31 Agustus 2018
Situs Watesari dalam khasanah Jejak Peradaban Kuno
Admin21.03Balongbendo, Jejak Peradaban, Krian, Mojopahit, Observasi, Sidoarjo, Situs, Temuan, Watesari
Tidak ada komentar
Jejak peradaban purba kembali ditemukan dikawasan Balongbendo, kali ini ditemukan di Desa Watesari tepatnya berada di punden Mbah Sukirman yang terletak di tengah lahan tebu. Temuan tersebut diawali dengan adanya kerja bhakti warga setempat di punden tersebut dengan tujuan membuat jalan ke punden, hal ini dilakukan karena selama ini jalannya tidak rata dan sulit dilewati sepeda motor.
Ketika kerja bhakti dilakukan oleh warga dengan menggali tanah di timur makam mereka menemukan struktur pondasi bata yang membujur dari utara ke selatan demikian penuturan Suliyono seorang warga, sebelumnya juga ditemukan sebuah sumur kuno di barat makam.
Atas temuan ini warga melaporkannya pada kepala desa Watesari Bapak Sukisno. Dan atas kesepakatan antara pemerintah desa dan warga, diadakan kembali kerja bhakti untuk memastikan sejauh mana temuan tersebut. Setelah melakukan kerja bhakti di punden Mbah Sukirman ditemukan beberapa artefak lainnya, seperti koin kuno asing, pecahan tembikar dan gerabah. Semua temuan itu untuk sementara ini dikumpulkan di salah satu sudut makam.
Atas saran dari petinggi Siswahyono mereka menghubungi Laskar Nusantara untuk dimintai pendapat tentang temuan tersebut. Setelah diadakan beberapa pertemuan dengan Laskar Nusantara akhirnya Kepala Desa Watesari bapak Sukisno mengirim surat laporan atas temuan dugaan situs kepada dinas terkait di kabupaten Sidoarjo pada tanggal 23 Agustus 2018.
Kemudian pada tanggal 25 Agustus 2018 hari Sabtu, pemerintah Desa Watesari mengundang media cetak, elektronik dan televisi untuk meliput temuan di punden Mbah Sukirman. Prof. Amien Widodo dari ITS Surabaya menyempatkan diri untuk hadir diacara tersebut sambil melakukan survey di beberapa titik dugaan situs di Desa Watesari.
Menurut Pak Amien ini kemungkinan pihak ITS akan melakukan pengujian Geo-listrik dan Geo-radar bulan September mendatang untuk membantu melakukan penelusuran persebaran peradaban di Desa Watesari ini.
Temuan di Desa Watesari ini bukanlah temuan tunggal baik di Desa Watesari sendiri ataupun di kawasan desa-desa sekitarnya. Di Desa Watesari sendiri setidaknya sudah diketahui 15 titik lebih terdapat sumur kuno yang rata-rata berbentuk bulat dan beberapa diantaranya masih terlihat dengan jelas.
Disamping itu jejak peradaban juga terdapat di punden Mbah Waru, punden Krapyak dan di pemakaman Umum Watesari dan beberapa titik di Dusun Jatisari. Demikian pula beberapa artefak dari batu andesit juga ditemukan dari beberapa titik berupa umpak, balok andesit, lumpang dan lain sebagainya yang sebagian telah diamankan di Balai Desa Watesari.
Desa Watesari terletak di sebelah timur Desa Suwaluh yang beberapa tahun yang silam diketahui terdapat beberapa situs disana, salah satunya adalah situs Pelawangan yang cakupannya cukup luas. Juga sebelah utara Desa Watesari terdapat Desa Jabaran yang juga ditemukan jejak peradaban disana. Demikian pula di sebelah timur terdapat Desa Seketi terdapat pula jejak peradabannya hingga ke Desa Tropodo Kecamatan Krian dimana disana tepatnya di Dusun Klagen terdapat Prasasti Kamalagian (prasasti era Airlangga). Desa Watesari juga dekat pula dengan Desa Kraton dan Desa Bakalan Wringinpitu, sehingga bila disimpulkan kemungkinan Desa Watesari termasuk dalam sebuah kawasan pemukiman padat kuno yang bisa saja itu adalah sebuah pusat keramaian atau kota dimasa lalu. Namun tentu saja hal itu baru dugaan awal saja yang perlu adanya penelitian dan pembuktian lebih lanjut.
Demikianlah yang bisa kami tuliskan pada kesempatan ini, kurang lebihnya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Salam Nusantaraaa ...
28 Juli 2018
Pentingnya Pencatatan Sumber-sumber Klasik Nusantara dalam Menjawab Tantangan Zaman
Admin20.57Diskusi Jejak Peradaban Maritim ditepian Kali Brantas, Ruang Rektorat ITS Surabaya
Tidak ada komentar
Nusantara adalah sebuah kawasan yang paling awal peradabannya di dunia, berbagai penelitian akhir-akhir ini mengarah kesana, seperti ditemukan lukisan di dinding-dinding goa di Maros Sulawesi yang usianya diperkirakan para ahli telah mencapai 40.000 tahun.
Jauh sebelum itu dugaan tentang tuanya peradaban Nusantara itu bisa dilihat dari temuan manusia purba Pithecantroupus Erectus di lembah sungai Brantas tepatnya sekarang di Desa Kepuh Klagen Kecamatan Wringinanom Gresik yang diperkirakan berusia paling tua di dunia yaitu 1,9 juta tahun.
Berdasarkan itu tentu disinilah munculnya peradaban dunia, dari Nusantara kemudian peradaban itu bergerak ke seluruh belahan dunia. Tentunya masih banyak kekayaan-kekayaan peradaban itu yang belum terunggah karena berbagai bencana alam yang menenggelamkannya.
Pada hari Kamis 26 Juli 2018 di ruang Rektorat Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya diadakan diskusi tentang Jejak Peradaban Maritim di tepian Kali Brantas yang point utamanya adalah pemaparan hasil Geo-listrik dan Geo-radar di dua tempat yang telah dilakukan oleh mahasiswa geofisika di Desa Terung Wetan dan di Desa Kedung Bocok pada bulan Maret dan Mei 2018.
Diskusi tersebut menampilkan 5 orang narasumber dari berbagai elemen yaitu:
- DR. Ir. Tukul Rameyo Adi M.Sc (Staf Ahli Kementrian Kemaritiman)
- Dr. R. Cecep Eka Permana (Arkeolog UI)
- Drs. Dwi Cahyono M.Si (Arkeolog Malang)
- Firman Syaifuddin S.Si, M.T (Dosen Geofisika ITS)
- Tri Kisnowo Hadi (Laskar Nusantara 6 komunitas)
Tepat pukul 08.00 WIB acara dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya oleh semua hadirin. Selanjutnya Bapak Profesor. Amien Widodo memberikan sambutan terkait kronologi alasan digelarnya diskusi hari itu yang intinya menjalin komunikasi dari berbagai elemen yang ada dalam menguak jejak-jejak peradaban Maritim di tepian Kali Brantas secara ringkas. Selanjutnya acara dibuka secara resmi oleh perwakilan Rektor yaitu Bapak Muhamad Jaelani, ST., M.Sc, Ph.D
Acara diskusi yang dipandu bapak Juan Pandu Gya Nur Rochman, S.Si.,M.T ini segera dimulai dengan pemaparan dari narasumber pertama yaitu DR. Ir. Tukul Rameyo Adi M.Sc Staff Ahli kementrian Kemaritiman pusat yang menyampaikan presentasinya dengan poin-poin sebagai berikut:
- Pembangunan budaya yang dikembangkan harus mempunyai dampak pada budaya itu sendiri.
- Budaya sebagai pondasi pembangunan.
- Penulisan Literasi budaya, Kodifikasi dan memahami kembali mengaktualisasi teknologi / knowledge local wisdom budaya sebagai pengantar budaya.
- Kegiatan Budaya atau Festival budaya harus berdasarkan Literasi.
- Hasil penelitian (Indep) menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi yang berbasis pada ekonomi kreatif.
- Budaya harus menjadi jatidiri bangsa.
- Literasi dari berbagai khazanah keanekaragaman budaya bangsa yang ditulis dengan berbagai media, buku, video sebagai sumber inovasi.
- Pembangunan dan pengembangan wisata yang privasi bukan massal.
- Penulisan Literasi yang detail dari semua keanekaragaman budaya bangsa.
Selanjutnya Narasumber berikutya dari Universitas Indonesia yaitu seorang arkeolog senior Dr. R. Cecep Eka Permana yang menyampaikan secara ringkas tentang Peradaban Nusantara yang dianggap paling tua oleh para peneliti akhir-akhir ini dengan ditemukannya lukisan-lukisan di dinding goa di daerah Maros Sulawesi. Pak Cecep ini juga mengulas gambar-gambar perahu yang terlukis di dinding goa di berbagai tempat di Indonesia yang mengindikasikan adanya teknologi kapal pada masa itu di Nusantara. Dari pemaparan Pak Cecep ini dapat ditarik 2 poin yaitu :
- Penelitian bisa berdasarkan kesamaan adat, budaya, bahasa dan kesamaan lainnya.
- Rendahnya kebanggaan masyarakat terhadap budaya masa lalu.
Memang poin nomor 2 diatas sangat kita rasakan pada masyarakat kita tentang rendahnya perhatian masyarakat, pemerintah dan berbagai pihak terhadap budaya masa lalu kita, seolah-olah sudah tertanam dalam benak kita kalau budaya Nusantara itu kuno dan tidak dapat menjawab tantangan zaman, tentu saja anggapan tersebut adalah salah besar.
Dalam forum-forum ini dan harus dilanjutkan dengan penelitian-penelitian nyata yang akan menjawab dan membuktikan kalau sesungguhnya budaya kita sudah tinggi tingkatannya dan selalu survive dengan kondisi zaman.
Selanjutnya Bapak Drs. Dwi Cahyono M.Si Arkeolog dari Malang menyampaikan presentasinya tentang jejak-jejak Maritim sungai Brantas dan Bengawan Brantas. Dimulai dari istilah Maritim yang berasal dari bahasa asing yang bermakna Perairan, dalam khazanah sumber literasi prasasti terdapat kata-kata Jala yang berarti air. Dalam sebuah prasasti disebutkan nama Jalaadri, jala artinya air, adri atau adi artinya luas. Dari pemaparan Pak Dwi ini adalah beberapa poin yang bisa kita tuliskan yaitu:
- Sumber literasi arkelogi Maritim bisa dikuak dari nama topomini desa atau sungai (karena sangat dimungkinkan kalau aliran sungai sudah berubah atau hilang)
- Literasi Prasasti yang ada yaitu Prasasti Canggu (Naditirapradeca Anambangi) dan prasasti-prasati yang terkait dengan itu.
Selanjutnya Dosen Geofisika ITS yaitu Bapak Firman Syaifuddin S.Si, M.T memaparkan presentasinya tentang hasil Geo-listrik dan Geo-radar di dua desa yaitu Desa Terung Wetan dan Desa Kedung Bocok yang diawali dari data-data geologi pantai jawa timur sebelum tahun 1200 M, 1800 M dan sampai sekarang yang terjadi banyak perubahan pada garis pantainya.
![]() |
| Situs Kadipaten Terung |
![]() |
| Situs Alas Trik |
Dalam pemaparan hasil Geo-listrik dan Geo-radar di Terung Wetan khususnya di sekitar situs kadipaten Trung terdapat pola-pola struktur yang diduga ada kaitannya dengan situs yang ada. Juga dari hasil sementara dapat duga lebar sungai Bengawan Trung ini dulunya sekitar 320 meter, jauh lebih lebar dari kondisi sungai sekarang.
Dalam pemaparan hasil Geo-listrik dan Geo-radar di Kedung Bocok team ITS kurang maksimal dalam pengukuran di makam klinter, sehingga datanya tidak keluar tetapi di beberapa titik khususnya di utara makam terdapat pola struktur yang terpendam.
Selanjutnya moderator menampilkan narasumber terakhir yaitu perwakilan dari Laskar Nusantara 6 Komunitas yaitu Tri Kisnowo Hadi. Tri menyampaikan terimakasih yang tidak terhingga kepada pihak ITS yang mengundang komunitas penggiat sejarah dan budaya di Sidoarjo ini dan menceritakan kronologi perjalanan Laskar Nusantara dari awal hingga bisa hadir di diskusi pada hari itu. Yang intinya mengajak semua pihak untuk melestarikan sejarah dan budaya kita, serta meminta dukungan dari semua pihak untuk mendorong terbitnya Peraturan Daerah Tentang Cagar Budaya di kabupaten Sidoarjo yang memiliki banyak situs tetapi belum terlindungi secara layak.
Demikianlah yang bisa kami haturkan, kurang lebihnya kami meminta maaf yang sebesar-besarnya.
Salam Nusantara...
21 Juni 2018
Cerita Rakyat sebagai Sumber Sejarah dan Kekayaan Khazanah Budaya Bangsa
Cerita rakyat sebenarnya adalah ingatan masyarakat dari masa ke masa tentang sebuah peristiwa di masa silam, yang kisah maupun tokohnya bisa saja bertambah atau berkurang sesuai dengan kemampuan seseorang mengkisahkannya kembali. Tentu saja hal ini sangat tergantung pengetahuan sang penuturnya, karena tidak semua orang mampu menguraikan secara benar kisah-kisah yang didengarnya, demikian pula penutur sebelumnya. Dari sini sebuah kisah itu akan mengalami perubahan.
Disamping proses perubahan isi cerita dan tokoh, ada faktor lain yang berpotensi merubahnya yaitu faktor kepentingan. Faktor kepentingan ini dinilai paling dominan mempengaruhi isi cerita rakyat supaya berubah dari kisah aslinya.
Tentu saja banyak pihak yang terlibat dalam kasus ini dalam prosesnya, contoh dalam zaman kerajaan maupun masa kolonial, demi merusak dan mengkaburkan kenyataan yang terjadi dimasa itu, banyak cerita rakyat, legenda dan mitos yang dirubah sesuai dengan kemauan yang berkuasa sehingga lambat-laun semuanya semakin jauh dari kebenaran dan cenderung tahayul.
Tetapi tetap ada cerita rakyat, legenda dan mitos yang setidaknya bisa menjadi sumber sekunder sejarah disuatu daerah, tetapi harus dikaji dan diperbandingkan dengan sumber-sumber lain yang ada.
Untuk itu kita harus bisa memilah-milahnya secara adil dan transparan melalui serangkaian penelitian yang teliti.
Cerita rakyat, legenda dan mitos adalah kekayaan khazanah budaya bangsa yang bukan saja harus dilestarikan tetapi juga harus bisa dianalogikan secara ilmiah sebagai bekal mengarungi kehidupan berbangsa dan bernegara dimasa kini maupun dimasa depan. Cerita rakyat, legenda dan mitos hakikatnya adalah kaca benggala dari masa silam...
Salam Nusantara...
19 Juni 2018
Menguak Tabir Misteri Peradaban dari nama Tempat
Dalam kehidupan sehari-hari kita pasti telah akrab dengan nama-nama Tempat disekitar lingkungan kita, seperti nama dusun, desa, kota, sungai dan lain-lain. Tentu saja kita selama ini tidak terlalu peduli akan nama-nama tersebut karena sepertinya itu hanya sekedar nama belaka. Ternyata tidak demikian, nama-nama tersebut bukanlah sekedar nama saja tetapi ada latar belakang dibalik penamaan tersebut, contohnya nama Kedung pada sebuah desa atau dusun, Kedung dalam arti bahasa Jawa adalah sebuah tempat yang dalam disebuah sungai, biasanya di sebelah sungai. Nah dari penamaan Kedung tersebut dapat disimpulkan kalau di dusun tersebut dulunya ada sebuah sungai yang memiliki kedung yang luas.





















