G A R D A W I L W A T I K T A

Blog ini bertujuan sebagai wadah/sarana ilmu pengetahuan, sejarah, mitos, dan juga pencarian jejak-jejak peradaban peninggalan Kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Silahkan bagi yang ingin mengikuti komunitas ini kita bisa belajar bersama-sama, karena kami juga sangat minim pengetahuan, dan diharapkan kita bisa sharing berbagai informasi tentang sejarah yang ada di Nusantara ini...

Laman

7 Maret 2022

Sketsa sebagai Illustrasi memudahkan dalam mempelajari Sejarah

       
Sejarah adalah sebuah peristiwa yang telah lampau, peristiwa yang sudah asing bagi masa sekarang, masa millenial katanya orang tentu saja untuk mempelajarinya cukup sulit bagi kita yang telah berbeda segalanya dengan masa lalu. 

     Salah satu upaya mempermudah dan membuat kita seolah olah bisa membayangkan masa lalu adalah membuat sketsa Illustrasi tentang peristiwa atau berbagai bentuk yang mewakili masa lalu, contohnya sketsa tentang bangunan klasik, tokoh, pernak pernik aksesoris klasik misal pusaka, perhiasan maupun pakaian klasik. Dalam pembuatan sketsa itu tentu tetap memakai acuan data literasi Sejarah yang ada seperti relief reliaf panel yang ada diberbagai Candi, Arca arca, Terakota dan Implementasi dari naskah naskah Sejarah yang ada seperti Serat Negarakertagama, Serat Pararaton dan seterusnya, dari sumber sumber data sejarah tadi diolah sesuai rasa dan kreativitas sang pembuat sketsa atau biasa disebut Illustrator. 
   Karena sifatnya hanya untuk mempermudah dan membuat seolah olah seperti kembali ke masa lalu tentu karya sketsa atau Illustrasi bukanlah sesuatu yang valid atau sebuah rekonstruksi sejarah, karena memang bukan begitu tujuannya . 
  Untuk rekonstruksi sejarah tentunya membutuhkan berbagai riset yang rumit dari berbagai unsur dalam mengungkap sejarah mulai dari Arkeologi, Histrografi, Filologi dan lain lainnya, dalam upaya memperkenalkan sejarah lewat sketsa illustrasi penulis telah memulai karya karyanya lewat YouTube Garda Wilwatikta dan bekerja sama dengan Arkeovlog dengan menampilkan proses pembuatan sketsa illustrasi tentang sejarah. 


Terima kasih 

Agus Subandriyo Penulis 

Share:

30 September 2021

Sebuah Jejak dari Masa Lalu, Punden Kuyomolo Rejosari Sumber Rame Gresik

     
      Sungguh apa yang ada hari ini tidak akan terlepas dari yang pernah ada dimasa lalu, masa lalu tidak pernah benar benar hilang dari kehidupan kita, masa lalu hanya sekedar berdiam diri untuk kemudian menampakan diri kepada dunia kalau ia benar benar nyata. 

       Sekitar tanggal 17 September 2021 sejumlah warga Rejosari Sumber Rame Wringinanom Gresik seizin kepala desa Sumber Rame berniat membuat sebuah kolam untuk wahana wisata desa, kegiatan yang diprakarsai mas Nursilam tersebut dimulai dengan melakukan pembersihan diatas tanah disebelah selatan punden Kuyomolo yang menurut cerita turun temurun adalah sebuah Sendang. 

       Dengan menggunakan alat berat mereka menggali tanah hingga kedalaman sekitar 2,5 meter alat berat membentur benda keras, setelah diangkat ternyata benda keras tersebut adalah bata bata kuno yang berukuran besar, karena penasaran sejumlah warga memastikan langsung apakah yang ada didasar kolam, ternyata terdapat struktur bata kuno yang menyerupai pondasi ada disitu. 

         Struktur pondasi bata kuno tersebut menurut keterangan warga berorientasi timur barat dan utara selatan, namun karena derasnya sumber air dikolam itu juga banyaknya lumpur membuat struktur bata itu sulit terlihat ( Lihat Videonya disini https://youtu.be/hTDg3_ZtTfA) 

        Berita tentang adanya temuan Struktur bata kuno dikolam tersebut telah beredar luas dimedia Sosial sehingga membuat Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Gresik turun tangan melakukan sidak dilokasi temuan, namun karena air dan lumpur telah meninggi membuat para petugas dari Dinas tersebut tidak bisa melihatnya secara jelas, mereka hanya mencari informasi kepada sejumlah warga yang turut menggali kolam. 


         Kemudian pada tanggal 23 September 2021 sejumlah warga membuat saluran air dibarat pohon Beringin agar air hujan bisa mengalir ke kolam ternyata kembali menemukan struktur bata kuno, karena penasaran warga mencoba mencari sampai kemana struktur bata kuno tersebut mengarah, dari penggalian tersebut terlihat orientasi struktur barat utara selatan dan timur barat. 


         Ada sekitar 14 lapis bata , dengan ukuran bata yang terbesar berukuran 39 x 34 centimeter dengan tebal 7 centimeter, atas temuan ini mas Nursilam telah berkoordinasi dengan pemerintah desa Sumber Rame dan langsung melaporkan ke kantor Dinas Pariwisata dan Budaya di Gresik, pihak Dinas meminta penggalian dihentikan menunggu sidak berikutnya dari pihak terkait. 

       Dari Temuan tersebut dapat dibuat sebuah kesimpulan kalau situs situs masa lalu tersebut biasa berada di makam, punden namun juga bisa ditelusuri dari nama dusun, desa atau nama punden, dari perbincangan penulis dengan sejumlah warga disana ternyata situs tersebut tidak situs tunggal dari keterangan warga yang membuat pondasi rumah atau sanitasi mereka juga menemukan struktur bata kuno, sumur kuno, peralatan memasak dari batu yaitu lumpang batu dan ternyata menurut kisah warga yang sudah sepuh dahulu nama dusun Rejosari pernah bernama Beji, kemudian berganti nama Wonokoyo lalu berganti lagi dengan nama Kambing dan sekitar tahun 1978 berubah lagi menjadi Rejosari hingga kini, Beji adalah sebuah nama yang ada di sejumlah daerah itu berkaitan dengan air, contoh situs Sumber Beji Jombang yang kita  ketahui sekarang adalah sebuah petirtaan mewah pada masa klasik, dulu Sumber Beji adalah sebuah punden yang ada semacam sumber airnya , dari kesamaan nama dan adanya temuan struktur bata kuno ini terlebih adanya cerita tentang sebuah Sendang di Punden Kuyomolo ini bukan tidak mungkin memang pernah ada sebuah petirtaan disini... 

        Sejumlah warga yang peduli dengan situs yang baru terungkap ini berharap agar pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur segera melakukan sidak dan upaya penyelamatan terhadap situs yang diduga kuat sebagai tinggalan cagar budaya ini.. 


Agus Subandriyo, Penulis. 
Share:

22 Juli 2021

Jejak Kekunoan di Desa Sumber Gondang ( Jejak Pengungsiian Jayanagara) ?



         Dalam Serat Pararaton disebutkan ketika terjadinya pemberontakan Dharma Putra yang dipimpin Ra Kuti, kotaraja jatuh ke tangan musuh demikian pula kedhaton juga berhasil dikuasai, sebelum pasukan Ra Kuti memasuki Puri Dalem Raja, Bekel Mada pemimpin prajurit Bhayangkara secara diam - diam membawa Raja dan keluarganya meninggalkan Puri untuk menyelamatkan diri. 

         Melalui jalur - jalur jalan rahasia mereka meninggalkan Kotaraja menuju tempat yang aman dari kejaran Ra Kuti, menurut Pararaton Bekel Mada membawa Prabu Jayanagara beserta keluarganya ke Badander, dimanakah Badander itu? Hari Selasa 20 Juli 2021 bertepatan dengan Hari Idul Qurban kami penasaran dengan sebuah tempat yang bernama Jaladri, Jaladri atau warga setempat menyebutnya Jeladri adalah sebuah Situs kekunoan yang berada diperbukitan diwilayah desa Sumber Gondang Kecamatan Kabuh Kabupaten Jombang. Setelah berkumpul dirumah mas Dwi Tombol yang berada tepat didepan Prasasti Gurit, sebuah prasasti peninggalan Airlangga didusun Sumber Gurit, Katemas, Kudu kami segera menuju desa Sumber Gondang untuk terlebih dahulu sowan kepada Bapak Sambang warga dusun Bedander yang merupakan ketua Paguyuban Damar Panuluh. 

      Menurut keterangan Bapak Sambang ini Badander yang dimaksudkan dalam Pararaton itu bukanlah Bedander yang berada diwilayah Bojonegoro tetapi Bedander yang ada disini yaitu Bedander, Sumber Gondang Kecamatan Kabuh, karena menurut Beliau jejak dan cerita rakyat tentang Pengungsian Prabu Jayanagara tersebut lengkap , mulai dari tempat persembunyiannya yaitu Jeladri yang berada diatas puncak perbukitan kemudian sebuah tempat tinggal setelah kondisi aman yang disebut Pagar Banon, Pagar Banon ini artinya sebuah tempat yang dikelilingi pagar bata. 

      Namun sayang sekali bukti adanya Pagar Banon tersebut kini sudah lenyap hanya ada sebuah tempat didekat Pagar Banon itu yaitu sebuah Punden yang terdapat beberapa Lumbang batu. 


       Tidak jauh dari Punden tersebut dirumah warga terdapat batu Dorpel atau istilahnya ambang pintu, menurut keterangan warga Dorpel ini sejak dahulu memang berada dirumahnya , artefak ini sudah diverifikasi BPCB Jatim tahun 2017 , menurut pendapat mas Tp Wijoyo kemungkinan dahulu pernah ada sebuah bangunan Candi ditempat itu, asumsi ini muncul karena keberadaan Dorpel tersebut. 
          Kembali pada Situs Jaladri yang menurut keterangan Bapak Sambang disebut juga sebagai Punden Sentono Agung Jeladri, konon menurut cerita rakyat turun temurun Jeladri adalah tempat pemujaan sejak era Airlangga berlanjut masa Majapahit hingga masa Islam, memang dari tampilan sekarang Jeladri sudah tidak aslinya, karena mingkin dahulu ditemukan sudah dalam kondisi rusak kemudian ditata ulang ala kadarnya oleh penduduk setempat entah pada masa apa. 

          Dari ukuran bata kuno terlihat adanya beberapa ukuran yang berbeda, ada yang besar sekali ada yang ukurannya lazim era Majapahit dan ada yang lebih kecil, itu menunjukkan dari berbagai masa. Selain bata kuno disitus Jeladri ini terlihat banyak umpak batu dari berbagai ukuran, ini menunjukkan kalau dahulu ada bangunan yang beripa pendopo atau bahasa kunonya adalah Mandapa atau Madepa dalam bahasa Madura. 

    Terdapat pula beberapa lumpang batu, juga sebuah fragmen batu yang berbentuk seperti Manggis ( seoerti temuan batu Manggis Terung Wetan) apakah batu berbentuk Manggis itu asli temuan dari sini ataukah pindahan dari tempat lain tentu ini akan menarik, karena menurut pendapat Batu Manggis yang ditemukan di Terung Wetan itu adalah Jangkar Kapal, apakah Batu Manggis Jeladri itu juga fungsinya sama? 

      Apakah dulu ada sungai kuno disekitar Jeladri? Hingga ada sebuah Jangkar kapal ditemukan disini? Lebih lebih dari namanya sudah aneh... Jaladri... 


Terimakasih
Share:

20 Februari 2021

Jejak Peradaban Kuno di Pager Ngumbuk


   Jejak Peradaban Kuno begitu merata di desa desa, salah satunya di desa Pager Ngumbuk Kecamatan Wonoayu Kabupaten Sidoarjo, melihat letak geografis nya dengan bersebelahan dengan desa Candi Negoro dimana Gapura Dermo berada, tentu menimbulkan sebuah hipotesis tentang luasan wilayah Kadipaten Terung dulu. Mungkinkah desa Pager Ngumbuk ini juga termasuk wilayah dari Kadipaten Terung atau bahkan sudah ada sejak era sebelum Majapahit? 

       Kita coba memaknai arti dari nama Pager Ngumbuk yang ternyata merupakan gabungan dari nama 2 dusun yaitu Pager dan Ngumbuk, secara umum makna dari Pager adalah sebuah pembatas wilayah yang bisa berupa bangunan tembok memanjang, sedangkan makna dari Ngumbuk kemungkinan adalah sesuatu yang bertumpuk. Tentu saja dipertimbangkan cerita rakyat dari 2 dusun tersebut tentang sejarah dan makna nama kedua dusun tersebut. 
         
      10 Februari 2021 Praktisi Museum Kreweng Mbah Mulo dan Dedhi Pramudya menelusuri kedua makam yang ada di desa Pager Ngumbuk yaitu makam dusun Ngumbuk dan dusun Pager, dari penelusuran kedua pecinta Sejarah tersebut ternyata di kedua makam tersebut banyak terdapat jejak peradaban, mulai dari bata bata kuno yang berukuran besar, balok balok andesit komponen penyusunan bangunan, keramik, tembikar, koin koin kuno serta umpak. 
19 Februari 2021 kembali kami, Mbah Mulo, Dedhi Pramudya W, mas Alik dan penulis menelusuri makam dusun Pager untuk membuat sebuah dokumentasi atas adanya jejak peradaban disana. 
       Ukuran bata kuno yang ada dimakamkan Pager cukup bervariasi mulai ukuran khas Majapahit 32.5 x 20 x 6 cm, ada yang cukup besar lagi 45 x 29 x 13 cm, juga ada 6 balok andesit yang beralih fungsi menjadi nisan berukuran 65 x 39 x 13 cm. Adanya balok balok andesit tersebut menimbulkan dugaan kalau disana ada bangunan besar yang berbahan batu andesit, menurut Mbah Mulo dahulu dimakam Pager ini banyak ditemukan Keramik keramik Asing juga tembikar dan terakota.. Lihat videonya disini https://youtu.be/OrfDVo_pqdw

      Selain itu ditemukan juga fragmen batu lengkung penyusun bangunan sumur, hal ini semakin menguatkan hipotesis tentang adanya peradaban kuno di desa Pager Ngumbuk yang pastinya harus diungkap...........Sekian


Agus Subandriyo, Penulis

Share:
Komunitas Pecinta Sejarah dan Budaya - GARDA WILWATIKTA Tado Singkalan - "Menapak Jejak, Mematri Semangat, Mengunggah dan Melestarikan Peradaban Nusantara"

Garda Wilwatikta

Labels