Kemudian pada tanggal 25 Agustus 2018 hari Sabtu, pemerintah Desa Watesari mengundang media cetak, elektronik dan televisi untuk meliput temuan di punden Mbah Sukirman. Prof. Amien Widodo dari ITS Surabaya menyempatkan diri untuk hadir diacara tersebut sambil melakukan survey di beberapa titik dugaan situs di Desa Watesari.

     Menurut Pak Amien ini kemungkinan pihak ITS akan melakukan pengujian Geo-listrik dan Geo-radar bulan September mendatang untuk membantu melakukan penelusuran persebaran peradaban di Desa Watesari ini.


     Temuan di Desa Watesari ini bukanlah temuan tunggal baik di Desa Watesari sendiri ataupun di kawasan desa-desa sekitarnya. Di Desa Watesari sendiri setidaknya sudah diketahui 15 titik lebih terdapat sumur kuno yang rata-rata berbentuk bulat dan beberapa diantaranya masih terlihat dengan jelas.

     Disamping itu jejak peradaban juga terdapat di punden Mbah Waru, punden Krapyak dan di pemakaman Umum Watesari dan beberapa titik di Dusun Jatisari. Demikian pula beberapa artefak dari batu andesit juga ditemukan dari beberapa titik berupa umpak, balok andesit, lumpang dan lain sebagainya yang sebagian telah diamankan di Balai Desa Watesari.

     Desa Watesari terletak di sebelah timur Desa Suwaluh yang beberapa tahun yang silam diketahui terdapat beberapa situs disana, salah satunya adalah situs Pelawangan yang cakupannya cukup luas. Juga sebelah utara Desa Watesari terdapat Desa Jabaran yang juga ditemukan jejak peradaban disana. Demikian pula di sebelah timur terdapat Desa Seketi terdapat pula jejak peradabannya hingga ke Desa Tropodo Kecamatan Krian dimana disana tepatnya di Dusun Klagen terdapat Prasasti Kamalagian (prasasti era Airlangga). Desa Watesari juga dekat pula dengan Desa Kraton dan Desa Bakalan Wringinpitu, sehingga bila disimpulkan kemungkinan Desa Watesari termasuk dalam sebuah kawasan pemukiman padat kuno yang bisa saja itu adalah sebuah pusat keramaian atau kota dimasa lalu. Namun tentu saja hal itu baru dugaan awal saja yang perlu adanya penelitian dan pembuktian lebih lanjut.

     Demikianlah yang bisa kami tuliskan pada kesempatan ini, kurang lebihnya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Salam Nusantaraaa ...

Share:

15 Maret 2018

Upaya Pembuktian Hipotesa melalui Uji Geo Listrik



     Setelah berbagai proses dilalui akhirnya pada tanggal 9 - 12 Maret 2018 dilakukan Uji GeoListrik oleh Mahasiswa jurusan Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember di dua tempat, yaitu di Situs Kadipaten Trung (Terung Wetan Kecamatan Krian) dan Situs Alas Trik (Kedung Bocok Kecamatan Tarik).

Share:

4 Juli 2017

Jejak Peradaban Ciro Kulon Part 2


   Pagi itu Anggoro 4 Juli 2017, sesuai dengan waktu yang telah disepakati bersama, Arek-arek Watesrowo yang dinahkodai mas Tri Kisnowo Hadi dari Dusun Watesrowo bersama komunitas Garda Wilwatikta bersiap melakukan sebuah observasi tentang dugaan adanya sumur kuno yang telah ditemukan oleh pak Sariali pada tanggal 29 Juni 2017 lalu. Pak Sariali menemukan beberapa bata kuno yang bentuknya melengkung ketika beliau hendak membuat sumuran untuk menyirami tanaman terong di lahan yang disewa mas Sumantri dari warga dusun Ciro kulon. Temuan bata melengkung tersebut kemudian disampaikannya kepada mas Sumantri.



bata lengkung khas sumur kuno
   Bertepatan saat itu mas Tri Kisnowo Hadi sedang berlebaran di Dusun Watesrowo, dan pada kesempatan itupun mas Sumantri menceritakan perihal temuan bata tersebut di sebuah warung kopi. Karena penasaran atas cerita mas Sumantri tersebut mas Tri mengajak mas Sumantri survei ke sawah yang dimaksud di malam itu juga, sekitar jam 2 pagi mereka bertiga menuju persawahan yang terkenal angker itu.

   Akhirnya mereka bertiga menuju tempat dimana sumuran itu dan berhasil mendapatkan ketiga bata kuno tersebut dan mendokumentasikannya. Kemudian saya salah seorang anggota komunitas Garda Wilwatikta pun mendatangi persawahan itu pada hari Jum’at 30 Juni 2017 dan bertemu dengan mas Sumantri, mas Tri serta beberapa orang pemuda lainnya.

   Pada kesempatan itu mas Tri dan mas Sumantri sepakat untuk meminta pak Singo -seorang petani yang kebetulan mengerjakan sawah di timur temuan itu- untuk menggali tanah yang kemungkinan ada sebuah sumur kunonya pada hari Selasa 4 Juni 2017.

galian sumuran pak Sariali di tengah sawah
   Saya (penulis) telah berada ditempat penggalian sekitar jam 06.00 WIB saat itu masih belum ada teman-teman dari Watesrowo. Tak lama kemudian pak Singo datang dari arah utara menuju ke tempat saya berada sambil memanggul sebuah cangkul dengan tangan kirinya membawa tas plastic. Lalu pak Singo segara menyapa saya dan menanyakan keberadaan mas Sumantri, saya jawab “mas Sumantri belum datang pak..”.

persiapan mbah Singo sebelum penggalian
   Lalu pak Singo menyiapkan ubo rampe untuk melakukan ritual sebelum melakukan penggalian dugaan sumur tersebut. Aroma khas pun segera merebak, tak lama kemudian beberapa orang pemuda Watesrowo pun datang termasuk mas Aziz dari Garda Wilwatikta. Setelah berjabat tangan dengan pak Singo mereka segera mengambil dokumentasi.

ritual dari mbah Singo
   Tidak lama kemudian Pak Singo mulai membaca mantra untuk ritual penggalian, setelah itu penggalianpun dilakukan. Kami semua ikut membantu pak Singo melakukan penggalian sampai mas Sumantri datang, ketika mas Sumantri datang beliau bilang kalau bukan sumuran ini yang digali tetapi yang sebelah selatan, jadinya kami semua senyum-senyum melihat kejadian itu akhirnya kamipun menuju ke tempat sumuran yang di selatan dan melakukan penggalian.

mulai penggalian

proses penggalian
   Pelan namun pasti bata lengkung mulai terlihat, pak Singo kami minta untuk berhati-hati karena khawatir cangkulnya akan mengenai batanya. Airpun disedot pakai mesin diesel, pelan-pelan air mulai surut namun karena kondisi tanah yang lengket dan berlumpur cukup menyulitkan proses penggalian. Struktur bata melengkung yang berupa sumur pun mulai terlihat sedikit demi sedikit.

menyedot genangan air dengan mesin diesel
   Penggalianpun terus dilakukan oleh pak Singo dengan menggunakan bawak, sementara kami membantu dengan mengangkat timba yang telah diisi tanah galian oleh pak Singo keatas, begitulah perlahan-lahan penggalian sudah sampai 50 centimeter dari bata paling atas. Pak Singo kami ajak untuk beristirahat dan minum air agar tidak kecapaian. Haripun makin siang, sinar matahari mulai terasa panas menyengat dikulit. Tak berapa lama kemudian mas Tri Kisnowo Hadi datang ke lokasi dengan membawa makanan dan air mineral.

Mbah Singo (kiri), Tri Kisnowo Hadi (kanan)
   Hari makin panas, waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB penggalianpun dilanjutkan setelah pak Singo selesai sarapan. Mas Tri terlibat dalam penggalian dengan membantu mengangkat tanah keatas, penggalian hampir mencapai 100 centimeter dari bata teratas, air tanah mulai merembes di sumur yang menyebabkan penggalian terganggu karena harus menguras terlebih dahulu. Dari tanah-tanah yang diangkat keatas terdapat pula bata lengkung yang utuh maupun yang sudah pecah, juga terdapat beberapa pecahan keramik. Kemungkinan bata-bata lengkung yang ada di dalam sumur tersebut adalah reruntuhan dari bata sumur bagian atas, sedangkan bata yang sudah pecah atau pecahan keramik bisa saja sengaja dilemparkan oleh anak-anak kecil masa itu. Menjelang pukul 11.00 WIB penggalian telah mencapai kedalaman 125 centimeter dari bata paling atas, akhirnya penggalianpun dicukupkan untuk hari ini.

penggalian dalam sumur
   Dari kronologi penggalian Sumur kuno ini kami bisa mencatat kalau ketebalan bata lengkung ini rata-rata 8 centimeter, semakin kebawah semakin tebal hingga mencapai 9 centimeter. Disamping bata-bata lengkung ada juga ditemukan pecahan bata kuno dengan ukuran 30 cm x 20 cm dan tebal 8 cm.

kedalaman sumur
   Begitulah observasi dan penggalian dugaan sumur kuno yang ditemukan di Dusun Ciro Kulon Desa Bakung Temenggungan Kecamatan Balongbendo Sidoarjo. Setelah penggalian selesai datanglah seorang wartawan dari “Sidoarjo Terkini” untuk meliput kegiatan hari ini. Temuan sumur kuno ini tentunya bukan temuan tunggal di wilayah ini, karena dari informasi warga setempat setidaknya ada satu sumur kuno lagi di pemukiman Ciro Kulon yang masih aktif sampai sekarang hanya kondisi sekarang ditutup sebuah papan dan di dalam rumah warga.

   Dari catatan kami yang pertama mengenai jejak peradaban Ciro Kulon yang lalu memang hanya mengulas jejak bata kuno yang ada di pemakaman umumnya saja, tetapi dengan adanya temuan baru ini tentu akan lebih memperkuat dugaan kami tentang adanya jejak pemukiman kuno di Dusun Ciro Kulon ini umumnya Desa Bakung Temenggungan. Kalaupun kami menyebutnya sebagai sumur Jenggala bukan karena apa-apa tetapi semata-mata karena wilayah Kabupaten Sidoarjo adalah bekas wilayah Jenggala atau Kahuripan, tentu itu bisa saja terlalu naif tetapi tentu saja itu perlu diluruskan oleh pihak-pihak yang berwenang dengan berbagai riset.

>>>baca catatan Ciro Kulon dan Ciro Wetan
Sumantri (kiri), Agus Subandriyo (kanan)

   Selanjutnya kami dari komunitas Garda Wilwatikta menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya pada mas Tri Kisnowo Hadi dan kawan-kawan dari Watesrowo, mas Sumantri, pak Singo dan seluruh pihak yang terkait. Tiada yang berat bila dipikul bersama-sama, tiada gading yang tak retak. maafkan bila ada tutur kata kami yang tidak pantas... Salam Nusantara..

Share:

29 Oktober 2016

MOJOPAHIT ADA DI SEKITAR KITA

BUKAN HANYA DI TROWULAN SAJA


   Bila kita berkunjung ke Museum Mojopahit yang ada di Trowulan Mojokerto maka kita dapat menyaksikan artefak-artefak peninggalan masa Kerajaan Mojopahit disana. Mulai dari prasasti, patung, bata kuno, batu andesit, keramik dan gerabah semua ada disana, juga kotak-kotak eskavasi bekas pemukiman era itu, candi-candi maupun makam-makam.

Share:

3 Juli 2016

TAPASANA PELAWANGAN DAN KISAH PEMBUKAAN SITUS PELAWANGAN



Siang itu dengan me.ngendarai Vespa tuanya, Dedy Anom Al-Jawi telah menelusuri jalanan desa yang sejuk diantara rimbunnya bambu. Tak lama kemudian vespanya berhenti di jembatan kecil pertigaan jalan yang menjadi batas antara dua desa, sambil menghisap rokok Dedy memandang ke arah barat. Terlihat dua buah rerimbuan yang cukup besar di tengah persawahan, “Hemmm tempat itu cukup mencurigakan“.



Itulah kisah awalnya bagaimana Situs Pelawangan Suwaluh-Balongbendo sempat dicurigai oleh Komunitas Pecinta sejarah Nusantara LAKON JAGAD yang merupakan sebuah komunitas pelestari sejarah budaya Sidoarjo. Mereka yang mengawali proses pembukaan Situs Pelawangan sejak pertengahan tahun 2013, setelah itu ada upaya dari mereka untuk membuktikan hipotesanya tentang adanya bangunan masa lalu yang terpendam di Pelawangan. Sekitar bulan Juli 2013 bersama seorang Tokoh Pelestari Budaya Sidoarjo, Lakon Jagad mencoba membuktikan hipotesanya………



Kemudian kegiatan tersebut terus berlanjut pada 14 Februari 2014, Lakon Jagad mengajak komunitas Balasatya Wetan ( Laskar Wetan ) untuk melakukan penggalian mandiri di situs Pelawangan Kidul dengan seizin Pemerintah Desa Suwaluh juga pemilik tanah.




Diiringi letusan Gunung Kelud yang meletus setelah acara syukuran Tumpengan di situs Pelawangan, Komunitas Lakon Jagad dan Balasatya Wetan menggali situs Pelawangan Kidul dengan bergotong-royong, pelan-pelan struktur bangunan yang terpendam mulai tampak, Sakha TV turut mendokumentasikan kegiatan mereka.





Waktupun terus berjalan dengan dinamis, temuan-temuan mulai bermunculan. Tak terasa mereka telah 3 bulan melakukan eskavasi secara mandiri, banyak rintangan dan tantangan dari berbagai pihak tentang kegiatan mereka terutama di medsos seperti KASKUS maupun FACEBOOK sehingga memancing pihak–pihak terkait seperti BPCB Trowulan untuk dating, begitupun komunitas-komunitas pecinta sejarah baik yang mendukung maupun yang menentang.




Akhirnya para pemuda Suwaluh pun ikut dalam proses tersebut, museum minipun segera disiapkan di Kantor Kepala Desa Suwaluh yang memuat temuan-temuan tersebut.









Bahkan ITS Surabaya ikut melakukan riset di Pelawangan. Mereka melakukan pengecekan Georadar dan foto satelit. Dari kesimpulan hasil risetnya dipaparkan dalam seminar ITS yang membuat kesimpulan bahwa ada struktur bangunan yang terpendam di situs Pelawangan dan desa Suwaluh pada umumnya, dugaannya adanya bekas pemukiman.



Selanjutnya Pemuda Suwaluh yang kini meneruskan kegiatan pelestarian di Situs Pelawangan, mereka menamakan diri sebagai TAPASANA PELAWANGAN yang sejak bulan Mei 2016 kembali melakukan bersih-bersih di Pelawangan, demi kecintaan pada peninggalan bersejarah di desanya. TAPASANA PELAWANGAN juga mengajak semua Komunitas Pecinta Sejarah & Budaya lainnya untuk turut berpartisipasi seperti Komunitas Majapahit, Lakon Jagad, Balasatya Wetan, bahkan Garda Wilwatikta.





Para pemuda Suwaluh mempunyai kegiatan positif pada Minggu 25 Juni 2016, yaitu kegiatan menaman tanaman Agrobis di lahan Pelawangan guna mendapatkan manfaatnya terutama demi mendapatkan dana bagi pelestarian Situs Pelawangan itu sendiri.



Semoga komunitas Pemuda Suwaluh TAPASANA PELAWANGAN ini terus eksis dalam melestarikan peninggalan bersejarah di desanya, tetap terbuka dengan semua elemen masyarakat dan tetap mandiri.

Salam Nusantara…

Jaya jaya jaya jaya Wijayanti……!!!


lihat video disini
Share:
Komunitas Pecinta Sejarah dan Budaya - GARDA WILWATIKTA Tado Singkalan - "Menapak Jejak, Mematri Semangat, Mengunggah dan Melestarikan Peradaban Nusantara"

Garda Wilwatikta

Labels