G A R D A W I L W A T I K T A

Blog ini bertujuan sebagai wadah/sarana ilmu pengetahuan, sejarah, mitos, dan juga pencarian jejak-jejak peradaban peninggalan Kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Silahkan bagi yang ingin mengikuti komunitas ini kita bisa belajar bersama-sama, karena kami juga sangat minim pengetahuan, dan diharapkan kita bisa sharing berbagai informasi tentang sejarah yang ada di Nusantara ini...

Laman

25 September 2017

Sambung Rasa Antara 6 Komunitas Dengan BPCB Jawa Timur


Senin 18 September 2017 pukul 10.00 WIB, adalah waktu yang telah disediakan oleh Bapak Kepala Kasi PP kepada 6 Komunitas Pecinta Sejarah dan Budaya dari Kabupaten Sidoarjo untuk mengadakan pertemuan atau istilah lainnya adalah Sambung Rasa
antara 6 Komunitas tersebut dengan Istansi Pemerintah dalam ini adalah Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur tentang berbagai hal seputar temuan-temuan Situs Purbakala dan permasalahannya dalam pelestariannya, terutama yang berada dalam wilayah Kabupaten Sidoarjo.
            Sebelumnya 6 Komunitas Pecinta Sejarah dan Budaya telah hampir 3 bulan bersama-sama menyatukan persepsi, visi dan misi mereka dalam menyikapi berbagai hal tentang kurang terpeliharanya temuan-temuan situs yang ada di Kabupaten Sidoarjo baik itu kurang respeknya pemerintah daerah setempat maupun masyarakat umumnya. Setelah menjalani serangkai kegiatan penelusuran Jejak-jejak Peradaban dan serangkaian diskusi panjang akhirnya dicapai sebuah kesepakatan bersama untuk mengirim surat ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur untuk meminta waktu untuk sekedar beraudensi pada tanggal 28 Agustus 2017 yang lalu. Setelah sebelumnya juga bertemu dengan beberapa orang arkeolog dari Puslit Arkenas Jakarta yang sedang melakukan riset di situs Grogol, Beliau adalah Ibu Watty Yusman, Bapak Edy, Ibu Titi dan Ibu Tri Wahyuni.



            6 Komunitas yang terdiri dari Balasatya Wetan, Lakon Jagad, Garda Wilwatikta, Satriyo Puser Mojopahit,Paguyuban Sendang Agung dan Pimcab Sidoarjo Perhimpunan Pergerakan Indonesia akhirnya diterima oleh Bapak Kepala Kasi PP Drs. Edhi Widodo M. Si. Beserta staffnya yaitu Bapak Nugroho Harjo Lukito SS., Bapak Sudaryanto, Bapak Kuswanto SS. M.Hum. Dan Bapak Muhammad Ichwan SS. MA. di ruangan presentasi sekitar pukul 10.15 WIB.



            Kamipun masuk ruangan yang disediakan, dan acarapun dibuka oleh Bapak Kepala Kasi PP Drs. Edhi Widodo dengan menyampaikan ucapan selamat datang kepada semua perwakilan 6 Komunitas yang hadir sambil menanyakan maksud dan tujuan kedatangan 6 Komunitas dari Sidoarjo ini. Bapak Tri Kisnowo Hadi sebagai juru bicara 6 komunitas Sidoarjo ini segera memulai prolognya tentang latar belakang tujuan 6 Komunitas bertemu dengan Kepala Kasi PP dan staff yang intinya adanya sebuah keprihatinan yang mendalam dari elemen masyarakat pecinta sejarah Sidoarjo tentang pelestarian Situs-situs di Sidoarjo yang sepertinya tidak direspon secara baik oleh pemerintah daerah maupun masyarakat sehingga terjadi pembiaran terhadap situs-situs yang relatif baru ditemukan seperti Situs Alas Trik ,Situs Terung, Situs Pelawangan, Situs Urangagung dan juga hendak melaporkan Temuan situs di tepi Sungai Porong Desa Leminggir Kecamatan Mojosari Kabupaten Mojokerto.



            Selain Bapak Tri Kisnowo Hadi dari Pimcab Perhimpunan Pergerakan Indonesia, Bapak Khudori Al Wakid dari Satriyo Puser Mojopahit juga menambahkan tentang keprihatinan masyarakat Tarik khususnya, karena ada semacam pertanyaan dari masyarakat tentang bagaimana sebenarnya Sejarah Tarik tersebut. Sebab dalam sebuah literatur sejarah yaitu Pararaton menyebutkan kalau di daerah yang disebut ALASE WONG TRIK adalah tempat berdirinya Mojopahit terlebih dahulu. Sekitar tahun 1986-1995 pernah ada beberapa kali penelitian di kawasan Medowo dan Klinter yang merupakan wilayah dari Tarik yang hingga kini belum ada kajian resmi tentang penelitian tersebut. Bapak Drs. Edhi Widodo segera merespon dengan menyebutkan bahwa sesuai UU Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya kewenangan yang dipunyai BPCB, serta kewenangan-kewenangan yang sebenarnya kini berada pada istansi pemerintah yang ada pada pemerintah Kabupaten maupun kota secara jelas. Dan juga Pak Edhi Widodo menyebutkan berbagai macam kesulitan yang dialami BPCB terkait dengan minimnya anggaran tentang hal itu. Jadi dalam menjalani fungsinya menanggapi laporan masyarakat tentang adanya temuan situs pihaknya memakai skala prioritas, artinya tindakan terdapat temuan situs-situs tersebut terlebih dahulu akan disurvei oleh BPCB apakah situs tersebut masuk dalam prioritas utama atau dibawahnya.



            Selanjutnya Pak Edhi Widodo mempersilahkan adanya pelaporan situs di tepi Sungai Porong yang disampaikan oleh Bapak Agus Subandriyo dari Komunitas Garda Wilwatikta. Dalam kesempatan ini Bapak Agus Subandriyo menjelaskan secara ringkas adanya temuan situs yang berupa 6 sumur kuno yang terbuat dari bata kuno yang bentuknya bundar. Struktur pondasi yang masih tertanam di tebing utara sungai porong dengan panjang struktur lebih dari 15 meter. Diduga struktur bata itu masih terpendam utuh di bawah tanah yang kini ditanami jagung dan singkong. Kemudian reruntuhan bata yang berserakan di sepanjang tepi sungai lebih dari 15 meter, pecahan tembikar, gerabah, keramik, batu pipisan, serpihan tulang dan koin kuno yang diduga koin Cina.



            Selain itu Bapak Agus Subandriyo juga meminta adanya respon dari BPCB Jawa Timur atas temuan tersebut karena rawan sekali terjadi kerusakan pada situs tersebut termasuk meminta dokumen tentang hasil Riset Balai Arkeologi Jogjakarta antara tahun 1986–1995. Selanjutnya Bapak Agus Mulyono dari Komunitas Lakon Jagad juga menceritakan tentang proses penemuan Situs Terung dari awal hingga kini termasuk adanya upaya eskavasi dari BPCB tahun 2015 yang dipimpin Bapak Nugroho Harjo Lukito sekaligus menanyakan hasil dari eskavasi tersebut.



Menanggapi hal tersebut Bapak Edhi Widodo kembali memperjelas kemampuan dan kewenangan yang dimiliki BPCB yang tentunya selain anggarannya terbatas juga tidak bisa berbuat tanpa ada kejelasan dari tanah yang ada situsnya tersebut. Karena BPCB tidak diizinkan melakukan tindakan lebih, misalnya pemugaran sebuah situs sebelum status tanahnya itu resmi menjadi tanah milik negara.


Bapak Tri Kisnowo Hadi juga menanyakan tentang kenapa 6 Komunitas ini melaporkan langsung temuan situs kepada BPCB karena bila melaporkan temuan situs ke pihak Dispora yang ada di Pemerintah Kabupaten maka pihak Dispora berdalih kalau hal itu menjadi wewenang BPCB, jadi ada semacam pelemparan tanggungjawab antara Pemerintah Kabupaten/Kota dengan BPCB padahal dalam UU nomor 11 tahun 2010 telah jelas disebutkan tugas dan wewenangnya pada Bab VIII pasal 95 dan 96, dengan adanya kejadian semacam itu Bapak Edhi Widodo menganjurkan untuk mendorong pada instansi terkait di pemerintah Kabupaten/Kota untuk menjalankan fungsi dan wewenangnya sesuai UU nomor 11 tentang Cagar Budaya khususnya pasal 95 dan 96. Tentunya bisa melalui pendekatan politik melalui komisi-komisi DPRD yang mengurusinya.



Selanjutnya Bapak Nugroho Harjo Lukito yang menanggapi pertanyaan dari Bapak Agus Mulyono tentang hasil Eskavasi BPCB di Terung tahun 2015. Secara lugas Pak Nugroho ini menyebutkan tentu saja 3 hari eskavasi di situs Terung belum bisa menjawab tentang apa itu Terung apalagi periodesasi, karena memang waktunya tidak cukup untuk itu, lagi-lagi kendalanya dari anggaran yang terbatas. Tetapi Pak Nugroho memberikan jalan keluar untuk mempercepat langkah-langkah penanganannya melalui kerjasama dengan pemerintah daerah setempat. Tentunya ada mekanisme yang tersendiri terutama tentang anggaran kegiatan tersebut. Secara tersirat Pak Nugroho menyatakan kalau temuan situs Terung yang kedalamannya di atas 2 meter, dengan ada 3 lapisan tanah yang berbeda bisa saja situs tersebut lebih Tua dari Mojopahit, bisa zaman Kediri atau lebih lama lagi.



            Selanjutnya Bapak Sudaryanto menanggapi penyataan Bapak Khudori tentang pemanfaatan situs dengan kegiatan yang bermuatan budaya lokal seperti yang ada di daerah Puri, sebuah tempat situs yang hingga kini tetap dimanfaatkan dengan kegiatan-kegiatan budaya. Kemudian belum meratanya staff ahli yang seharusnya ada di setiap Kabupten dan kota juga menyulitkan kegiatan pelestarian, untuk itulah Bapak  Kusawanto meminta kepada 6 komunitas ini untuk mendorong pihak pemerintah Kabupaten kota untuk menunjukkan staff ahlinya agar lebih memudahkan penanganan pelestarian di daerah-daerah, karena di berapa daerah seperti Malang dan Kediri telah mempunyai Staff Ahli yang mengurusi keberadaan situs-situs di wilayahnya, sehingga kalau ada penemuan situs baru proses penanganannya akan lebih cepat. Juga tentang peran pentingnya komunitas-komunitas pecinta sejarah dan budaya tentu akan membantu proses penanganan situs-situs, baik itu yang sudah ada maupun yang baru ditemukan. Pak Sudaryanto menyebutkan kalau komunitas-komunitas yang ada di Lamongan bahkan telah melakukan sebuah eskavasi bersama pihak pemerintah Kabupaten Lamongan, mereka bahakan meminta anggaran pada pemerintah daerah setempat untuk bersama-sama melakukan Eskavasi pada sebuah situs, karena kurangnya tenaga ahli dari eskavasi ini mereka meminta bantuan kepada BPCB Jawa Timur untuk mengirimkan tenaga-tenaga arkeolog untuk memandu kegiatan tersebut. Dengan adanya peristiwa tersebut Pak Sudaryanto mengharapkan agar komunitas-komunitas lain khususnya dari Sidoarjo bisa berbuat seperti itu.



            Selanjutnya Bapak Muhammad Ichwan menambahkan pengalaman-pengalamannya bertugas di berbagai tempat di Jawa Timur sebagai Staff ahli yang tentunya bekerjasama dengan berbagai komunitas di daerah-daerah, seperti Madiun dan Ponorogo. Bapak Ichwan ini menjanjikan membantu mendapatkan copy dari jurnal yang dikeluarkan Balai Arkeologi Jogjakarta tentang Riset di Medowo seperti yang ditanyakan Bapak Agus Subandriyo pada kesempatannya tadi.
Waktupun makin siang, Bapak Kepala Kasi PP Edhi Widodo dalam penutupannya menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya atas kunjungan 5 Komunitas Pecinta Sejarah dan Budaya Sidoarjo ini. Dan mengharapkan apa yang dibahas dalam pertemuan tadi benar-benar bermanfaat bagi pelestarian di Jawa Timur khususnya di wilayah Sidoarjo yang kaya akan peninggalan bersejarah serta meminta maaf yang sebesar-besarnya atas penyambutan di kantor BPCB Jawa Timur. Sebelum menutup kalimatnya Bapak Edhi meminta pada perwakilan Komunitas yang hadir untuk menambahkan atau menyampaikan sesuatu.
            Bapak Khudori Al Wakid menyampaikan harapannya agar pihak BPCB Jawa Timur terus terbuka dan senang hati membimbing komunitas-komunitas Pecinta Sejarah dan Budaya Sidoarjo ini agar pelestarian Situs-situs Sejarah yang sudah maupun yang akan ditemukan nanti akan mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat, juga agar peninggalan-peninggalan leluhur kita bisa dilestarikan dan bisa dimanfaatkan untuk kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara. Akhirnya acara Sambung Rasa 6 Komunitas Pecinta Sejarah dan Budaya Sidoarjo dengan BCPB Jawa Timur resmi ditutup pada pukul 12.30 WIB. Semoga kegiatan yang positif ini akan terus berlangsung dan meningkat tingkatnya dari waktu ke waktu. Amiiiin…





Selanjutnya kegiatan diisi dengan foto-foto bersama di depan ruangan Perpustakaan, disertai dialog-dialog hangat antara mereka yang intinya tidak jauh dari pelestarian situs dan bagaimana mekanismenya. Dialogpun makin akrab diselingi minum kopi di warung belakang kantor BPCB ini. Diakhir acara ternyata 5 komunitas yang hadir tersebut ditraktir oleh Bapak Nugroho Harjo Lukito karena kami dilarang membayar kopi pada warung tersebut, terimakasih Pak


Semoga kemesraan ini terus berjalan... Terimakasih…
Share:

13 Agustus 2017

Sabda Enam Sumur Kuno


   Informasi adanya sumur di tepian sungai Brantas kami dengar dari teman kami Sutikno warga Desa Modopuro Mojosari, sekitar akhir tahun 2015 yang silam. Kami dari Garda Wilwatikta yang saat itu melakukan pendataan sampai ke wilayah Modopuro tepatnya di makam Resi Mayangkhara. Dalam perjalanan pulang kami singgah sebentar di warung sebelah utara jembatan darurat itu untuk sekedar minum. Lalu melihat sejenak dari atas ke bawah sungai Brantas tersebut. Dari atas kebun jagung ketika itu kami melihat bata-bata kuno berserakan di dalam air di sisi utara sungai, karena kondisi curam dan air sedang tinggi kami memutuskan tidak turun ke bawah. (lihat catatan "Perjalanan menuju Modopuro").

   Beberapa hari yang lalu saya bersama bapak Hadi seorang pecinta sejarah & budaya dari Tarik, kembali menuju situs tersebut. Dengan dipandu oleh Beliau saya mengikuti dari belakang menembus kebun yang ada di selatan tangkis ke arah barat, mencari jalan yang agak landai untuk turun kebawah, akhirnya pak Hadi turun ke bawah di sisi utara sungai yang airnya sedang surut.



   Ketika pertama turun, pak Hadi yang sejak siang telah menyusuri tempat ini menunjukkan pada saya sebuah sumur yang bentuknya bulat dengan bata-bata yang melengkung.



   Selanjutnya Sabtu sore (Sanaiscara 6 Agustus 2017) beberapa komunitas pecinta Sejarah berkumpul di lokasi untuk bersama-sama mendata temuan di tebing sungai Brantas tersebut, setelah sebelumnya berkumpul di kediaman pak Hadi. Mereka adalah Satrio Puser Mojopahit, Lakon Jagad, Garda Wilwatikta, Balasatya Wetan dan aktivis pergerakan yang dipimpin mas Tri Kisnowo Hadi dari Watesrowo.



   Dari tebing-tebing sungai tersebut tersisa struktur yang diduga sebuah bangunan. Pak Hadi terus menuju ke bawah jembatan menunjuk beberapa titik yang diduga ada jejak peradaban, bahkan menurutnya ada 3 sumur lagi di lokasi ini, hanya saja posisinya lebih kebawah sehingga terendam air. Karena waktu saya yang terbatas akhirnya saya meninggalkan lokasi tetapi sebelum saya pergi mas Sultoni dari Satrio Puser Mojopahit datang untuk meneruskan penelusuran sore itu bersama pak Hadi.



   Setelah melakukan olah lokasi bersama-sama akhirnya kami semua membuat sebuah Maklumat bersama yang isinya seruan untuk melakukan penyelamatan situs di tebing sungai brantas khususnya, dan situs-situs bersejarah lainnya. Mas Tri Kisnowo Hadi dari PPI (Perhimpunan Pergerakan Indonesia) mengusulkan harus ada beberapa orang yang tampil menyampaikan aspirasinya dalam maklumat budaya tersebut. Akhirnya disepakati bahwa Mas Dalang dari Satrio Puser Mojopahit yang menjadi pembukanya, disusul saya sebagai perwakilan dari Balasatya Wetan dan Garda Wilwatikta, lalu Mas Nizar dari Lakon Jagad, serta mas Tri Kisnowo Hadi.


   Masing-masing menyampaikan sesuai dengan kapasitasnya. Mas Dalang menyampaikan ajakan untuk turut serta uri-uri sejarah budaya nenek moyang agar tetap lestari, saya menyampaikan sedikit kronologi sejarah, dilengkapi mas Nizar menjelaskan temuan-temuan artefak yang ada, dan mas Kisnowo Hadi menyampaikan agar pihak-pihak yang punya wewenang dalam pelestarian baik pemerintah maupun independen untuk segera turun tangan menyelamatkan situs tersebut.


   Maklumat budaya tersebut disiarkan secara live melalui media sosial oleh mas Bagus dari PPI untuk disampaikan kepada publik, khususnya media sosial agar diketahui masyarakat bahwa ada sebuah kumpulan beberapa komunitas dalam ikut serta menyelamatkan dan melestarikan peninggalan sejarah dan budaya Nusantara, dengan harapan supaya masyarakat maupun pihak yang berwenang segera melakukan upaya-upaya penyelamatan. Karena jika tidak, dikhawatirkan situs-situs tersebut akan lenyap. Demikianlah, setelah cukup membuat dokumentasi di tebing sungai Brantas tersebut akhirnya kami memutuskan untuk melaporkan temuan itu kepada Kepala Desa setempat.


   Perwakilan dari beberapa komunitas tersebut menyampaikan temuan dan maksud kami pada Kades setempat yang direspon cukup baik oleh Kades. Bahkan Kades pun heran dan bangga akan kedatangan kami. Setelah cukup melaporkan temuan hari itu, kamipun meninggalkan rumah Kades untuk kembali ke rumah masing masing.



   Besar harapan kami agar usaha dan upaya kami ini mendapat respon positif dari masyarakat, pemerintah dan pihak terkait dalam pelestarian sejarah. Akhirnya saya selaku penulis menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya pada seluruh teman dari berbagai komunitas yang mendukung upaya pelestarian Sejarah Budaya Nusantara.

   Mohon maaf bila ada kata dan tindak-tanduk saya, terutama tidak bisa menyebutkan nama satu persatu teman-teman yang hadir, dan atas nama seluruh komunitas yang hadir kami menyampaikan terimakasih. Tak ada beban yang berat bila dipikul bersama-sama...

Rahayu Rahayu Rahayu Sagung Dumadi... Salam Nusantara...


Share:

4 Juli 2017

Jejak Peradaban Ciro Kulon Part 2


   Pagi itu Anggoro 4 Juli 2017, sesuai dengan waktu yang telah disepakati bersama, Arek-arek Watesrowo yang dinahkodai mas Tri Kisnowo Hadi dari Dusun Watesrowo bersama komunitas Garda Wilwatikta bersiap melakukan sebuah observasi tentang dugaan adanya sumur kuno yang telah ditemukan oleh pak Sariali pada tanggal 29 Juni 2017 lalu. Pak Sariali menemukan beberapa bata kuno yang bentuknya melengkung ketika beliau hendak membuat sumuran untuk menyirami tanaman terong di lahan yang disewa mas Sumantri dari warga dusun Ciro kulon. Temuan bata melengkung tersebut kemudian disampaikannya kepada mas Sumantri.



bata lengkung khas sumur kuno
   Bertepatan saat itu mas Tri Kisnowo Hadi sedang berlebaran di Dusun Watesrowo, dan pada kesempatan itupun mas Sumantri menceritakan perihal temuan bata tersebut di sebuah warung kopi. Karena penasaran atas cerita mas Sumantri tersebut mas Tri mengajak mas Sumantri survei ke sawah yang dimaksud di malam itu juga, sekitar jam 2 pagi mereka bertiga menuju persawahan yang terkenal angker itu.

   Akhirnya mereka bertiga menuju tempat dimana sumuran itu dan berhasil mendapatkan ketiga bata kuno tersebut dan mendokumentasikannya. Kemudian saya salah seorang anggota komunitas Garda Wilwatikta pun mendatangi persawahan itu pada hari Jum’at 30 Juni 2017 dan bertemu dengan mas Sumantri, mas Tri serta beberapa orang pemuda lainnya.

   Pada kesempatan itu mas Tri dan mas Sumantri sepakat untuk meminta pak Singo -seorang petani yang kebetulan mengerjakan sawah di timur temuan itu- untuk menggali tanah yang kemungkinan ada sebuah sumur kunonya pada hari Selasa 4 Juni 2017.

galian sumuran pak Sariali di tengah sawah
   Saya (penulis) telah berada ditempat penggalian sekitar jam 06.00 WIB saat itu masih belum ada teman-teman dari Watesrowo. Tak lama kemudian pak Singo datang dari arah utara menuju ke tempat saya berada sambil memanggul sebuah cangkul dengan tangan kirinya membawa tas plastic. Lalu pak Singo segara menyapa saya dan menanyakan keberadaan mas Sumantri, saya jawab “mas Sumantri belum datang pak..”.

persiapan mbah Singo sebelum penggalian
   Lalu pak Singo menyiapkan ubo rampe untuk melakukan ritual sebelum melakukan penggalian dugaan sumur tersebut. Aroma khas pun segera merebak, tak lama kemudian beberapa orang pemuda Watesrowo pun datang termasuk mas Aziz dari Garda Wilwatikta. Setelah berjabat tangan dengan pak Singo mereka segera mengambil dokumentasi.

ritual dari mbah Singo
   Tidak lama kemudian Pak Singo mulai membaca mantra untuk ritual penggalian, setelah itu penggalianpun dilakukan. Kami semua ikut membantu pak Singo melakukan penggalian sampai mas Sumantri datang, ketika mas Sumantri datang beliau bilang kalau bukan sumuran ini yang digali tetapi yang sebelah selatan, jadinya kami semua senyum-senyum melihat kejadian itu akhirnya kamipun menuju ke tempat sumuran yang di selatan dan melakukan penggalian.

mulai penggalian

proses penggalian
   Pelan namun pasti bata lengkung mulai terlihat, pak Singo kami minta untuk berhati-hati karena khawatir cangkulnya akan mengenai batanya. Airpun disedot pakai mesin diesel, pelan-pelan air mulai surut namun karena kondisi tanah yang lengket dan berlumpur cukup menyulitkan proses penggalian. Struktur bata melengkung yang berupa sumur pun mulai terlihat sedikit demi sedikit.

menyedot genangan air dengan mesin diesel
   Penggalianpun terus dilakukan oleh pak Singo dengan menggunakan bawak, sementara kami membantu dengan mengangkat timba yang telah diisi tanah galian oleh pak Singo keatas, begitulah perlahan-lahan penggalian sudah sampai 50 centimeter dari bata paling atas. Pak Singo kami ajak untuk beristirahat dan minum air agar tidak kecapaian. Haripun makin siang, sinar matahari mulai terasa panas menyengat dikulit. Tak berapa lama kemudian mas Tri Kisnowo Hadi datang ke lokasi dengan membawa makanan dan air mineral.

Mbah Singo (kiri), Tri Kisnowo Hadi (kanan)
   Hari makin panas, waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB penggalianpun dilanjutkan setelah pak Singo selesai sarapan. Mas Tri terlibat dalam penggalian dengan membantu mengangkat tanah keatas, penggalian hampir mencapai 100 centimeter dari bata teratas, air tanah mulai merembes di sumur yang menyebabkan penggalian terganggu karena harus menguras terlebih dahulu. Dari tanah-tanah yang diangkat keatas terdapat pula bata lengkung yang utuh maupun yang sudah pecah, juga terdapat beberapa pecahan keramik. Kemungkinan bata-bata lengkung yang ada di dalam sumur tersebut adalah reruntuhan dari bata sumur bagian atas, sedangkan bata yang sudah pecah atau pecahan keramik bisa saja sengaja dilemparkan oleh anak-anak kecil masa itu. Menjelang pukul 11.00 WIB penggalian telah mencapai kedalaman 125 centimeter dari bata paling atas, akhirnya penggalianpun dicukupkan untuk hari ini.

penggalian dalam sumur
   Dari kronologi penggalian Sumur kuno ini kami bisa mencatat kalau ketebalan bata lengkung ini rata-rata 8 centimeter, semakin kebawah semakin tebal hingga mencapai 9 centimeter. Disamping bata-bata lengkung ada juga ditemukan pecahan bata kuno dengan ukuran 30 cm x 20 cm dan tebal 8 cm.

kedalaman sumur
   Begitulah observasi dan penggalian dugaan sumur kuno yang ditemukan di Dusun Ciro Kulon Desa Bakung Temenggungan Kecamatan Balongbendo Sidoarjo. Setelah penggalian selesai datanglah seorang wartawan dari “Sidoarjo Terkini” untuk meliput kegiatan hari ini. Temuan sumur kuno ini tentunya bukan temuan tunggal di wilayah ini, karena dari informasi warga setempat setidaknya ada satu sumur kuno lagi di pemukiman Ciro Kulon yang masih aktif sampai sekarang hanya kondisi sekarang ditutup sebuah papan dan di dalam rumah warga.

   Dari catatan kami yang pertama mengenai jejak peradaban Ciro Kulon yang lalu memang hanya mengulas jejak bata kuno yang ada di pemakaman umumnya saja, tetapi dengan adanya temuan baru ini tentu akan lebih memperkuat dugaan kami tentang adanya jejak pemukiman kuno di Dusun Ciro Kulon ini umumnya Desa Bakung Temenggungan. Kalaupun kami menyebutnya sebagai sumur Jenggala bukan karena apa-apa tetapi semata-mata karena wilayah Kabupaten Sidoarjo adalah bekas wilayah Jenggala atau Kahuripan, tentu itu bisa saja terlalu naif tetapi tentu saja itu perlu diluruskan oleh pihak-pihak yang berwenang dengan berbagai riset.

>>>baca catatan Ciro Kulon dan Ciro Wetan
Sumantri (kiri), Agus Subandriyo (kanan)

   Selanjutnya kami dari komunitas Garda Wilwatikta menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya pada mas Tri Kisnowo Hadi dan kawan-kawan dari Watesrowo, mas Sumantri, pak Singo dan seluruh pihak yang terkait. Tiada yang berat bila dipikul bersama-sama, tiada gading yang tak retak. maafkan bila ada tutur kata kami yang tidak pantas... Salam Nusantara..

Share:
Komunitas Pecinta Sejarah dan Budaya - GARDA WILWATIKTA Tado Singkalan - "Menapak Jejak, Mematri Semangat, Mengunggah dan Melestarikan Peradaban Nusantara"

Garda Wilwatikta

Labels