G A R D A W I L W A T I K T A

Blog ini bertujuan sebagai wadah/sarana ilmu pengetahuan, sejarah, mitos, dan juga pencarian jejak-jejak peradaban peninggalan Kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Silahkan bagi yang ingin mengikuti komunitas ini kita bisa belajar bersama-sama, karena kami juga sangat minim pengetahuan, dan diharapkan kita bisa sharing berbagai informasi tentang sejarah yang ada di Nusantara ini...

Laman

31 Desember 2018

Mencari Peradaban Kuno

           Indonesia di masa lalu dikenal sebagai bangsa yang besar dan disegani oleh semua bangsa di didunia . Semua itu karena Nusantara pada masa itu telah maju diberbagai bidang kehidupan.
           Dalam berbagai bidang , Nusantara telah memiliki keunggulan seperti di bidang pertanian , pelayaran , maupun arsitektur yang seni tinggi , seperti yang terlihat dari peninggalan - peninggalan berbagai periode kerajaan , seperti Candi Borobudur , Candi Prambanan , atau Candi- Candi yang elok di Jawa Timur .
        Namun dari semua peninggalan yang  telah dikemukakan diatas itu rasanya terlalu sedikit bila kita mau berpikir rasional tentang peradaban kita dahulu . Kalau candi nya saja semegah itu , mengapa tidak terpikirkan  untuk mencari tentang teknologi yang digunakan pada peninggalan lainnya seperti teknologi tata kota , teknologi sistem irigasi nya? Kenapa hanya situs- situs yang ditemukan saja yang di bahas? Bukankah masuk akal bila masih banyak peninggalan lain yang belum ditemukan yang berada disekitar kita?
          Karena bisa saja situs-situs yang belum diketemukan itu akan benar-benar hilang karena ketidaktahuan kita? Karena ketidakpedulian kita? Mungkin saja situs-situs tersebut masih terkubur dibawah permukaan tanah , karena berbagai sebab . Bisa saja situs-situs tersebut sekarang jadi lahan persawahan atau perkebunan , namun yang sangat disayangkan kalau situs-situs tersebut jadi lahan perusahaan atau perumahan , bukanlah sulit untuk mengungkap nya?
           Bukankah yang rugi kita semua jika situs- situs peninggalan leluhur kita lenyap ? Bukan tidak mungkin dalam situs-situs tersebut tersimpan teknologi yang masih bisa dimanfaatkan di kehidupan bangsa kita sekarang ?
         Untuk itulah diperluk Y6an kesadaran dari kita semua untuk menelusuri dan mencari jejak-jejak peradaban masa lalu untuk diselamatkan , dipelajari , dan dimanfaatkan untuk kehidupan masyarakat sekarang ini . Tulisan ini merupakan catatan kegiatan yang telah kami lakukan selama ini , tentu bukan bermaksud untuk menonjolkan diri kami tetapi semata-mata demi kecintaan kami pada Nusantara ini.

        Apakah peradaban itu ? Peradaban adalah hasil cipta karya manusia yang meliputi beberapa aspek kehidupan manusia yang berhubungan dengan bagaimana cara hidup nya , bahasa nya , struktur dalam susunan masyarakat nya , seni budaya nya , kehidupan religius nya dan arsitektur nya.
       Dalam kondisi seperti sekarang ini , sangat sulit sekali untuk mencari jejak- jejak peradaban kuno tersebut . Hal ini karena adanya peradaban yang lebih modern yang kebanyakan merusak jejak-jejak peradaban sebelum nya .
        Namun jejak-jejak yang bersifat non fisik tetap lah tersisa di masyarakat , seperti dongeng , legenda , ataupun mitos yang ada . Walau tidak semua dongeng , legenda , dan mitos itu benar seluruhnya , namun dari sana lah kita bisa mengambil informasi yang masuk akal untuk kita telusuri . Setelah kita memilah - Milah dongeng , legenda , maupun mitos yang ada , kita lalu bergerak ke lapangan untuk mencari pembuktian fisik darinya .
      Kita bisa mencari jejak-jejak fisik peradaban kuno dari dongeng , legenda , maupun mitos tersebut di tempat- tempat yang relatif aman dari sasaran pembangunan masa kini . Tempat - tempat tersebut biasanya adalah sawah , punden , pemakaman , dan bahkan tempat- tempat yang angker . Punden adalah sebuah tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat .
       Kemudian jangan lupa untuk bertanya tentang segala informasi dari tempat yang akan kita telusuri kepada warga desa setempat , misalnya Tetua Dusun ataupun Juru Kunci ( Kuncen) . Dan jangan lupa kita selalu niatkan dalam hati kita bahwa kita bergerak semata-mata untuk menelusuri sejarah leluhur kita .
      Salah satu jejak yang mudah kita kenali sebagai jejak peradaban kuno adalah adanya batu bata yang ukurannya jauh lebih besar dari ukuran bata sekarang . Batu bata kuno era Mojopahit biasanya berukuran 32.5 x 22.5 sentimeter namun ukuran yang lebih besar maupun lebih kecil juga ada , selain itu kekuatan bata kuno dibandingkan bata sekarang juga berbeda , bata kuno jauh lebih kuat dari bata sekarang .
      Setelah tahu dan paham tentang ukuran batu bata kuno , maka kita dapat membedakan antara batu bata kuno dan batu bata zaman sekarang , walaupun bata- bata kuno tersebut tinggal pecahannya saja di suatu tempat yang kita datangi .
Jejak fisik peradaban kuno lainnya adalah benda-benda yang terbuat dari batu Andesit seperti Yoni , lingga , uang kuno atau nisan . Gerabah atau tembikar yang terbuat dari tanah liat , keramik Asing dari negara seberang seperti Tiongkok , demikianlah yang bisa kami tuliskan semoga bermanfaat .

Terimakasih ...


Selamat mencari .....

Sumber : Buku Mengais Jejak Peradaban Bumi Kahuripan .

Share:

23 November 2018

KIRAB AGUNG BABAT KEDHATON MOJOPAHIT DIALAS TRIK

            Setelah 725 tahun berlalu baru kini Kirab Agung memperingati Hari Ulang Tahun Mojopahit bisa digelar ditempat dimana Mojopahit didirikan yaitu di Alas Trik yang kini ada didesa KedungBocok Tarik Sidoarjo pada hari Minggu 18 November .
           Kirab yang diawali dari depan Gapura Desa KedungBocok berjalan menuju balai desa , iring- iringan kirab yang terdiri dari pasukan utama yaitu Dyah Sanggrawijaya beserta pengikutnya diiring Drum band serta sholawat Nabi itu berhenti didepan balai desa untuk menaruh tumpeng dan gunungan .
        Kepala Desa Kedung H. M . Ali Ridho segera berdoa kemudian warga berebutan isi gunungan dan kemudian memakan Tumpeng bersama - sama ,  acara selanjutnya adalah sambutan - sambutan dari Tamu undangan yaitu Ibu Indahh 3 de ewwww Kurnia anggota DPR RI dari Komisi 11 yang menyatakan apresiasi yang setingi- tingginya atas kelancaran acara Kirab Agung dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Mojopahit dan desa KedungBocok ke 725 , serta mendukung penuh upaya segenap Komunitas Pecinta Sejarah Budaya dan warga KedungBocok dalam melestarikan peninggalan bersejarah khususnya peninggalan Mojopahit awal didesanya .
      Dalam kesempatan itu Ibu Indah mengajakan semua yang hadir untuk menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang dikuti semua yang hadir , selanjutnya beberapa orang perwakilan Komunitas juga memberikan sambutannya yang intinya menyatakan kebanggaan dan dukungannya kepada upaya- upaya pelestarian Sejarah dan Budaya khususnya didesa KedungBocok yang merupakan tempat berdirinya Mojopahit .
       Selanjutnya pemotongan pita oleh Ibu Indah Kurnia dilakukan sebagai tanda dibukanya Situs Alas Trik yang diadakan dibelakang Balai Desa KedungBocok didepan Papan nama Situs , kemudian berjalan bersama- sama memasuki area situs Alas Trik yang diduga kuat dahulu adalah titik nolnya Mojopahit atau Kedhaton pertamanya Mojopahit .
     Setelah sampai di situs diadakan seremonia penanaman pohon Mojo oleh Ibu Indah dan perwakilan dari Komunitas , sebelumnya Kepada Desa KedungBocok memberikan sambutannya dilanjutkan sambutan dari perwakilan Komunitas yang ada diwilayah Tarik yaitu Agus Subandriyo , setelah itu pemandu acara mempersilahkan Ibu Indah , Kepala Desa dan perwakilan komunitas untuk ikut dalam seremonia penanaman pohon Mojo sebagai tanda bersatunya semua pihak dalam melakukan upaya- upaya pelestarian situs Sejarah dan Budaya di Alas Trik khususnya dan Nusantara pada umumnya .
    Acara ini ditutup dengan doa oleh Kepala Desa KedungBocok H. M. Ali. Ridho , selanjutnya semua yang hadir baik dari Tamu , media dan komunitas beramah tamah di Balai Desa KedungBocok sambil makan ala kadarnya .
    Demikianlah rangkaian Kirab Agung Babat Kedhaton Mojopahit telah selesai , atas nama panitia Kirab kami mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya serta mohon maaf yang sebesar- besarnya bila banyak kekurangan dalam pelaksanaan kirab ini kepada Seluruh Tamu dan undangan serta masyarakat KedungBocok ..

    Dirgahayu Mojopahit dan KedungBocok ke 725 ...

Share:

4 September 2018

KIRAB AGUNG MOJOPAHIT WIWITAN


     Pada siang itu setelah seluruh persiapan selesai pada pukul 13.30 WIB Jumat 31 Agustus 2018 mereka para peserta karnaval Desa Kedung Bocok berangkat menuju koramil Tarik yang berada di utara kantor Kecamatan Tarik dengan menumpang beberapa mobil yang telah disiapkan. Pada karnaval kali ini Desa Kedung Bocok menampilkan tema Pembukaan Alas Trik sesuai dengan permintaan Kepala Desa Kedung Bocok H. M. Ali Ridho yang sedang menunaikan haji sehingga pelaksanaannya dilakukan Sekretaris Desa yaitu Ibu Endah.

     Dengan tema Pembukaan Alas Trik ini tentunya berbeda dengan desa lainnya yang mengikuti karnaval tahunan ini, karena disamping mengikuti karnaval kemerdekaan peserta karnaval dari Kedung Bocok ini juga menyampaikan sebuah pesan pada masyarakat untuk memperkenalkan dan melestarikan peninggalan bersejarah di Kecamatan Tarik ini khususnya yang berada di Desa Kedung Bocok yaitu sebuah situs Alas Trik yang merupakan situs cikal bakal kerajaan Mojopahit yang tersohor itu.

     Maka dengan tema tersebut ditampilkanlah sebuah iring-iringan tentang kisah pembukaan Hutan Trik tersebut, mulai dari prajurit-prajurit yang membawa kapak, tombak, hingga pohon Mojo yang merupakan tema utamanya. Sebenarnya sebuah dramatikal tentang penamaan Mojopahit siap dilakukan oleh peserta karnaval dari Kedung Bocok ini tetapi karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan dramatikal tersebut tidak dapat dilakukan, padahal dengan dramatikal ini Desa Kedung Bocok hendak menampilkan pesan pada masyarakat yang melihat karnaval itu tentang adanya sejarah besar di Tarik yang mempengaruhi perjalanan sejarah bangsa ini.

     Dalam iring-iringan ini terdapat Panji dan Pataka Mojopahit, sejumlah pusaka yang berada di depan kereta kencana kemudian pohon Mojo dan buah Mojo, sejumlah Prajurit Tartar yang ditodong Prajurit Mojopahit yang merupakan pesan kalau sebenarnya bangsa kita ini juga sangat tangguh sehingga bisa mengalahkan Pasukan Tartar.

     Bila saja penulis boleh mengkisahkan walaupun dalam tampilan iring-iring karnaval Desa Kedung Bocok itu sederhana dan terkesan seadanya, tetapi itu menggambarkan betapa beratnya perjuangan pembukaan hutan Trik hingga berdirinya Mojopahit.

     "Dalam iring-iringan itu ikut pula sejumlah Resi Utama, Sejumlah putri Kaputren, Tiga Bregodo pasukan berkuda yang sebelah kanan kudanya berwarna putih, sebelah kiri kereta kencana pasukan berkuda yang kudanya berwarna hitam dan yang berada di belakang kereta pasukan berkuda yang kudanya berwarna hitam... sungguh megah iring-iringan itu...

     Demikianlah sebuah upaya dari Desa Kedung Bocok dalam memperkenalkan kembali Mojopahit kepada masyarakat Tarik.


Share:

31 Agustus 2018

Situs Watesari dalam khasanah Jejak Peradaban Kuno


     Jejak peradaban purba kembali ditemukan dikawasan Balongbendo, kali ini ditemukan di Desa Watesari tepatnya berada di punden Mbah Sukirman yang terletak di tengah lahan tebu. Temuan tersebut diawali dengan adanya kerja bhakti warga setempat di punden tersebut dengan tujuan membuat jalan ke punden, hal ini dilakukan karena selama ini jalannya tidak rata dan sulit dilewati sepeda motor.

   Ketika kerja bhakti dilakukan oleh warga dengan menggali tanah di timur makam mereka menemukan struktur pondasi bata yang membujur dari utara ke selatan demikian penuturan Suliyono seorang warga, sebelumnya juga ditemukan sebuah sumur kuno di barat makam.

     Atas temuan ini warga melaporkannya pada kepala desa Watesari Bapak Sukisno. Dan atas kesepakatan antara pemerintah desa dan warga, diadakan kembali kerja bhakti untuk memastikan sejauh mana temuan tersebut. Setelah melakukan kerja bhakti di punden Mbah Sukirman ditemukan beberapa artefak lainnya, seperti koin kuno asing, pecahan tembikar dan gerabah. Semua temuan itu untuk sementara ini dikumpulkan di salah satu sudut makam.

     Atas saran dari petinggi Siswahyono mereka menghubungi Laskar Nusantara untuk dimintai pendapat tentang temuan tersebut. Setelah diadakan beberapa pertemuan dengan Laskar Nusantara akhirnya Kepala Desa Watesari bapak Sukisno mengirim surat laporan atas temuan dugaan situs kepada dinas terkait di kabupaten Sidoarjo pada tanggal 23 Agustus 2018.

     Kemudian pada tanggal 25 Agustus 2018 hari Sabtu, pemerintah Desa Watesari mengundang media cetak, elektronik dan televisi untuk meliput temuan di punden Mbah Sukirman. Prof. Amien Widodo dari ITS Surabaya menyempatkan diri untuk hadir diacara tersebut sambil melakukan survey di beberapa titik dugaan situs di Desa Watesari.

     Menurut Pak Amien ini kemungkinan pihak ITS akan melakukan pengujian Geo-listrik dan Geo-radar bulan September mendatang untuk membantu melakukan penelusuran persebaran peradaban di Desa Watesari ini.


     Temuan di Desa Watesari ini bukanlah temuan tunggal baik di Desa Watesari sendiri ataupun di kawasan desa-desa sekitarnya. Di Desa Watesari sendiri setidaknya sudah diketahui 15 titik lebih terdapat sumur kuno yang rata-rata berbentuk bulat dan beberapa diantaranya masih terlihat dengan jelas.

     Disamping itu jejak peradaban juga terdapat di punden Mbah Waru, punden Krapyak dan di pemakaman Umum Watesari dan beberapa titik di Dusun Jatisari. Demikian pula beberapa artefak dari batu andesit juga ditemukan dari beberapa titik berupa umpak, balok andesit, lumpang dan lain sebagainya yang sebagian telah diamankan di Balai Desa Watesari.

     Desa Watesari terletak di sebelah timur Desa Suwaluh yang beberapa tahun yang silam diketahui terdapat beberapa situs disana, salah satunya adalah situs Pelawangan yang cakupannya cukup luas. Juga sebelah utara Desa Watesari terdapat Desa Jabaran yang juga ditemukan jejak peradaban disana. Demikian pula di sebelah timur terdapat Desa Seketi terdapat pula jejak peradabannya hingga ke Desa Tropodo Kecamatan Krian dimana disana tepatnya di Dusun Klagen terdapat Prasasti Kamalagian (prasasti era Airlangga). Desa Watesari juga dekat pula dengan Desa Kraton dan Desa Bakalan Wringinpitu, sehingga bila disimpulkan kemungkinan Desa Watesari termasuk dalam sebuah kawasan pemukiman padat kuno yang bisa saja itu adalah sebuah pusat keramaian atau kota dimasa lalu. Namun tentu saja hal itu baru dugaan awal saja yang perlu adanya penelitian dan pembuktian lebih lanjut.

     Demikianlah yang bisa kami tuliskan pada kesempatan ini, kurang lebihnya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Salam Nusantaraaa ...

Share:
Komunitas Pecinta Sejarah dan Budaya - GARDA WILWATIKTA Tado Singkalan - "Menapak Jejak, Mematri Semangat, Mengunggah dan Melestarikan Peradaban Nusantara"

Garda Wilwatikta

Labels